Sabtu, 23 Maret 2013

Mendalami Tentang Wasilah dan Mursyid (Bagian 1 dan 2)

http://anung.sunan-ampel.ac.id/wp-content/uploads/2010/04/heaven-sky-bright-light.jpg
Rasulullah SAW di utus ke dunia bukan sekedar menyampaikan kebenaran dari sisi Allah atau hanya menyampaikan hukum-hukum yang dibolehkan atau di larang oleh Allah. Tujuan lebih hakiki dari keberadaan Nabi adalah agar manusia bisa mengenal Allah dan merasakan kehadiran-Nya dalam setiap saat. Rasul adalah pembawa wasilah dari sisi Allah dan melalui wasilah itulah manusia bisa berkomunikasi dengan Allah. Surat Al-Maidah 35 mewajibkan seluruh orang beriman untuk mencari wasilah agar menemukan kemenangan di dunia dan akhirat.
Wasilah bukanlah amal ibadah (shalat, puasa, zakat dll) seperti yang ditafsirkan secara syariat, karena seluruh amal ibadah hanyalah bentuk dari proses penyembahan terhadap Allah. Shalat, Puasa dan lain-lain hanya akan menjari ritual hampa, menjadi tradisi dan budaya saja kalau tidak mempunyai ruh dari ibadah itu sendiri. Ibadah mempunyai unsur zahiriah dan bathiniah dan keduanya harus ada agar ibadah diterima disisi Allah. Secara zahir anggota badan kita harus mengikuti aturan-aturan yang telah disampaikan Allah kepada Rasul-Nya tanpa melebihkan dan menguranginya. Aturan itu sudah menjadi standar sebagai contoh bentuk gerakan shalat, jumlah rakaat shalat, aturan-aturan puasa, itu semua sudah baku dan tidak bisa ditambah atau dikurangi. Disamping aturan aspek zahir, ibadah memiliki aspek bathin dan ini merupakan hal yang sangat pokok.
Fisik manusia harus diajarkan cara menyebut nama Allah begitu pula rohani manusia, harus diajarkan cara menyebut nama Allah. Di dunia ini sangat banyak orang yang bisa mengajarkan cara fisik manusia untuk menyebut nama Allah, dalam hal ini kita tidak kekurangan Guru, akan tetapi Guru yang bisa mengajarkan rohani kita untuk menyebut nama Allah itu sangat langka. Fisik manusia bisa diajarkan oleh Guru fisik, gerakan shalat, aturan puasa dan lain sebagainya, sementara rohani manusia harus diajarkan oleh rohani pula. Tidak mungkin rohani manusia diajarkan oleh Guru Jasmani, keduanya mempunyai unsur dan sifat yang berbeda. Rohani manusia diajarkan oleh rohani Rasulullah SAW yang telah berisi Kalimah Allah yang berasal dari sisi Allah. Unsur Kalimah Allah yang ada dalam diri Muhammad bin Abdullah inilah yang menyebabkan pangkat Beliau bisa menjadi Rasul. Nur Allah yang diberikan kepada Rasul dan orang-orang yang dikehendaki-Nya itulah yang kemudian disebut sebagai Wasilah.
Disinilah sebenarnya letak perbedaan antara pengamal tarekat/tasawuf dengan orang yang hanya memahami Islam secara syariat saja. Pengamal tarekat untuk bisa menapaki jalan berguru terlebih dulu memahami dan menjalankan aturan-aturan Allah yang kita sebut syariat dan aturan itu akan tetap dilaksanakan seterusnya. Pelaksanaan syariat oleh pengamal tarekat tidak lagi hanya sekedar memenuhi kewajiban ibadah akan tetapi mereka sudah masuk kepada alam hakikat dari ibadah itu sendiri.
Untuk bisa menyelami samudera hakikat yang maha luas, diperlukan seorang pembimbing yang ahli dibidangnya agar tidak tersesat dan pembimbing ini dikenal sebagai Guru Mursyid.
Dalam khazanah ilmu tasawuf Guru Mursyid mempunyai peranan besar dalam membentuk hierarki manusia untuk sampai ke tingkat realisasi tertinggi dalam menempuh perjalanan spiritual, karena dimensi Al-Qur’an telah tertanam dalam dirinya. Hanya saja persoalan ini jarang dikupas dan diteliti lebih dalam sehingga masih menjadi sebuah misteri dalam kehidupan manusia. Bahkan pemuka agama sekalipun banyak yang belum mengetahuinya. Guru Mursyid hanya dimengerti oleh hati yang terbuka dan jiwa yang telah disucikan.
Predikat mulia yang diberikan secara khusus oleh Allah kepada manusia pilihan ini sebenarnya secara gambling telah disebutkan dalam Al-Qur’an surah Al-Kahfi ayat 17 dengan sebutan “Waliyam Mursyida” artinya wali yang mursyid. Kata “Wali” di sini dalam versi kaum Sufi diartikan sebagai figure manusia suci, pemimpin rohani, manusia yang sangat taat beribadah kepada Allah dan Rasul-Nya. Sedangkan kata “Mursyid” diartikan sebagai nul Ilahi, cahaya Ilahi, atau energy Ilahi.
Cahaya di atas cahaya, Tuhan akan menuntun kepada cahaya-Nya, siapa yang dikehendaki-Nya” (QS. An-Nur : 35).
Jadi hakikat Mursyid itu tidak berwujud, akan tetapi setelah masuk ke dalam rumah wujud berulah ia memiliki wujud. Maka nur Ilahi atau energi Ilahi yang telah mewujud dlam rohani sang guru itulah yang disebut dengan Waliyam Mursyida. Dan Mursyid itu tidak banyak, yang banyak adalah badan ragawi yang disinggahi, hanya penampakan fisiknya. Ibarat pancaran sinar matahari yang masuk ke berbagai lobang, kelihatan banyak tetapi hakikatya hanya satu, sinar itu-itu juga.
Kata Nur (cahaya) yang bermakna mursyid, tidak diartikan sebagai cahaya dalam pegertian bahasa. Mursyid sendiri berasal dari kata “Irsyad” yang artinya petunjuk. Petunjuk yang bersumber dari nur Ilahi. Jika kata “Irsyad” ditambahkan “mim” di depannya maka petunjuk tersebut terdapat pada sesuatu (dimikili oleh sesuatu). Maka “mim” harus diartikan sebagai seseorang yang memegang kualitas irsyad.
Karena kata Waliyam Mursyida dalam surah al-Kahfi ayat 17 secara umum diartikan sebagai “pemimpin” maka di zaman sekarang pemimpin organisasi yang tidak ada hubungan dengan tasawuf  diberi gelar “mursyid” atau ada orang yang nama pribadinya itu mursyid. Karena mursyid hakikatnya adalah nur Allah, maka orang yang kita sebut Guru Mursyid itu benar-benar mempunyai kualitas sempurna sebagai pembawa wasilah dari Allah berubah Nur Allah bukan sekedar gelar saja.
Begitu langkanya Guru Mursyid yang benar-benar memenuhi kualifikasi sebagai mursyid sehingga imam al-Ghazali mengatakan, “Menemukan Guru Mursyid itu lebih mudah menemukan sebatang jarum yang disembunyikan di padang pasir yang gelap gulita”.
Pembahasan yang mendalam tentang Guru Mursyid diperlukan untuk memberikan keyakinan kepada pengamal tarekat khususnya betapa luar biasa orang-orang yang telah memiliki Guru Mursyid yang berkualitas sehingga hidup mereka benar-benar terbimbing ke jalan Allah SWT sehingga mereka selalu bersyukur kepada Allah dengan jalan berkhidmat kepada Guru nya dengan penuh adab dan cinta.
Saya sudahi dulu tulisan ini dan saya rencanakan tulisan ini akan dibuat bersambung mengupas lagi secara lebih mendalam tentang Guru Mursyid dan Wasilah agar kita semua bisa lebih memahaminya. Menyambut malam penuh berkah ini, mudah-mudahan tulisan ini menambah semangat kepada sahabat-sahabat sekalian yang akan mengikuti “tawajuh” setiap malam jum’at untuk menjolok karunia Allah sebagai kunci kemenangan dunia dan akhirat.
Wasalam!


http://4.bp.blogspot.com/-056TVgUP778/UEX_BsyOLvI/AAAAAAAABvM/mUZIbdv7zAM/s1600/jalan-kebenaran-750504.jpg


Bagian:2
 
Dalam tulisan Lebih Dalam Tentang Mursyid dan Wasilah telah kita uraikan bahwa Guru Mursyid pada hakikatnya adalah nur (cahaya) dan pengertian nur disini adalah “irsyad” petunjuk kepada Allah SWT. Jadi definisi cahaya dalam hal ini adalah akibat balik dari sesuatu. Nur yang dimaksud disini bukan seperti cahaya yang kita lihat dengan panca indera lahir, melainkan nur yang relatif abstrak yang mempunyai kekuatan dan getaran tak terhingga. Dengan kekuatan nur itu manusia yang menempuh jalan spiritual di bawah bimbingan guru mursyid akan mencapai tingkat ma’rifat (kenal) dengan Allah Ta’ala. Dengan nur itu pula mereka dapat mengetahui hakikat dari sesuatu hal.
Sering muncul pertanyaan bagaimana supaya kehebatan nur (energi Ilahi) tersebut bisa membawa peranan dalam kehidupan manusia terutama dalam menghampirkan diri kepada Allah SWT?. Sebuah pertanyaan yang cukup baik. Nur itu harus dimasukkan ke dalam jiwa sampai ia meragasukma di dalamnya, bukan dimasukkan ke dalam akal atau pikiran. Kenapa? Alasan logisnya karena akal manusia bersifat lupa dan lalai dalam hidupnya.
Bila energy Ilahi tersebut masuk kemudian meragasukma di dalam jiwa, maka ia akan menjadi bagian dari jiwa atau sukma itu sendiri. Karena sukma mempunyai dimensi yang lebih tinggi dari pada akal dan pikiran. Bila nur itu dimasukkan ke dalam akal, jangankan bisa terbawa mati, di dalam tidur pun sudah pasti terlupakan. Akal termasuk katagori jasmani, maka ia tidak mempunyai kemampuan untuk menjangkau rahasia ketuhanan yang ada di alam mahahalus – alam metafisika. Derajat alam gaib dengan alam fisik terdapat perbedaan yang cukup besar.
Begitu pula meragasukmakan energi Ilahi di dalam diri, tentu tidak semudah yang dibayangkan, ada metodologinya. Metodologi itu ada dalam Tarekatullah yang haq dan harus melalui petunjuk seorang guru yang mursyid. Setelah itu barulah manusia dapat ber-tajalli dengan Tuhan, bukan hulul (menyatu diri). Mahatinggi Allah SWT dari menyatu dengan sesuatu yang selain dia.
Mengapa diperlukan petunjuk dari seorang guru mursyid? Jelas, karena guru mursyid adalah khalifah Rasul, sekaligus sebagai terompet Rasul, yang telah teruji secara historis dan dalam konteks ilmiah mewarisi nur/energy Ilahi langsung dari Rasulullah. Dengan nur itu maka rohaninya dapat berpengaruh seperti pencahayaan dari satu lampu ke berbagai lampu. Cahaya itulah yang membua tabir rahasia yang ditinggalkan tertutup oleh Rasulullah.
Para Nabi dan Imam dan Imam memang memiliki persepsi yang tinggi. Hanya mereka yang bisa melihat kemulyaan Allah. Itu satu keunggulan nyata yang diberikan Allah secara khusus kepada orang-orang pilihan-Nya. Orang pilihan Allah adalah manusia yang dilindungi dan dicintai-Nya, yang dicirikan secara khusus, serta ditunjuk untuk mewujudkan tindakan-tindakan-Nya. Mereka, secara istimewa dianugerahi bermacam-macam keajaiban (karamah), disucikan dari hawa nafsu, sehingga segenap pikirannya tertuju kepada Allah semata. Allah Ta’ala telah memuliakannya atas hamba-hamba yang lain.
Bukti kemulyaan itu oleh penganut ajaran sufi telah dikaji secara naqli dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Maka tak heran jika kemudian guru mursyid diyakini sebagai perwakilan dari wujud Allah, hidupnya adalah pengganti dari hidup Allah, sifatnya adalah pengganti dari sifat Allah, kekuasaannya adalah pengganti kekuasaan Allah, kehendaknya adalah pengganti kehendak Allah, pendengarannya adalah pengganti pendengaran Allah, penglihatannya adalah pengganti dari perkataan Allah, dan ilmunya adalah pengganti dari ilmu Allah.
Keyakinan kaum Sufi tersebut cukup normatif sesuai dengan Al-Qur’an dan hadis Nabi berikut :
  1. Tangan Allah di atas tangan-tangan mereka (QS. Al-Fath).
  2. Wajah Allah di atas wajah mereka (Hadist)
  3. Kalau mereka melihat Aku-lah matanya (Hadist Qudsi, HR. Bukhari)
  4. Kalau mereka berjalan, Aku kakinya (Hadist Qudsi, HR. Bukhari)
  5. Kalau mereka mengambil, Aku tangannya, (Hadist Qudsi, HR. Bukhari)
  6. Kalau mereka digempur musuh, Aku lawannya, (Hadist Qudsi, HR. Bukhari)
  7. Rahmat-Ku Aku titipkan padanya untuk ditaburkan pada ummat-Ku. (HR. Al Qudha’ie dari Abi Said).
  8. Mereka man-syafaati seperti Rasul mensyafaati mensyafaati (HR. Ibnu Majjah).
  9. Kalau mereka duduk, Aku temannya, (Hadist dalam Al-Atsar Ihya Ulumuddin).
  10. Mereka yang (rohnya berisikan Nuurun Alaa Nur bersama-sama) sederetan duduknya dengan para Nabi. (QS. An-Nisa : 69).
  11. Kalau namanya disebut, Ummat pun telah menyebut nama-Ku dan sebaliknya jika nama-Ku disebut ummat, telah turut disebut nama di dalamnya. (HR. Tabrani, Al Hakim dan Abu Naim).
  12. Bumi dan langit-Ku tak berdaya menjangkau Aku, namun Aku telah dijangkau oleh Ruh/Hati hamba-Ku yang Ku-kasihi (yang Ruhnya berisikan Nurun Ala Nurin) (HR. Ahmad).
Kemudian bukti signifikan bahwa guru mursyid sebagai ulama pewaris Nabi (al ulama warasatul ambiya), terlihat dari jejaknya yang menapaki jejak Nabi sendiri. Mulai dari bentuk alamanya sampai pada soal rupanya. Keduanya memiliki rupa yang qadim dan juga azali. Hidupnya berada dalam dua alam sebagaimana di isyaratkan oleh Nabi dalam sabdanya :
“al-mu’minu hayyun fiad-darin” (Orang-orang mukmin itu hidup di dua alam).
Namun demikian, keduanya tetap memiliki perbedaan dan pembatas yang jelas. Misalnya dalam hal kenaikan dalam pencapaian spiritual, nabi-nabi terjadi secara menyeluruh, sementara para wali-wali hanya terjadi secara bathiah atau dengan rohani saja. Badan seorang nabi menyerupai hati dan roh seorang wali mursyid dalam kesucian dan kedekatan dengan Tuhan. Inilah satu keunggulan nyata. Bilamana seorang wali terkuasai perasaannya ia lepas dari dirinya melalui tangga rohani dan didekatkan kepada Tuhan. Semua bukti itu terbentuk dalam pikirannya dan ia memperoleh pengetahuan tentang bukti-bukti itu.
Sebenarnya persoalan ini telah Allah tunjukkan dalam peristiwa isra’ dan mi’rajnya Rasulullah, tapi jarang manusia yang mau mendalaminya. Rasulullah tidak akan sampai kehadirat Allah SWT tanpa energi Ilahi, nur Ilahi, wasilah Allah, atau yang dikiaskan sebagai Al-Buraq. Energi Ilahi mempunyai kecepatan dan kekuatan yang tak terhingga. Energi inilah yang ditanamkan oleh Allah dalam diri Rasulullah.
Demikian uraian singkat tentang Guru Mursyid dan insya Allah pembahasan ini nanti akan saya lanjutkan lagi. mudah-mudahan tulisan ini bisa memberikan manfaat untuk kita semua dan saya pribadi selalu bersyukur kepada Allah atas karunia-Nya berkenan memperkenalkan kekasih-Nya kepada saya sehingga dengan bimbingan yang penuh kasih sayang dari kekasih-Nya tersebutlah yang membuat saya bisa memahami tentang Tuhan. Pembahasan tentang mursyid beserta dalil-dalilnya dan keutamaan mempunyai Guru Mursyid serta pendapat para ulama tentang keutamaan berguru sudah pernah saya tulis di sini. Dibawa ini saya cantumkan 12 tulisan tersebut, silahkan dibaca semoga bermanfaat!

12 Tulisan Dibawah ini jika anda klik dengan sendirinya anda akan langsung menuju website milik Sufi Muda.
  1. Syarat dan Kriteria Mursyid Menurut Prof. Dr. S.S. Kadirun Yahya MA. M.Sc
  2. Pendapat Imam Al Ghazali Tentang Pentingnya Mursyid
  3. Rabithah MURSYID
  4. URGENSI KEMURSYIDAN
  5. Siapa Yang Tidak Memerlukan Pembimbing (Mursyid)?
  6. NUR MUHAMMAD
  7. Ber Wasilah kepada MURSYID
  8. Berguru Kepada MURSYID
  9. Wasilah, Cara Berkenalan Dengan Allah (Bag. 1)
  10. Wasilah, Cara Berkenalan Dengan Allah (Bag. 2)
  11. WASILAH, Cara Berjumpa Dengan Allah
  12. Siapakah Wali Allah itu?
sumber artikel: http://sufimuda.net/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

1 SHARE DARI ANDA SANGAT BERHARGA BUAT BANYAK ORANG, SAMPAIKANLAH WALAU 1 AYAT, SEMOGA BERMANFAAT.

Jika anda merasa artikel diatas berguna dan bermanfaat bagi banyak orang, silahkan share / bagikan artikel diatas ke banyak orang lewat facebook / twitter anda.
Semoga anda mendapatkan pahala setelah membagikan artikel diatas, semoga setelah anda bagikan banyak bermanfaat buat semua orang, amin.

( Sampaikanlah walau satu ayat, untuk kebaikan kita semua )

Salah satu cara mencari pahala lewat internet adalah dengan menyebarluaskan artikel, situs/blog dan segala kebaikan yang diperoleh darinya kepada orang lain. Misalnya adalah kepada keluarga, sahabat, rekan kerja dan sebagainya.

Apa Pendapat Anda Tentang Artikel Diatas
Silahkan gunakan profile ( Anonymous ) jika anda tidak mempunyai Account untuk komentar

Jika anda ingin berpartisipasi ikut menulis dalam blog ini atau ingin mengirim hasil karya tulisan anda, membagikan informasi yang bermanfaat buat banyak orang lewat tulisan anda silahkan kirim tulisan anda ke email saya bagindaery@gmail.com
Tulisan anda akan dilihat dan dibaca oleh ribuan orang tiap harinya setelah anda mengirimkannya ke bagindaery@gmail.com