Minggu, 14 April 2013

Misteri Sekolah Bagus Namun Mahal

Sekolah ”Bagus’ di Indonesia Harganya Selangit

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhzEuyV0by7Yqt-FjPdk0OZwyV6ZML5QdZSAkPWKdvILC7zT3x_a05f8_bz9sBEQuB3nuwYX0hvX9T2hqqB7MXnNc7JQmR_d1iyjOeeWMlSc2WD74a1Pd6EjM8eipdXWiw8lmhMf3kGuoo/s1600/Depressed4.jpg

Ingin kembali ke tanah air namun ditampar kebimbangan luar biasa karena tidak yakin dengan sisitem pendidikan Indonesia saat ini. Kenapa sekolah yang katanya ‘bagus’ itu mahal sekali? Ada apa dengan sistem pendidikan di Indonesia? Seharusnya anak-anak di Indonesia tidak perlu membayar pendidikan berkualitas. Itu adalah hak anak bangsa. Dan kewajiban negara memenuhi pendidikan mereka. Seharusnya tidak perlu ada label sekolah ‘bagus’ dan ‘tak bagus’ karena semua sekolah harusnya dijamin pemerintah kualitasnya. Apalagi hingga ada label sekolah ‘plus’, SBI(Sekolah Bertaraf Internasional) dan RSBI ( Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional) yang ketika saya cakar ‘google’ uang pangkal masuk dan uang sekolahnya membuat mata saya keluar. Bukankah Indonesia menganut ideologi Pancasila? Yang di dalam butir silanya, menyatakan Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia? Keadilan apa? Bila di dalam mengenyam pendidikan saja ada jurang yang curam antara ‘orang berduit’ dengan yang ‘tidak berduit’. Saya jadi bingung. Atau memang iya, pemerintah tidak mau bingung dengan tugasnya sehingga membiarkan rakyat macam saya yang bingung?! Kalau pada sekolah yang dicap ‘bagus’ biaya sekolahnya hingga puluhan jutaan, maka SEKOLAH DI INDONESIA ADALAH SEKOLAH YANG TERMAHAL DI DUNIA.
Di negara mana pun ada sekolah Internasional. Misalnya di Jakarta ada DIS (Deutsch Inernational School)–Sekolah Jerman Internasional. Di Jerman sendiri terutama di kota besar yang banyak pekerja asingnya, ada sekolah internasional, misalnya ‘Frankfurt International School’. Sekolah internasional tentu saja bertujuan memudahkan seorang anak yang berasal dari negaral lain mengakses pendidikan di sebuah negara yang baru ditempatinya. Ini juga niat saya, bila pindah ke Indonesia menyekolahkan anak saya di DIS tetapi masih mempertimbangkan banyak hal termasuk uang sekolah yang mencapai 64 juta lebih setahun. Tentu angka ini fantastis buat kantong saya. Dan biasanya biaya sekolah internasional itu ditanggung oleh perusahaan tempat orangtua si anak bekerja. Sayangnya, kepulangan ke Indonesia tidak dalam rangka kerja, tapi pulang kampung he..he…
Lalu saya mengobok-ngobok ‘google’ mencari sekolah-sekolah yang katanya ‘bagus’. Luar biasa, biaya sekolah yang ‘bagus’ itu langsung membuat hidung saya memanjang. Bahkan hanya untuk uang pangkal saja, ada yang mencapai 75 juta. Dan yang membuat saya bingung, ada sekolah nasional plus, Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) dan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI). Saya cari tahu keunggulan dari sekolah yang menempelkan ‘cap’ demikian. Saya kok jadi tidak teryakini. Kualitas sekolah tidak ditentukan oleh kemampuan anak-anak berbahasa Inggris atau Arab. Bukan itu. Sekolah adalah tempat anak-anak menimba ilmu, memahami kehidupan bersosialisasi, membentuk kepribadian dan jati diri, mengoptimalkan kemampuan, mengembangkan ide dan kreatifitas, menumbuhkan rasa kemanusiaan, berani menampilkan dirinya dan pandangannya.
Sekolah bukan hanya fisik yang megah tetapi tempat kedua setelah keluarga di rumah. Guru adalah orangtua kedua, sahabat adalah saudara ’seperjuangan’ dalam semangat meraih sesuat yang belum diketahui. Begitulah yang saya tahu tentang sekolah di Jerman. Suatu hari anak saya sakit, dan karena cuek, saya baru akan mau menelepon sekolahnya pada pukul 9. Tapi baru pukul 08.15 petugas sekolah sudah menelepon terlebih dulu, mengabarkan anak saya tidak ada di ruang kelasnya. Saya tertegun. Di buku ‘catatan tugas’ sekali-sekali ada catatan dari gurunya mengenai pr atau sesuatu tentang anak saya. Anak saya akrab dengan guru-gurunya. Tiap kali bertemu walau bukan di sekolah, mereka mau saling melepas canda. Karena sekolah juga adalah rumah, anak harus merasa nyaman di ruang kelasnya, pada musim panas mereka boleh mengenakan sandal he..he.. (hal yang tabu di Indonesia, sampai kaki keriput dalam sepatu).
Pada pertemuan antara orang tua, guru dan kepala sekolah. Tidak ada istilah basa-basi, semua dijelaskan secara gamblang mengenai prestasi dan kendala anak. Satu hal lagi, saya tidak bisa menentukan anak saya bersekolah dimana saya mau. Semua ada aturannya. Sesuai dengan tempat tinggal, maka anak saya bersekolah di sekolah tempat saya tinggal, tidak bisa di daerah lain. Pemerintah setempat sudah menyediakan segalanya, setahun sebelum seorang anak si A memasuki bangku sekolah. Selama setahun persiapan memasuki bangku sekolah di TK, pihak TK dan sekolah mengadakan observasi mengenai pola tingkah laku anak, kemampuan motorik dan kecerdasan anak. Evaluasi ini, tentu untuk pengamatan lebih lanjut ketika anak menduduki bangkunya di kelas pertama. Sekolah di Indonesia, kok saya malah merasa terlalu liberal. Siapa saja boleh memilih sekolah apa saja tergantung kemampuan ekonomi dan kemampuan anak?! Tapi saya yakin, pasti ada sekolah yang bagus di Indonesia, yang tidak hanya menggaungkan prestise tetapi prestasi. Sekolah yang memiliki guru-guru berhati samudera.
Bandingkan dengan sekolah di Eropah. Yang Paling saya tahu di Jerman (karena sekarang saya tinggal di Jerman). Negara yang menganut ideologi liberal. Tetapi dalam beberapa aplikasi tatanana kehidupan bermasyarakat justru sosialis bahkan komunis. Termasuk sistem pendidikan. Semua kualitas sekolah di setiap daerah dan tempat sama. Tidak ada cap ‘taraf internasional’. Kecuali memang sekolah internasional yang sebenarnya untuk ‘anak internasional’ (anak dari negara lain, yang orang tuanya bertugas di Jerman). Setiap anak wajib sekolah. Kewajiban ini dipertanggungjawabakan pemerintah. Dengan memberi pendidikan gratis. Artinya memang gratis. Sampai saat ini, saya belum mengeluarkan sepeser pun yang berkaitan dengan pendidikan anak saya dari mulai kebutuhan buku bacaan hingga buku tulis, alat-alat praktek di sekolah dan lainnya. Andai kata, saya jadi milioner sekalipun, di Jerman saya tidak bisa sok menyekolahkan anak saya di tempat ‘hebat’. Karena memang tidak ada tempatnya. Sekali lagi semua kualitas sekolah seragam. Saya juga tidak bisa menyekolahkan anak saya di sekolah internasional tanpa alasan yang tepat meski saya mampu membayar untuk sekolah itu.
Begitu otoriterkah pemerintah terhadap pendidikan anak saya? Padahal saya tinggal di negara yang mengagungkan kebebasan. Bisa jadi iya. Tapi saya fine-fine aja. Karena memang itu demi kebaikan setiap anak. Jelas pemerintah Jerman sibuk mengatur nasib pendidikan setiap anak di negaranya. Anak-anak itu adalah anak-anak mereka. Yang kelak meneruskan nasib bangsa dan negara. Wajar kalau mereka perduli. Lalu kenapa di Indonesia justru pemerintah meliberalkan sistem pendidikannya? Siapa yang kaya. Yeah siapa yang kaya maka dia dapat! Mirisnya, juga untuk menikmati pendidikan.
sumber: http://edukasi.kompasiana.com/2013/04/10/sekolah-bagus-di-indonesia-harganya-selangit-549674.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

1 SHARE DARI ANDA SANGAT BERHARGA BUAT BANYAK ORANG, SAMPAIKANLAH WALAU 1 AYAT, SEMOGA BERMANFAAT.

Jika anda merasa artikel diatas berguna dan bermanfaat bagi banyak orang, silahkan share / bagikan artikel diatas ke banyak orang lewat facebook / twitter anda.
Semoga anda mendapatkan pahala setelah membagikan artikel diatas, semoga setelah anda bagikan banyak bermanfaat buat semua orang, amin.

( Sampaikanlah walau satu ayat, untuk kebaikan kita semua )

Salah satu cara mencari pahala lewat internet adalah dengan menyebarluaskan artikel, situs/blog dan segala kebaikan yang diperoleh darinya kepada orang lain. Misalnya adalah kepada keluarga, sahabat, rekan kerja dan sebagainya.

Apa Pendapat Anda Tentang Artikel Diatas
Silahkan gunakan profile ( Anonymous ) jika anda tidak mempunyai Account untuk komentar

Jika anda ingin berpartisipasi ikut menulis dalam blog ini atau ingin mengirim hasil karya tulisan anda, membagikan informasi yang bermanfaat buat banyak orang lewat tulisan anda silahkan kirim tulisan anda ke email saya bagindaery@gmail.com
Tulisan anda akan dilihat dan dibaca oleh ribuan orang tiap harinya setelah anda mengirimkannya ke bagindaery@gmail.com