Sabtu, 04 April 2015

SISI LAIN SERIAL ABAD KEJAYAAN ANTV: Serial Abad Kejayaan, Masih Perlukah Diperdebatkan?

1422757979758239679
Serial Abad Kejayaan yang tayang di Antv (tribunnews)
Memasuki episode keempat yang lalu, Antv telah mengganti nama serial King Suleiman menjadi Abad Kejayaan. Ditengarai, pergantian nama ini sebagai respons Antv menyikapi protes dari sebagian umat Islam di negeri ini.
Mengapa merespons? Boleh jadi karena adanya stigma ‘dosa’ yang pernah dilekatkan pada serial King Suleiman. Tudingan itu mengarah pada isi cerita dari serial tersebut yang ingin melencengkan fakta sejarah, menampilkan wanita-wanita tak menutup aurat, memperlihatkan karakter sultan Sulaiman yang angkuh dan gemar berganti pasangan hingga tudingan lebih keras lagi; merusak citra Islam!
Lantas pantaskah semua itu diterima secara bulat-bulat saja? Saya tak ingin berdebat layaknya forum debat di Indonesia Lawyer Club. Saya lebih senang bercengkrama santai, ditemani segelas kopi hangat sambil tak lupa mengepulkan asap dari sebatang rokok kretek yang terhisap. Dengan cara seperti ini, saya yakin setiap persoalan akan selalu ada pemecahannya. Maklumlah, bukankah hadirnya serial ini sejatinya hanya untuk menghibur, bukan memberikan pembelajaran sejarah kepada kita semua?
Nah, pada saat kita sudah menyepakati serial ini sebagai bentuk hiburan maka ketika membenturkan sebuah karya fiksi dengan fakta sejarah, rasanya menjadi tak lagi selaras. Bagaimana tidak, bukankah karya yang menyadur dari novel The Sultan’s Harem karya Colin Falconer ini pada hakikatnya hanyalah novel fiksi?
Lalu mengapa Antv begitu tertarik untuk mengganti judul serial ini? Seperti informasi yang tersiar, pihak Antv mempunyai dua alasan. Alasan pertama, ingin menyesuaikan dengan penerjemahan judul asli dari serial produksi negara asalnya di Turki, yakni The Magnificent Century. Alasan berikutnya, menghindari persepsi negatif masyarakat terhadap sosok Raja Suleiman.
Dari dua alasan itu adakah yang terasa mengada-ada? Tampaknya, inilah sebuah jalan tengah untuk menyikapi protes yang terjadi di tengah masyarakat kita. Siasat semacam ini sesungguhnya bukanlah hal baru di dalam industri pertelevisian di negeri ini. Tengoklah program Empat Mata di Trans7 yang dipandu oleh Tukul Arwana. Usai menuai protes keras, nama program itu kemudian diganti menjadi Bukan Empat Mata.
Tapi muncul kembali pertanyaan lainnya, sudah sejalankah pergantian judul itu dengan perubahan konten ceritanya? Untuk menjawabnya, marilah simak pengakuan dari beberapa tokoh agama Islam yang telah menayangkan serial Abad Kejayaan ini.
“Kami melihat Antv telah berusaha menjaga figur Raja Suleiman dalam tayangannya sehingga memang terlihat lebih baik dibandingkan yang kami saksikan di Youtube”, kata Kyai M.Shobari, ketua umum Korps Muballigh Jakarta (KMJ).
Sekretaris KMJ, Miftah Mahfud, menambahkan serial Abad Kejayaan yang tayang di Antv ini memang sangat berbeda jika dibandingkan yang ada di dalam versi Youtube maupun DVD bajakan yang diperjualbelikan dengan bebas. ”Perbedaan dimungkinkan karena proses swa sensor dilakukan manajemen dengan ketat dan hati-hati,” katanya. (Sumber: http://showbiz.liputan6.com/read/2166176/dikritik-serial-fiksi-abad-kejayaan-perbaiki-diri)
Pendapat lainnya juga disampaikan oleh Ketua Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (Lesbumi PBNU), Al-Zastrouw Ngatawi. Al-Zastrouw menyatakan alur cerita yang menjadi landasan kisah di serial ini merupakan karya fiksi belaka. “Hal ini dibuktikan dengan banyaknya unsur-unsur dramatis yang fiktif yang disajikan dalam berbagai adegan di film tersebut.”
“Karena bukan film dokumenter atau film sejarah maka film Abad Kejayaan ini tidak bisa dijadikan rujukan, sumber, atau pijakan sejarah,” demikian Zastrouw membeberkan pandangannya kepada serial Abad Kejayaan ini.
Apa yang disampaikan oleh Al-Zastrouw, peraih gelar doktor dari Universitas Indonesia (UI) lewat disertasi ‘Kapitalisasi Simbol Agama: Studi Atas Fenomena Kelas Ongkang-Ongkang Komunitas Pesantren’, ini menjadi sangat menarik untuk dijadikan titik tekan. Mengapa? Jika ingin mengenali sejarah kejayaan Kesultanan Turki Ustmani atau bangsa Barat menyebutnya Ottoman atau juga ingin mengetaui bagaimana tentang Raja Suleiman maka membaca menjadi syarat paling utama.
Pada konteks inilah, masyarakat di negeri ini — terutama saya dan juga umat Islam pada umumnya — kiranya perlu melakukan refleksi. Sudahkah kita benar-benar menggali sejarah itu dari hasil membaca literatur sejarah? Atau justru sebaliknya, kita ternyata hanya memperoleh pengetahuan sejarah itu berdasarkan cerita atau menonton saja?
Kiranya, usaha untuk mendapatkan pengetahuan dari membaca ini memang masih belum menjadi budaya di negeri ini. Mari kita tengok fakta yang dibeberkan Badan Pusat Statistik (BPS) 2014. Saat itu diperlihatkan perilaku penduduk Indonesia yang menjadikan baca sebagai sumber informasinya, hanya sekitar 20 persen saja. Lalu hampir 80 persen orang justru lebih suka memperolehnya dari menonton televisi dan mendengarkan radio.
Inilah sebuah fakta yang tak dapat ditampik lagi. Jadi perlu juga kiranya kita mendengar saran dari tokoh NU, KH Masdar Farid Mas’udi. Ia mengatakan penulis sejarah Islam memang masih minim. Dengan demikian, umat Islam banyak yang tidak mengetahui secara detail bagaimana perkembangan Islam, dari awal hingga sekarang.
”Akibatnya jika kemudian muncul film fiksi yang dikait-kaitkan dengan Islam, penafsirannya pun berbeda-beda. Ini harus diluruskan. Karena budaya Islam yang sebenarnya tidak sama dengan film-film fiksi,” ujar dia seperti dikutip dari Tempo Online.
Terlepas dari ragam pandangan yang muncul, toh serial ini ternyata telah menjadi tontonan yang menghibur bagi masyarakat. “Film abad kejayaan terkesan dngn raja sulaiman yg arif dan bijaksana,” tulis pemilik akun @sitiH75. Hal yang sama juga dicuit oleh @yatihadiant,”@abadkejayaan_ID episod mlm ini baguus bngt seru,romantis,juga menegangkan sukses@Abadkejayaan”
So, akankah serial Abad Kejayaan ini ingin terus kita perdebatkan?
http://hiburan.kompasiana.com/televisi/2015/02/01/serial-abad-kejayaan-masih-perlukah-diperdebatkan-720655.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

1 SHARE DARI ANDA SANGAT BERHARGA BUAT BANYAK ORANG, SAMPAIKANLAH WALAU 1 AYAT, SEMOGA BERMANFAAT.

Jika anda merasa artikel diatas berguna dan bermanfaat bagi banyak orang, silahkan share / bagikan artikel diatas ke banyak orang lewat facebook / twitter anda.
Semoga anda mendapatkan pahala setelah membagikan artikel diatas, semoga setelah anda bagikan banyak bermanfaat buat semua orang, amin.

( Sampaikanlah walau satu ayat, untuk kebaikan kita semua )

Salah satu cara mencari pahala lewat internet adalah dengan menyebarluaskan artikel, situs/blog dan segala kebaikan yang diperoleh darinya kepada orang lain. Misalnya adalah kepada keluarga, sahabat, rekan kerja dan sebagainya.

Apa Pendapat Anda Tentang Artikel Diatas
Silahkan gunakan profile ( Anonymous ) jika anda tidak mempunyai Account untuk komentar

Jika anda ingin berpartisipasi ikut menulis dalam blog ini atau ingin mengirim hasil karya tulisan anda, membagikan informasi yang bermanfaat buat banyak orang lewat tulisan anda silahkan kirim tulisan anda ke email saya bagindaery@gmail.com
Tulisan anda akan dilihat dan dibaca oleh ribuan orang tiap harinya setelah anda mengirimkannya ke bagindaery@gmail.com