Sabtu, 11 April 2015

Sisi Lain: Mirisnya Nasib Karyawan Dealer Motor

Penampilannya sangatlah ramah, anggun, dan rapi. Ucapannya sangat lembut menyambut setiap tamu yang datang ke dealer atau showroom motornya. Bahasa tubuhnya sangat menguasai audiens karena memang ia disiapkan untuk menemui setiap tamu dan menjawab semua pertanyaannya dengan baik. Dan pakaiannya sangat bagus karena berbentuk seragam yang dilengkapi nama perusahaannya. Maka, kita pasti terkesima atas semua itu. Namun, betapa miris nasibnya manakala kita mengetahui “jeroan” alias isi hatinya.
Kemarin, saya mendatangi sebuah showroom motor di kota Solo. Beberapa waktu lalu, saya ingin membeli motor baru untuk keperluan istri tercinta. Lalu, saya ditemui oleh beberapa pramuniaga alias sales. Sambil bercakap-cakap, saya disodori brosur beragam produk motor. Saya pun mengamati produk motor-motor itu. Lalu, saya menanyakan motor yang diinginkan istri. Akhirnya, istri menginginkan sebuah motor jenis tertentu. Tak disangka, motor yang diinginkan istri tersebut habis. Saya diminta menunggu 2-3 hari. Dan kemarin itulah, saya menagih janji atas motor yang dijanjikan. 
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEju5gYWCBMmlxPq0l4-BHOXvNzWDrmofTshB_v-rehcJBGgRs-qtT3USbgl13sDr6ZvOj0_fMLjeNTyaTKoiSn0nulHQeeoupyMrfFJ0IrOUbdtu7hxB0t4-RJjZuUxrt5pA-r-MSFYqnY/s1600/manusia-pasrah%255B1%255D.jpg


Ternyata, motor pesananku memang sudah tersedia. Akhirnya, saya pun menyiapkan sejumlah uang untuk pembayaran kontan. Saya memang tak terbiasa membeli sesuatu secara kredit sejak lama. Setelah pembayaran selesai, saya diminta menunggu sekitar satu jam untuk penyetelan motor tersebut. Setelah satu jam berlalu, motor pesananku sudah siap untuk diantar ke rumahku. Motor lamaku pun dinaikkan ke mobil dealer. Maka, tiga buah motor naik ke mobil bak terbuka karena kebetulan sebuah motor matic pun akan diantar ke pembeli di daerah Mojosongo Solo.

Saya duduk di samping Mas Sopir, namanya Mas Haris. Wajahnya lumayan ganteng, ramah, dan sangat rapi. Mas Haris berumur 34 tahun, sudah beristri, dan memiliki dua orang anak (seorang laki-laki berumur 5 tahun dan seorang perempuan berumur 2 tahun). Mas Haris tinggal satu kabupaten denganku. Dari rumahnya di Sumberlawang Sragen menuju Solo perlu menempuh jarak sekitar 25 km atau 50 km setiap hari. Mas Haris bekerja sebagai sopir di dealer itu sudah sekitar satu tahun. Sebelumnya Mas Haris juga menjadi sopir dealer untuk jenis produk kendaraan ayng berbeda.




Dari obrolan itulah terkuak “dapur” perusahaan yang menjadi tempatnya bekerja. Ternyata, upah yang diberikan kepada Mas Haris dan kawan-kawannya jauh dari norma sebagai karyawan dan atau pekerja. Apa saja hak karyawan yang tidak diberikan?
Upah Per Hari
Setiap hari kedatangan, Mas Haris hanya diberikan upah Rp 27.000. Jika Mas Haris berhalangan hadir karena beragam sebab, secara otomatis upahnya dipotong tanpa toleransi apapun. Ternyata, nasibnya masih lebih baik daripada karyawan lainnya yang hanya diberi upah sekitar Rp 25.000 setiap hari kedatangannya. Benar-benar teramat sedikit dibandingkan pekerjaannya yang harus mengantarkan sekitar 10-15 motor setiap harinya.
Tak Mendapat Makan
Makan pagi atau makan siang ditanggung sendiri oleh Mas Haris atau karyawan lainnya. Perusahaan tidak menyediakan makanan dan minuman. Jadi, karyawan harus membawa makanan dan minuman itu dari rumah. Maka, tentu saja upahnya yang hanya berkisar Rp 25.000 – Rp 30.000 per hari dipotong untuk makan dan transportasi. Tentu saja akhirnya upah bersihnya makin sedikit jika ikut makan dan atau minum di kantin perusahaan.


Tak Mendapat Hak Sosial
Semua orang pasti akan mengalami peristiwa tertentu yang memaksanya tidak bekerja, seperti sakit, melahirkan, anak sakit, memiliki acara keluarga, dan lain-lain. Ternyata, perusahaan Mas Haris sama sekali tidak mengindahkan situasi itu. Karyawan tidak diberikan hak sosial, seperti jaminan kesehatan, santunan sosial, cuti dan lain-lain. “Tidak bekerja ya tidak dibayar” ucap Mas Haris.
Saya tak habis pikir, perusahaan dealer Mas Haris merupakan dealer dengan puluhan anak perusahaan di banyak tempat. Satu dealer di tempat Mas Haris saja mampu menjual sekitar 10-15 motor per harinya. Namun, mengapa para karyawan itu dibiarkan dalam kondisi yang mengenaskan? Mengapa perusahaan itu tidak mengindahkan peraturan tentang ketenagakerjaan? Sempat saya bertanya kepada Mas Haris, “Mengapa karyawan tidak memprotes peraturan perusahaan?”
Jawaban Mas Haris cukup singkat, “Peraturan itu adalah ucapan bosku!”
Teriring salam,
Johan Wahyudi

http://ekonomi.kompasiana.com/manajemen/2012/11/29/mirisnya-nasib-karyawan-dealer-motor-506880.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

1 SHARE DARI ANDA SANGAT BERHARGA BUAT BANYAK ORANG, SAMPAIKANLAH WALAU 1 AYAT, SEMOGA BERMANFAAT.

Jika anda merasa artikel diatas berguna dan bermanfaat bagi banyak orang, silahkan share / bagikan artikel diatas ke banyak orang lewat facebook / twitter anda.
Semoga anda mendapatkan pahala setelah membagikan artikel diatas, semoga setelah anda bagikan banyak bermanfaat buat semua orang, amin.

( Sampaikanlah walau satu ayat, untuk kebaikan kita semua )

Salah satu cara mencari pahala lewat internet adalah dengan menyebarluaskan artikel, situs/blog dan segala kebaikan yang diperoleh darinya kepada orang lain. Misalnya adalah kepada keluarga, sahabat, rekan kerja dan sebagainya.

Apa Pendapat Anda Tentang Artikel Diatas
Silahkan gunakan profile ( Anonymous ) jika anda tidak mempunyai Account untuk komentar

Jika anda ingin berpartisipasi ikut menulis dalam blog ini atau ingin mengirim hasil karya tulisan anda, membagikan informasi yang bermanfaat buat banyak orang lewat tulisan anda silahkan kirim tulisan anda ke email saya bagindaery@gmail.com
Tulisan anda akan dilihat dan dibaca oleh ribuan orang tiap harinya setelah anda mengirimkannya ke bagindaery@gmail.com