Senin, 18 September 2017

Kritik Menggelitik (Sebuah tulisan inspiratif yang Islami)

Good morning gooood people! Guys, apa yang terlintas dalam pikiran saat tiba-tiba ada orang yang datang kepada kita lalu mengatakan, “Saya ingin mengkritik anda!” Biasanya kalau mendapat perlakuan seperti ini, kita akan merasa tidak nyaman, resah dan gelisah. Seolah-olah, harga diri dan kehormatan sedang terancam karena menganggap kritik bisa merusak nama baik.
.
Sekarang lain cerita. Bagaimana kalau tiba-tiba orang itu bilang, “Saya ingin ngasih kripik untuk anda!” Untuk orang-orang yang doyan makan, pastilah respon spontan kita akan senang! Wajah langsung cerah, perasaan sumringah, dan hati pun merekah. Nah, disini lah perbedaan ‘kritik’ dan ‘kripik’, meskipun berbeda 1 huruf, tapi respon kita pasti berbeda. Lho, lalu apa hubungannya kritik dan kripik dalam tulisan @NotesFromQatar ini? Ya emang ga ada hehehe.. Just intermezzooo
.
Baiklah, tanpa banyak basa basi, mari kita mulai dengan sebuah cerita…
.
Alkisah pada zaman dahulu di suatu negeri padang pasir, ada seorang bapak beserta anaknya yang akan pergi dari kampung halaman untuk merantau ke negeri seberang. Untuk sampai ke tempat tujuan, mereka harus melewati empat kota yang berbeda, anggap saja A,B,C dan D. Bapak dan anak ini kemudian membawa serta onta kesayangan mereka karena ya zaman dulu alat transportasinya cuma onta. Keduanya pun langsung menaiki onta tersebut dan mulai berjalan. Setelah beberapa lama, sampailah mereka di kota A.
.
Sesampainya, orang-orang sekitar langsung melihat sinis dan mengkritik keduanya. Mereka berkata bahwa bapak dan anak ini tidak punya rasa kemanusiaan kepada binatang, masa satu onta dinaiki oleh dua orang? Lalu bapak dan anak ini mikir, “Iya bener juga!” Maka setelah keluar dari kota A, sang Bapak pun turun dari onta. Sekarang hanya si anak yang naik dan bapaknya berjalan sambil menuntun sang onta.
.
Perjalanan pun sampai di kota B. Saat memasuki kota tersebut, kembali orang-orang mengkritik bapak dan anak tersebut. Mereka berkata bahwa sang anak kurang ajar sekali, masa dia enak-enakan naik onta dan membiarkan bapaknya jalan? Lagi-lagi bapak dan anak ini mikir, “Oiya bener juga ya!” Maka saat keluar dari kota B, sang anak pun turun dari onta dan membiarkan ayahnya yang naik karena takut juga disebut anak durhaka. Lalu sekarang gantian sang anak yang berjalan sambil menuntun onta.
.
Setelah beberapa lama, sampailah mereka di kota C. Ketika melintasi masuk, kembali terdengar orang ramai mengkritik keduanya. Mereka berkata bahwa bapak ini sungguh kejam sama anak sendiri. Masa bapaknya enak-enakan naik onta sementara anaknya jalan? Lagi, lagi, dan lagi, sang bapak dan anak mikir, “Iya bener juga ya itu kata orang-orang!” Maka setelah keluar dari kota C, sang bapak pun turun dan mereka berdua tidak menaiki onta melainkan berjalan sambil menuntun sang onta.
.
Sampailah keduanya di kota D, akhir dari perjalanan. Mereka pun masuk ke kota tersebut dengan wajah senyum karena merasa sudah memperlakukan onta dengan sangat manusiawi. Tapi tak disangka, ternyata orang-orang kota itu kembali mengkritik dan malah menertawakan keduanya. Kata mereka, bapak dan anak ini kok bodoh banget, udah bawa onta kok malah dituntun doang ga dinaikin??? Akhirnya bapak dan anak ini udah ga tau lagi harus berbuat apa karena semua yang dilakukan salah semua di mata orang lain. Mereka pun pingsan terkapar di jalanan (yang ini lebaydotcom hehe).
.
Yak teman-teman, cerita di atas adalah analogi kehidupan yang kita jalani di dunia ini. Ada kalanya, kita melakukan hal baik dengan niat yang baik, tapi pasti ada saja orang-orang yang mengkritik. Akhirnya kita jadi terpengaruh dan berhenti melakukan hal tersebut. Lalu pada saat kita diam dan tidak melakukan hal tersebut, lagi lagi pasti ada saja orang-orang yang kembali mengkritik kita. Jadi kesimpulannya adalah, dalam hidup ini, kita melakukan sesuatu ataupun tidak, pasti akan sama-sama kena kritik hehe..
.
Lalu bagaimana solusinya? Ya lakukan saja apa yang menurut kita baik. Keep going! Jangan terlalu banyak memikirkan apa kata orang, karena ga bakal maju-maju hidup kita. Karena seperti kisah di atas, setiap orang itu punya pemikiran yang berbeda dalam menafsirkan suatu hal, jadi ya pasti respons nya pun akan berbeda-beda. Jadi kesimpulannya, lakukan apa yang baik menurut kita dan jangan terpengaruh dengan kritik dari orang lain okey!
.
Kritik Oh Kritik..
Ada dua pepatah yang sudah sangat familiar di telinga kita, yaitu “nobody’s perfect” dan “tak ada gading yang tak retak”. Maknanya, tidak ada manusia yang sempurna karena kesempurnaan hanya dimiliki oleh Allah Swt. Setiap orang memiliki kelemahan dan kekurangan, namun setiap orang juga pasti memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh orang lain. Kekurangan yang dimiliki bertujuan agar kita tidak menjadi pribadi yang sombong dan kelebihan yang dimiliki bertujuan agar kita menjadi pribadi yang bersyukur.
.
Manusia adalah makhluk yang lemah.  Dari tukang becak sampai presiden sekalipun, pasti memiliki kekurangan dan pernah berbuat salah. Bahkan, Nabi Muhammad saw, pemimpin terhebat sepanjang sejarah umat manusia – menjadi urutan nomor 1 dalam daftar 100 orang paling berpengaruh di dunia dalam buku Michael Heart – pernah dikritik oleh Allah Swt saat beliau menghiraukan seorang buta bernama Abdullah bin Ummi Maktum yang datang kepadanya ingin bertanya tentang Islam.
.
Saat itu dikisahkan Nabi Muhammad saw bermuka masam dan memalingkan pandangan dari si buta karena sedang menjamu para pembesar Suku Quraisy. Atas sikapnya ini, Allah Swt langsung mengkritik beliau yang diabadikan di dalam Al-Quran Surat ‘Abasa.Kalau seorang Nabi saja pernah kena kritik, apalagi kita yang manusia biasa? Hehehe.. Terkadang memang berat untuk menerima kritik. Tapi ya kritik ini adalah ujian, dan yang namanya hidup ya pastinya penuh ujian. Seperti apa yang pernah disampaikan oleh Socrates.
.
“Hidup yang tidak teruji adalah hidup yang tidak layak untuk dihidupi. Hanya ada satu tempat di dunia ini dimana manusia terbebas dari segala ujian hidup, yaitu KUBURAN. Tanda manusia tersebut masih hidup adalah ketika dia mengalami ujian, kegagalan, dan penderitaan. Lebih baik kita tahu mengapa kita gagal, daripada tidak tahu mengapa kita berhasil”
.
Khalifah Ali bin Abi Thalib pernah berkata, “Jangan melihat siapa yang berbicara, tapi lihatlah apa yang dibicarakan”. Maknanya, kita harus bisa bersikap terbuka menerima kritik dari siapa saja, karena kebenaran bisa datang dari mana saja, bahkan seorang anak kecil atau mungkin dari seekor binatang.
.
Salah satu kisahnya adalah Nabi Sulaiman, seorang nabi yang diberikan kecerdasan serta mukjizat luar biasa dari Allah Swt. Dia adalah raja pada zamannya, yang bahkan jin pun tunduk kepadanya. Namun tetap saja masih ada ilmu pengetahuan yang tidak diketahui oleh beliau, dan pengetahuan tersebut malah diketahui oleh seekor burung kecil bernama Hud-Hud, yang kemudian memberikan kritik kepada Nabi Sulaiman.
.
“Maka tidak lama kemudian (datanglah Hud-Hud) lalu ia berkata, ‘Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa padamu dari Negeri Saba suatu berita penting yang diyakini.’” (QS. An-Naml [27]: 33)
.
Belajar Dari Nabi Ibrahim
Di dalam Al-Quran banyak kisah tentang kritik yang dilakukan para nabi, dan salah satunya adalah Nabi Ibrahim as yang mengkritik ayahnya sendiri yang masih setia menyembah berhala. Mari kita simak bersama bagaimana Nabi Ibrahim mengkritik kesalahan dan kekeliruan ayahnya yang terangkum dalam QS. Maryam [19]: 41-43.
.
QS.19:42. “Ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya, ‘Wahai ayahanda tercinta, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun?’”
.
QS.19:43. “Wahai ayahanda tercinta, sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus.”
.
QS.19:44. “Wahai ayahanda tercinta, janganlah kamu menyembah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, Allah Swt.”
.
QS.19:45. “Wahai ayahanda tercinta, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu akan menjadi kawan bagi syaitan.”
.
Mari kita telaah dan analisa bersama. Dalam ayat di atas, kita bisa menyimak bagaimana gaya bahasa Nabi Ibrahim ketika mengkritik ayahnya yang dimulai di ayat ke-42. Nabi Ibrahim menggunakan kata “yaa abatii” yang berarti “wahai ayahanda tercinta”. Nabi Ibrahim tidak menggunakan kata “yaa abii” atau “ayahku” meskipun bermakna sama. Panggilan dengan menggunakan “yaa abatii” adalah panggilan kasih sayang.
.
Nabi Ibrahim tahu betul bahwa ayahnya telah melakukan kesalahan yang fatal karena menyembah patung, namun dia tidak pernah menghujat ataupun mengecam ayahnya. Dia tetap memanggil ayahnya dengan panggilan penuh hormat dan santun. Penghormatannya tidak berkurang sedikitpun.
.
Memang seperti itulah ajaran Islam. Jika orang tua musyrik dan mengajak kita kepada kemusyrikan, maka sebagai anak kita tidak perlu patuh terhadap apa yang mereka perintahkan. Namun kita tetap harus menghormati mereka sebagai orang tua.
.
Allah Swt berfirman, “…Dan jika mereka (orang tua) bersungguh-sungguh mempengaruhimu supaya kamu menyekutukan Aku dengan sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, maka janganlah kamu turuti mereka. Tetapi berkawanlah dengan mereka di dunia ini dengan cara yang baik; dan ikutilah jalan orang bertaubat kepadaku; kemudian kepada-Ku lah tempat kembalimu, maka akan kujelaskan kepadamu apa-apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Luqman: 14-15)
.
Ayat di atas menjelaskan bagaimana sikap kita dalam menghadapi ajakan orang tua untuk menyekutukan Allah. Kita tidak perlu patuh terhadap perintah kemusyrikan mereka namun kita harus tetap hormat dan baik dengan mereka. Hal ini karena kemusyrikan orang tua dengan hormatnya kita kepada mereka adalah dua hal yang berbeda.
.
Kemusyrikan mereka berurusan langsung dengan Allah SWT (habluminallah) dan bakti kita terhadap orang tua adalah hubungan antarsesama manusia (habluminannaas). Inilah indahnya ajaran yang dibawa oleh Islam dalam hal hubungan antarsesama manusia, terutama terhadap orang tua. Sebuah keindahan yang tidak dapat dicapai oleh agama apapun, selain Islam.
.
Selanjutnya, setelah Nabi Ibrahim memanggil ayahnya dengan panggilan hormat dan sayang, dia mulai menyampaikan kritiknya dengan pertanyaan, “Kenapa ayahanda menyembah sesuatu yang tidak bisa mendengar, melihat atau berbuat apa-apa?” Dalam hal ini, Nabi Ibrahim mencoba mengajak ayahnya untuk berpikir bersama tentang kekeliruan yang dilakukan dan tidak langsung memvonis, “Anda sesat wahai ayah, tempatnya di neraka tuh, ati-ati!” hehe..
.
Itulah salah satu cara menyampaikan kritik yang baik. Ayahnya pun yang diberikan pertanyaan oleh Nabi Ibrahim tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut. Selanjutnya baru setelah itu Nabi Ibrahim melanjutkan kritiknya dengan memberikan saran, seperti yang tertulis di ayat 43, “Wahai ayahanda, sungguh telah datang kepadaku sedikit ilmu yang mungkin tidak engkau miliki maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus”.
.
Nabi Ibrahim dengan rendah hatinya mengatakan bahwa dia hanya punya ‘sedikit ilmu’ yang bisa mengantarkan ayahnya ke jalan yang lurus. Ya kurang lebih seperti itulah cara menyampaikan kritik dan saran yang terbaik. Jangan ada kesan seolah-olah kita ini yang paling hebat, paling pinter, paling tau segalanya. Bisa-bisa bukannya kita yang mengkritik, malah nanti kita yang kena kritik, “Ahh dasar sotoy lo!”
.
Setelah itu di ayat 44 dan 45, barulah Nabi Ibrahim menyampaikan masukan dan memberikan peringatan tegas kepada ayahnya untuk tidak mengikuti langkah-langkah syetan dengan menyembahnya, karena akan terkena azab Allah Swt.
.
Seni Mengkritik
Berikut adalah sedikit tips & tricks dari saya dalam mengkritik seseorang.
.
1. Luruskan niat. Saat kita ingin mengkritik seseorang, baik itu teman, sahabat, pacar, mantan, gebetan, HTS-an, ataupun yang lainnya, pertama kalinya yakinkan diri bahwa kritik yang disampaikan bertujuan untuk membuat orang-orang tersebut tahu akan kesalahannya dan berubah menjadi pribadi yang lebih baik.
.
2. Lihat situasi dan kondisi. Sebelum ngasi kritik, cari dulu waktu yang tepat dan enak untuk berdiskusi. Contoh waktu yang tidak baik misalkan seorang istri mengkritik suaminya di waktu sang suami abis pulang dari kantor dengan tampang kusut dan muka kelipet. Kalo seperti itu kejadiannya, sudah bisa dipastikan terbang semua itu piring-piring di rumah hehehe..
.
3. Jangan emosi. Sampaikan kritik dengan tenang tanpa emosi, karena biasanya kalo marah bicaranya akan jadi ngalor ngidul dan tidak jelas apa yang ingin disampaikan, sehingga bisa terjadi kesalahpahaman. Caranya juga harus manis, seperti misalkan ajak dulu minum kopi atau makan bakso bareng. Setelah kenyang, baru deh silahkan menyampaikan kritik kepada orang yang bersangkutan, sukur-sukur dia ga tidur karena kekenyangan.
.
4. Pakai bahasa yang santun. Kritik itu penting bos, namun yang lebih penting adalah cara menyampaikannya agar orang yang dikritik tidak merasa direndahkan, dilecehkan ataupun disakiti perasaannya. Janganlah memanggil dengan panggilan dari makhluk-makhluk planet mars seperti monyet, kuda, kerbau, domba, dlla. Namun, panggillah dengan panggilan hormat dan sayang sehingga kritik yang disampaikan bisa diterima dengan baik. Bagaimana mungkin seseorang akan menerima kritikan dan saran jika hati dan perasaannya sudah tersakiti?
.
5. Jangan mempermalukan. Pantangan dalam mengkritik adalah jangan sekali-kali mengkritik didepan orang banyak. Karena hal itu dapat diartikan sebagai upaya mempermalukan dirinya. Nanti yang ada malahan orang yang dikritik lebih sibuk membela diri dan yang lebih parahnya lagi, mungkin bisa sampe kencing di celana karena menahan rasa malu dikritik depan orang banyak hehehe..
.
Seni Menerima Kritik
Setelah belajar seni mengkritik, nah sekarang belajar seni menerima kritik. Menurut saya pribadi, jauh lebih sulit menerima kritik daripada memberikan kritik. Saya pun terkadang kalo terima kritik rasanya kuping panas bener hahaha.. Karena kalo cuma mengkritik sih semua orang juga bisa, makanya kenapa biasanya komentator sepakbola itu lebih jago dari pemain bola itu sendiri.
.
Orang harus bisa menerima kritik, karena kalau kita hanya dikelilingi oleh orang-orang yes-man atau ABS (Asal Bapak Senang) maka disitulah awal kehancuran. Pertanyaannya sekarang, apa yang harus dilakukan untuk bisa menerima kritik? Nah berikut tips & tricks nya ya. Karena menerima kritik lebih susah dari mengkritik, saya kasih tipsnya banyakan.
.
1. Shut up and listen! Ini hal yang paling penting. Biasanya nih ya saat orang memberikan kritik, bukannya kuping kita yang mendengarkan dengan baik, tapi malah mulut kita yang sibuk mencari pembenaran atas apa yang dilakukan. Betul kan? Nah makanya hal yang paling baik dalam menerima kritik adalah diam dan dengarkan. Dengerin dulu apa yang mau disampaikan, kalo orangnya udah selesai ngomong baru sampaikan klarifikasi kita.
.
2. Jangan bersikap defensif atau membela diri. Sedikit banyak mirip dengan yang pertama. Biasakan untuk tidak langsung menolak kritik yang disampaikan orang lain, apalagi bereaksi berlebihan alias lebay-dot-com. Karena biasanya, saat orang tidak defensif terhadap kritik, orang yang mengkritik pun akan dengan senang hati akan menolong. Tapi kalau sikap kita defensif, bisa jadi nanti malah disumpahin, “Udah biarin aja dikasitau juga ga mau denger. Liatin aja nanti kena batunya nih anak!” Nah gawat kan? Hahaha..
.
3. Kenyataan tidak ada manusia yang sempurna. Seperti yang sudah kita tahu bersama bahwa tidak ada manusia yang sempurna karena kesempurnaan hanya dimiliki oleh Allah Swt. Manusia itu tempatnya salah dan alpa. Jadi kalo ada yang mengkritik, yaudah terima aja sebagai kenyataan bahwa kita jauh dari kata sempurna.
.
4. Semangat memperbaiki diri. Pada Prinsipnya setiap orang itu kan ingin menjadi lebih baik. Makanya yakinkan diri kalo ada kritik yang datang, positive thinking aja ini untuk kebaikan diri sendiri. Kritik akan menunjukkan kekurangan kita sehingga dapat segera diperbaiki.
.
5. Perhatikan isi kritik dengan seksama. Memang sih yang namanya kritik itu biasanya pedas, ganas, trengginas, dan bikin telinga panaasss! Tapi jangan keburu emosi dulu bos, pikirkan sisi baik dari kritik tersebut. Orang mempunyai kecenderungan hanya mendengar hal-hal negatif dari sebuah kritik dan tidak menghiraukan hal-hal positif yang sesungguhnya bisa diambil. Selalu ambil hal yang positif untuk menghindari kesalahan yang sama di masa depan.
.
6. Never take it personally. Hillary Clinton pernah berkata, “Take criticism seriously, but not personally. If there is truth or merit in the criticism, try to learn from it. Otherwise, let it roll right off you.” Maknanya adalah, ambil kritik secara serius untuk melihat apa memang benar ada kesalahan dalam diri kita, dan bukan secara personal. Maksudnya personal disini adalah, misalkan kita abis dikritik sahabat kita, karena kita kesel, akhirnya putus silaturahmi.
.
7. Selalu bersyukur. Kalau ada orang yang mau mengkritik kita, itu artinya dia sayang dan peduli sama kita. Jadi harus banyak-banyak bersyukur jika ada yang mengkritik karena orang tersebut mau mengorbankan waktu dan perhatiannya untuk kita. Always say thanks and be grateful okey!
.
8. Nikmati dan enjoy aja. Kritik itu pada dasarnya hal yang normal, tergantung respon kita mau menanggapi dengan senyum, marah, cemberut atau nangis. Nikmati setiap masukan yang diberikan orang lain, meskipun mungkin cara penyampaian kritik yang diberikan tidak sesuai dengan yang kita inginkan.
.
9. Cuekin kalo kritiknya destruktif (menjatuhkan). Kalau kita mendapat kritik yang bersifat destruktif dan bukan konstruktif (membangun), maka cara yang paling efektif adalah, cuekin aja!! hehehe.. Karena kalo kita dengerin, yang ada nanti mempengaruhi pikiran kita dan produktivitas jadi terganggu. Contoh kritikan destruktif biasanya diselipi kata bodoh, dodol, odong, atau kata-kata lainnya yang bisa melemahkan rasa percaya diri.
.
10. Focus to your next step. Ini dia nih pamungkasnya. Saat mendapat kritik, ya sudah akui memang kita salah, tapi jangan terus menerus terpaku dengan kritik yang didapat tanpa melakukan hal apapun setelah itu. Hal yang harus kita lakukan adalah mengambil pelajaran dari kesalahan yang dilakukan lalu bangkit, memperbaiki diri dan menatap ke depan untuk masa depan yang lebih baik.
.
Yak, sekian tulisan tentang kritik menggelitik, semoga bisa bermanfaat bagi teman-teman semua. Tulisan ini juga menjadi pengingat bagi diri saya pribadi. Satu hal yang pasti, kritik itu seperti obat, yang mungkin terasa pahit di awal, tapi ada kebaikan yang dibawa, yaitu untuk membuat kita tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik dan berkembang.
.
Best regards,
@MuhammadAssad
https://muhammadassad.wordpress.com

Mahar atau Mas Kawin dalam Islam

Jangan Dipersulit, Inilah Mas Kawin yang Dianjurkan Islam 

Mas kawin atau mahar merupakan pemberian pria kepada wanita yang akan dinikahinya. Bentuknya bisa berupa harta atau bentuk lainnya sebagai salah satu syarat dalam pernikahan.

Mas kawin menjadi sebuah simbol penghormatan kepada istri dan keluarganya. Dalam budaya tertentu, orangtua  ikut serta dalam menetapkan jumlah mas kawin yang dianggap sesuai untuk putrinya. Tidak jarang jumlah yang diinginkan membuat pria kesulitan untuk menyanggupi.

Bahkan terkadang, sebuah pernikahan bisa batal karena ketidaksanggupan pria untuk memenuhi mas kawin yang ditetapkan. Sebanarnya bagaimana Islam mengatur tentang ini? Dan apa mas kawin yang dianjurkan dalam Islam?

Mas kawin merupakan hal penting sebagai salah satu syarat sahnya sebuah pernikahan. Karena begitu pentingnya, aturan ini dijelaskan Allah SWT dalam Al-Qur’an surat An-Nisa ayat 4.

“Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya” (QS. An-Nisa: 4)

Allah SWT memerintahkan agar calon suami mempersiapkan mas kawin dengan kadar yang pantas. Hal ini dijelaskan dalam Q.S. al-Nisa’: 25 yang artinya:

“Kawinilah mereka dengan seijin keluarga mereka dan berikanlah mas kawin mereka sesuai dengan kadar yang pantas, karena mereka adalah perempuan-perempuan yang memelihara diri.” (Q.S. al-Nisa’: 25).

Dari kedua ayat di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa mahar yang diberikan kepada wanita haruslah diberikan dengan penuh kerelaan, sesuatu yang berharga dan kadarnya pantas.

Meski dengan hak yang diberikan tersebut, wanita dan keluarganya harus menyesuaikan dengan kemampuan calon suami.  Dalam ajaran Islam, wanita diperintahkan agar  meminta mahar yang bisa memudahkan dalam proses akad nikah.

Rasulullah SAW dalam sebuah hadist menjelaskan bahwa wanita yang paling ringan ringan mas kawinnya, adalah wanita yang mendapat  banyak berkah dari Allah.

Rasulullah saw bersabda: “Wanita yang paling banyak berkahnya adalah yang paling ringan mas kawinnya” (HR. Hakim dan Baihaki).

Pada dasarnya, pria pasti ingin memberikan mas kawin yang terbaik untuk wanita yang akan menjadi istrinya. Namun jika kondisi ekonomi tidak mendukung, wanita diperintahkan untuk tidak memaksakan diri terhadap keinginannya terhadap mas kawin ini. Bahkan jika pria tidak memiliki biaya untuk membayar mahar, maka maka ia boleh membayar mahar dengan mengajarkan ayat Al-Qur’an yang dihafalnya.

“Seandainya seseorang tidak memiliki sesuatu untuk membayar mahar, maka ia boleh membayar mahar dengan mengajarkan ayat Al-Qur’an yang dihafalnya. (HR. Bukhari & Muslim)

‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallaahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Sebaik-baik pernikahan ialah yang paling mudah.’” (HR. Abu Daud)

Namun berbeda  jika kondisi calon suami mendukung, pastinya mereka tidak akan keberatan dengan apapun mas kawin yang diajukan wanitanya.  Sehingga wanita dan keluarganya bisa menetapkan mas kawin yang diinginkan.

Sementara itu Rasulullah sendiri memberi mas kawin kepada istri-istrinya berupa Uqiyah yang nilainya setara lima ratus dirham.

Dari Siti Aisyah ketika ditanya, berapa mas kawin Rasulullah saw? Siti Aisyah menjawab: “Mas kawin Rasulullah saw kepada isteri-isterinya adalah dua belas setengah Uqiyah (nasya’ adalah setengah Uqiyah) yang sama dengan lima ratus dirham. Itulah mas kawin Rasulullah saw kepada isteri-isterinya” (HR. Muslim).

http://www.infoyunik.com/

Sudahkah anda Berani Menikah?

Sudah Berani Menikah setelah Tahu 5 Hadits tentang Mahar Pernikahan 
Mahar atau mas kawin pernikahan adalah salah satu syarat yang harus dipenuhi agar pernikahan menjadi sah. Mahar ini diberikan oleh pihak laki-laki kepada pihak mempelai wanita. Hadits tentang mahar bisa diketahui bagaimana Rasulullah SAW selalu menanyakan kepada para sahabatnya tentang mahar apa yang akan diberikan kepada calon mempelai wanita.

Mahar atau ada juga yang menyebut sebagai seserahan merupakan hak milik istri dan tidak boleh siapapun mengambilnya. Kecuali...

... jika sang istri rela, ridha memberikan mahar tersebut diberikan kembali kepada sang suami ataupun siapa saja yang dikehendakinya.

Mahar pernikahan dalam Islam, disebutkan pula oleh Allah SWT di dalam Al Quran berikut, yang artinya...


“Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya” (QS. An-Nisa: 4)

Mahar adalah Syarat, bukan Tujuan
Mahar dalam Islam memang sifatnya wajib diberikan kepada calon istri. Namun, Islam tidak pernah memberikan rincian tentang 'kewajiban' kadar atau jumlah dari mahar. Karena...

...mahar itu harus ditempatkan pada tempatnya bahwa ia hanya syarat sah, media bukan tujuan akhir dari pernikahan.

Jadi, salah anggapan umum di dalam masyarakat jika menganggap mahar merupakan tujuan pernikahan. Apalagi, maksud salah lain seperti, dengan mahar dan seserahan yang besar maka bisa membuatnya kaya raya.

Mahar, Pemberian Sukarela
Pada praktiknya, apa yang dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabat bervariasi jumlah dan macam mahar yang diberikan. Bahkan... ada mahar yang unik di masa Rasulullah yakni berupa hafalan Al Quran dari sahabat.

Karena mahar sifatnya pemberian yang sukarela, maka...

... tidak boleh ditetapkan sedemikian rupa sehingga bisa memberatkan mempelai pria, susah disanggupi ataupun malah tidak patut atau layak.

Pemberian sukarela ini, memerlukan adanya perasaan ridha, ikhlas diantara dua pihak satu sama lain. Baik itu dari pihak mempelai pria sebagai orang yang memberi mas kawin, ataupun...

... dari pihak wanita sebagai orang yang diberi mas kawin, seserahan.

Contoh ataupun hadits-hadits tentang mahar pernikahan, adalah sebagai berikut:

1. Pernikahan yang Paling Berkah
Di dalam hadits disampaikan oleh Rasulullah SAW ciri atau tanda pernikahan yang berkah itu.

Pernikahan yang berkah ditandai dengan mahar yang mudah. Berikut sabda Nabi SAW.

“Pernikahan yang paling besar keberkahannya ialah yang paling mudah maharnya” (HR. Ahmad).

2. Keberkahan Istri
Istri yang mendatangkan berkah untuk suaminya, juga ditandai dengan mahar.

Tanda keberkahan itu dimulai dengan; mudahnya ia dipinang, mudah/ringan maharnya, dan mudah rahimnya (mudah melahirkan). Sebagaimana dalam hadits dari Rasulullah SAW berikut.

“Sesungguhnya di antara tanda keberkahan istri adalah mudah meminangnya dan mudah/ringan maharnya serta mudah rahimnya” (HR. Ahmad; hasan)

3. Mahar Boleh bukan Harta
Mahar adalah pemberian yang dilandasi oleh keikhlasan oleh keduanya.

Sesuai kemampuan dan mudah untuk dicari atau di dapatkan. Oleh karena itu, di dalam Islam kita menemukan mahar yang cukup 'unik' yang diberikan oleh sabahat Rasul yakni berupa pengajaran atau hafalan Al Quran.

Hadits tentang mahar yang memberikan gambaran bahwa mahar boleh bukan harta adalah berikut ini.

Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Sahl bin Sa’ad as-Sa’idi Radhiyallahu anhu, ia mengatakan, “Aku berada di tengah kaum di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba seorang wanita berdiri lalu mengatakan: ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya dia menghibahkan dirinya kepadamu, maka bagaimana pendapatmu mengenainya?’

Beliau tidak menjawabnya sedikit pun. Kemudian ia berdiri kembali lalu berkata: ‘Wahai Rasulullah, dia menghibahkan dirinya kepadamu, maka bagaimana pendapatmu mengenainya?’ Beliau tidak menjawabnya sedikit pun. Kemudian dia berdiri untuk ketiga kalinya lalu berkata: ‘Dia telah menghibahkan dirinya kepadamu, maka bagaimana pendapatmu mengenainya?’

Lalu seorang pria berdiri dan mengatakan, ‘Wahai Rasulullah, nikahkanlah aku dengannya?’ Beliau bertanya, ‘Apakah engkau mempunyai sesuatu?’ Ia menjawab: ‘Tidak.’ Beliau bersabda: ‘Pergilah, lalu carilah walaupun cincin yang terbuat dari besi!’
Ia pun pergi dan mencari, kemudian datang seraya mengatakan: ‘Aku tidak mendapatkan sesuatu, dan tidak pula mendapatkan cincin dari besi.’ Beliau bertanya: ‘Apakah engkau hafal suatu surat dari al-Qur-an?’ Ia menjawab: ‘Aku hafal ini dan itu.’ Beliau bersabda: ‘Pergilah, karena aku telah menikahkanmu dengannya, dengan mahar surat al-Qur-an yang engkau hafal.'

4. Mahar tidak Boleh Memberatkan
Terdapat larangan dalam Islam untuk memberatkan pemberian mahar. Bahkan dikatakan bahwa...

... seandainya mahar yang banyak itu adalah tanda kemuliaan atau ketakwaan, maka pastilah Nabi SAW telah memberikan contoh kepada ummatnya bagaimana ia memberikan mahar yang sebanyak-banyaknya.

Namun, pada fakta pernikahan beliau. Jumlah mahar yang diberikan beliau bervariasi kepada istri-istri beliau.

Dari al-Hasan al-Bashri, ia menuturkan: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Nikahkanlah kaum wanita dengan kaum pria, tapi jangan bermahal-mahal dalam mahar.”

‘Umar bin al-Khaththab berkhutbah kepada manusia dengan pernyataannya: ‘Ingatlah, janganlah kalian bermahal-mahal dalam mahar wanita. Sebab, seandainya (bermahal-mahal dalam) mahar itu termasuk suatu kemuliaan di dunia atau merupakan ketakwaan di sisi Allah, pastilah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam orang yang paling utama di antara kalian (dalam hal ini), (namun) beliau tidak pernah memberi mahar kepada seseorang dari isteri-isterinya dan tidak pula meminta mahar untuk seseorang dari puteri-puterinya lebih dari 12 auqiyah (ons) perak.’

At-Tirmidzi menilainya sebagai hadits shahih.”

5. Fatimah Azzahra, Puteri Nabi SAW maharnya Seharga Baju Besi
Puteri tercinta Nabi Muhammad SAW adalah Fatimah.

Fatimah menikah dengan Ali bin Abi Thalin RA. Tentang hadits mahar yang diberikan oleh Ali kepada puteri Nabi SAW dapat kita ketahui dalam riwayat berikut.

Imam Abu Dawud dan an-Nasa`i meriwayatkan dari Ibnu Abbas berkata, ketika Ali menikah dengan Fatimah, Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya, “Berikanlah sesuatu kepadanya.” –Maksud beliau sebagai mahar pernikahan- Ali menjawab, “Aku tidak punya apa-apa.” Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam bertanya, “Lalu di mana baju perang huthamiyah milikmu.” Hadits ini dishahihkan oleh al-Hakim.
http://www.bicarawanita.xyz/