Senin, 02 Mei 2011

MALIKA EL AROUD: PENGUASA PETIR PENGAGUM OSAMA BIN LADEN (1)

b-malika-aroud-4ca5a09545e1

Malika El Aroud dilahirkan sekitar tahun 1959/1960 di Marokko, Afrika Utara. Ketika Malika masih kecil, keluarganya hijrah ke Belgia. Sesuatu yang lumrah saja pada masa itu. Mencari penghidupan yang lebih baik di Eropa mendorong banyak warga Afrika, seperti dari Marokko, Aljazair, dll, datang ke Eropa.

Meski berdiam di Eropa, mereka tetap tidak meninggalkan budaya aslinya. Terutama yang berkaitan dengan tradisi agamanya yaitu Islam. Adat istiadat kesukuan dan agama tetap melekat. Tetapi tentu saja hal ini lebih banyak dilakukan para orang tua yang tetap menjunjung tradisi agamanya.

Bagi kalangan yang lebih muda tidak demikian. Sebagian ada yang mengalami pergeseran budaya dengan mengikuti tradisi budaya di tempatnya yang baru. Begitu pula halnya dengan Malika.

Wanita cantik bermata coklat dengan sorot tajam ini pun tidak ragu mengikuti budaya Eropa, setidaknya dalam hal berbusana. Meski kedua orangtuanya menginginkan Malika berbusana Islami, terutama jilbab. Tetapi gadis itu lebih senang mengikuti cara berpakaian perempuan Eropa. Wajarlah jika antara anak dan orangtua sering berseteru dalam masalah ini.

Pada masa remajanya, Malika cenderung menjadi gadis yang pemberontak dan merasa berjiwa bebas, sebagaimana kecenderungan gadis-gadis seusianya.

Malika hanya berbusana muslim saat berada di rumahnya. Tetapi begitu berada di luar rumah, dia lebih suka mengenakan busana kasual seperti rok mini atau t shirt ketat. Busana semacam ini bukan sesuatu yang aneh di Eropa.

Kehidupan remaja Malika sama seperti umumnya remaja Eropa atau juga sebagian remaja di negeri ini. Minum-minuman keras hingga mabuk, konsumsi obat, narkoba dan diskotik sudah tidak asing lagi.

Tetapi Malika tidak menyadari bahwa meski berada di Eropa, dia tetaplah seorang imigran Afrika yang ingin hidup lebih baik di benua kulit putih. Itu artinya dia dan semua imigran dipandang sebagai warga kelas dua di Eropa.

Malika juga tidak menyadari bahwa meski masyarakat Eropa sering mengklaim menganut kebebasan dan menjunjung tinggi hak asasi, kenyataannya tidak selalu demikian.

Prasangka jelek terhadap kaum pendatang, apalagi berdarah Arab dan beragama Islam, sudah mendarah daging di Eropa. Stempel bahwa Islam sebagai agama kekerasan begitu melekat di sana.

Pada akhirnya Malika membuktikan sendiri ketidaksukaan orang Eropa terhadap kaumnya. Suatu hari, seorang gurunya di sekolah mengejek Malika dengan kata-kata yang menyakitkan hati. Kata-kata penghinaan berbau Rasial dan Agama.

Malika marah dan rasa ketidaksukaannya dilakukan dengan memukul guru perempuan itu. Dan Malika pun menerima resiko terburuknya, yaitu dikeluarkan dari sekolah.

Malika tidak dapat menutupi kekecewaannya dengan putusan itu. Dia sangat kecewa dan sakit hati. Meski sebenarnya dia dapat berpindah sekolah, tetapi hal itu tidak dapat mengobati luka batin yang diderita akibat penghinaan gurunya. Malika merasa dirinya benar saat menghukum gurunya dengan pukulan. Sebab tidak pantas seorang guru menghina dengan kata-kata berbau SARA.

Merasa frustasi, Malika pun terjerumus dalam kehidupan bebas. Narkoba dan alkohol semakin diakrabinya. Puncaknya saat Malika mencoba bunuh diri dengan menelan obat di luar batas.

Pencerahan Relijius
Ketika usianya 18 tahun atau sekitar tahun 1978, kedua orangtuanya menikahkan Malika dengan seorang pria sebangsanya. Perkawinan ini tampaknya tidak membuat keduanya bahagia. Malika pun bercerai dengan suaminya setelah memberinya seorang anak perempuan

Perceraian itu tidak membuat Malika larut dalam kesedihan. Kehadiran putrinya membuka cakrawala berpikirnya. Dia tidak ingin putri semata wayangnya itu mengalami kemelut hidup seperti dirinya.

Malika ingin mendidik putrinya mengikuti tradisi orangtuanya. Untuk mencapai itu, tentu saja harus dimulai dari diri Malika sendiri. Dia harus mengubah tabiat buruknya lebih dulu.

Mulailah Malika menjalani syariat Islam secara kaffah. Meski dirinya tidak fasih berbahasa Arab, tetapi dia mampu membaca Al Qur’an dan memahami maknanya. Malika larut dalam kesibukan pengajian bersama rekan-rekan seiman.

Pengalaman ini diakui Malika seperti sebuah kelahiran yang baru. Malika merasa baru saja dilahirkan. Malika menjadi sosok yang berbeda dengan sebelumnya. Malika mendapatkan pencerahan. Minadz dzulumaati Ilannuur. Dari kegelapan menuju cahaya terang benderang.

Waktu pun berjalan. Pada tahun 1999, Malika menikah dengan pria asal Tunisia bernama Abdessater Dahmane ( Dahmane Abd al-Sattar ). Sosok pria ini bukan hanya dikenal taat beragama, tetapi juga keras dan ketat dalam menjaga aturan-aturan yang ditetapkan agama.

Malika mengenal betul suaminya ini, terutama wawasan berpikir dan lingkungan pergaulan suaminya. Suami Malika ini sangat mengagumi sosok Osama bin Laden atau Usamah bin Ladin. Hampir setiap hari Malika mendengar cerita tentang Osama dari suaminya.

Malika merasakan betul hasrat suaminya yang ingin bertemu Osama di Afghanistan. Dahmane bukan hanya ingin bertemu, tetapi juga ingin mengabdi dengan Osama dan siap menjalankan perintah apa saja dari tokoh yang dikaguminya itu.

Malika sangat mencintai Dahmane. Dan karena sang suaminya mengagumi Osama bin Laden, maka Malika pun menjadi mengagumi Osama. Sesuatu yang lumrah dalam kehidupan berumah tangga.

Dalam sebuah wawancaranya dengan CNN tahun 2006, Malika mengatakan,

“Mudah bagi saya untuk menggambarkan rasa cinta suami saya kepada Osama. Sebab sayapun merasakan perasaan yang sama kepada Osama,” kata Malika.

“Sebagian besar umat Islam pun mencintai Osama. Sebab Osama membantu kaum yang tertindas. Dia berani melawan musuh terbesar di dunia ini, yaitu Amerika. Karena itulah kami mencintai Osama,” lanjut Malika.
( “It’s easy for me to describe the love my husband felt because I felt it myself,” she said. “Most Muslims love Osama. It was he who helped the oppressed. It was he who stood up against the biggest enemy in the world, the United States. We love him for that.” )

Afghanistan
Hingga pada suatu hari Malika melihat suaminya seolah terpaku saat melihat acara televisi yang menampilkan sosok Osama bin Laden. Dalam siaran televisi itu, Osama mengundang umat Islam dimanapun berada untuk bangkit melawan kejahatan Amerika dan sekutunya yang dianggap banyak menindas umat Islam.

Kejadian itu dilukiskan Malika dalam bukunya yang berjudul Soldiers of Light.

”Dia (Dahmane) sepertinya merasakan bahwa apa yang diucapkan Osama itu sebagai sebuah pesan untuk dirinya,” tulis Malika dalam bukunya.
Pada pertengahan tahun 2001, Dahmane pun berangkat ke Afghanistan untuk bergabung dengan Osama. Menurut Malika, pada awalnya Dahmane berharap ditugaskan Osama untuk bertempur bersama Mujahidin Chechnya. Tetapi Osama menyuruh Dahmane berlatih di Jalalabad.

Belakangan Malika menyusul pula ke Afghanistan. Tetapi bukan untuk berperang. Malika bermaksud membuka panti asuhan bagi anak-anak korban perang.

Ketika menginjakkan kaki di Afganistan, Malika sangat terkejut dengan kondisi negeri itu. Kemiskinan, kelaparan dan kehancuran nyaris merata. Semua itu bukan hanya akibat perang antar faksi di sana, tetapi juga karena sanksi ekonomi yang dipimpin Amerika. Pemerintahan Taliban yang saat itu berkuasa memang sangat dibenci Amerika karena dianggap melindungi Osama bin Laden yang dicari dalam kasus pengeboman di Tanzania, Arab Saudi dan penyerangan terhadap sebuah kapal perang Amerika di Teluk Aden.

Tetapi Malika merasa sangat berbahagia dapat bertemu kembali dengan suaminya.

“Inilah saat-saat yang membahagiakan hidup saya,” kata Malika mengungkap pertemuannya dengan Dahmane.

Malika pun tidak menyangka suami dan rekan-rekannya yang ditemui tampak bahagia dan betah tinggal di Afghanistan yang sedang porak poranda itu.

“Mereka kelihatan sangat berbahagia melebihi apa yang dapat saya bayangkan. Wajah mereka bersinar terang. Saya tidak menyangka suami saya kuat (betah) tinggal bersama mereka,” kata Malika.

Pada saat itu Malika belum menyadari bahwa dirinya sesungguhnya sudah masuk dalam sebuah himpunan keluarga yang berada di bawah kendali Osama bin Laden.

Namun yang pasti, Malika merasakan suami dan teman-temannya sangat bahagia bergabung dengan Osama. Tokoh yang menjadi musuh nomor satu Amerika itu seolah menjadi magnet yang mampu menarik banyak orang.

Malika sendiri tidak pernah bertemu Osama, tetapi dia mengaku bertemu dengan isteri Osama bin Laden.

Pertemuan Malika dengan suaminya tidak lama. Sang suami kembali bergabung dengan kelompoknya. Belakangan Malika mendengar, Dahmane tewas dalam aksi penyerangan terhadap Ahmad Shah Massoud, pejuang Mujahidin Afghanistan yang ditakuti tentara Uni Sovyet.

Pahlawan yang dijuluki Singa dari Lembah Pansjhir itu tewas pada 9 September 2001.

BaNi MusTajaB

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

1 SHARE DARI ANDA SANGAT BERHARGA BUAT BANYAK ORANG, SAMPAIKANLAH WALAU 1 AYAT, SEMOGA BERMANFAAT.

Jika anda merasa artikel diatas berguna dan bermanfaat bagi banyak orang, silahkan share / bagikan artikel diatas ke banyak orang lewat facebook / twitter anda.
Semoga anda mendapatkan pahala setelah membagikan artikel diatas, semoga setelah anda bagikan banyak bermanfaat buat semua orang, amin.

( Sampaikanlah walau satu ayat, untuk kebaikan kita semua )

Salah satu cara mencari pahala lewat internet adalah dengan menyebarluaskan artikel, situs/blog dan segala kebaikan yang diperoleh darinya kepada orang lain. Misalnya adalah kepada keluarga, sahabat, rekan kerja dan sebagainya.

Apa Pendapat Anda Tentang Artikel Diatas
Silahkan gunakan profile ( Anonymous ) jika anda tidak mempunyai Account untuk komentar

Jika anda ingin berpartisipasi ikut menulis dalam blog ini atau ingin mengirim hasil karya tulisan anda, membagikan informasi yang bermanfaat buat banyak orang lewat tulisan anda silahkan kirim tulisan anda ke email saya bagindaery@gmail.com
Tulisan anda akan dilihat dan dibaca oleh ribuan orang tiap harinya setelah anda mengirimkannya ke bagindaery@gmail.com