Minggu, 05 April 2015

Kisah Nyata Vonis Dokter dan Kesempatan Kedua

Minggu lalu, saya mendapat keponakan baru. Ini ‘sesuatu banget’ buat kami sekeluarga, karena sang ponakan sempat divonis dokter sebagai janin yang tidak berkembang alias blighted ovum. Untungnya adik saya dan isterinya memutuskan mencari second opinion dari dokter lain, yang kemudian menyatakan masih ada kemungkinan meneruskan kehamilan. Demikian hingga pada tanggal 11 April lalu lahirlah bayi perempuan lucu yang Alhamdulillah, sampai detik ini normal dan sehat.
Saya jadi teringat kisah emak waktu mengandung saya. Beberapa dokter sudah menyatakan, “Ini janin lemah, kalau diteruskan tidak akan bagus”. Menurut pengakuan emak, beliau beberapa kali disuntik untuk mengeluarkan saya, sang janin. Untungnya beliau kemudian sampai pada dokter lain yang mengatakan “Dicoba aja bu, Bismillah”. Emak saya pun meneruskan kehamilan.  Dan, jreeeng…. lahirlah saya,  yang sekarang sudah segede ini, dan ternyata nggak jelek-jelek amat! Lumayan bisa masuk ITB , walau hanya mahasiswi mediocre dan penggembira. Efek upaya untuk ‘menggugurkan’ saya ternyata hanya bikin rusak saraf pendengaran. Syukurlah cuma kuping kiri yang tuli total. Walhasil sekarang kalau saya keasikan korek kuping kanan (korek kuping kan nikmat!) sampai merem-melek, suami saya langsung protes “Be careful don’t hurt yourself, I don’t want to learn sign language” :D
Kalau ingat bahwa saya dulunya juga ‘hampir tidak ada’, kadang bikin saya rada-rada insap untuk lebih menghargai hidup, karena sudah untung diberi kesempatan untuk hidup . Bicara soal kesempatan kedua, beberapa waktu lalu di kantor/lab saya kedatangan tamu yang sungguh memberi saya pencerahan soal ini.
Apop Harris
Namanya Jessica Stevens, ia adalah mantan penderita suatu penyakit langka bernama  Reflex Sympathetic Dystrophy, sebut saja RSD (Bukan Rida Sita Dewi yaa ). RSD merupakan kelainan saraf yang bila sangat parah seperti yang dialami Jessica, rasa sakitnya tergolong tinggi sampai tidak bisa ngapa-ngapainPain scale/ skala rasa sakit yang dirasakan pasien RSD bisa mencapai angka tertinggi dibandingkan dengan sakit karena melahirkan normal, amputasi, patah tulang atau kanker. Ini terjadi karena ujung-ujung saraf penderita tak henti-hentinya mengirim sinyal ke otak, hingga otak merespon dengan mengeluarkan zat kimia yang membuat rasa sakit terbakar, tertusuk di sekujur tubuh. Akibatnya Jessica tak bisa hidup normal karena terus menerus kesakitan. Ngilu mendengarnya.  Ia hidup, tetapi tidak bisa menjalani hidup. Jessica bercerita, setelah segala upaya dilakukan, dokter di seantero Amerika Serikat sudah ‘menyerah’ untuk menangani kondisi ini. Ia malah disarankan ke Meksiko untuk menjalani pengobatan yang tidak bisa dilakukan di AS. Pengobatan ‘alternatif’ ini bukannya tak berisiko mengancam nyawanya. Ia memutuskan menempuh risiko itu, dan kini Jessica terlihat begitu sehat, semangat, walaupun harus duduk di kursi roda.


Kenapa di Amerika Serikat, yang katanya lebih maju dalam dunia kedokteran bisa tidak mampu menangani penyakit ini, malah si Jessica sembuh setelah berobat ke Meksiko? Ini mirip-mirip dengan film Dallas Buyers Club. Buat yang belum nonton, itu loh, film yang bikin Matthew McConaughey meraih Oscar pemeran pria terbaik tahun ini. Film kisah nyata penderita AIDS berjuang mencari pengobatan alternatif sampai harus ke luar Amerika Serikat. Alasannya kira-kira sama dengan Jessica: Obat/tindakan yang memungkinkan untuk menyembuhkan pasien, belum dianggap legal oleh hukum di AS. Menjalani pengobatan ini tidak bisa di AS karena akan melanggar hukum.
Balik ke kisah Jessica, satu-satunya prosedur yang memungkinkan dilakukan saat itu adalah ketamine coma dosis tinggi, yaitu mengkomakan pasien memakai obat ketamine dengan harapan sistem saraf yang rusak bisa kembali normal setelah distirahatkan. Ibarat me-restart komputer yang nge-hang, tapi tentu saja dengan risiko besar. Jessica sempat bangun sehabis di-restart alias dibuat koma, dan bukannya bertambah baik, malah kehilangan penglihatan! Dokter harus membuat dia kembali koma, proses panjang 2 tahun sampai akhirnya ia diizinkan ‘hidup lagi’. Tak heran kini ia begitu semangat dan optimis. Melihatnya sekarang dan membandingkan dengan keadaannya dulu rasanya tidak percaya.  Sekilas ceritanya bisa dilihat di video cuplikan berita di bawah ini:




Sebenarnya bisa dimaklumi kalau tindakan medis ini dilarang di Amerika Serikat karena berisiko. Tetapi ada yang menarik soal hukum di AS bila dibandingkan dengan di Indonesia. Di satu sisi kita kadang memuja negara maju seperti AS yang begitu melindungi pasien dari malpraktik, dan spontan membandingkan dengan di Indonesia yang justru banyak pasien tak berdaya menghadapi kasus malpraktik  karena lemahnya hukum.  Di Indonesia pengobatan alternatif juga bebas merajalela dan kurang ada kontrolnya.

Kedua sisi ekstrim menurut saya tidak bagus juga.  Sisi gelap dari hukum di AS; terkadang alih-alih melindungi pasien dari malpraktik, justru malah membatasi pasien untuk mencari alternatif kesembuhan yang memungkinkan. Seolah ilmu kedokteran yang notabene adalah ilmuNya yang Maha Luas, dibatasi hanya pada metode yang dilegalkan oleh pemerintah AS saja. Belum lagi ada kepentingan industri asuransi kesehatan, produsen obat dan pengacara. Produsen obat cari makan lewat jual obat, bisa melobi pemerintah lewat FDA buat melarang obat alternatif kompetitor. Pengacara cari makan lewat tuntutan malpraktik terhadap dokter. Dokter takut terhadap pengacara sehingga bisa ragu mengambil tindakan. Pasien tetap membayar biaya medis mahal walaupun sudah punya asuransi kesehatan. Pusing, lieur? Sama! Intinya, penyelenggara negara jadi bisa ditarik-tarik membuat kebijakan berdasarkan kepentingan periuk berlian mereka,  bukan kepentingan dan kemudahan pasien.


Anyway, berkaca pada kelahiran keponakan yang mirip dengan kelahiran saya yang hampir tidak jadi, serta  pertemuan saya dengan Jessica, saya kembali diingatkan untuk bersyukur atas nikmat hidup dan nikmat sehat. Tidak usah berlebihan komplain dan iri pada orang lain, karena di saat kita kepingin seperti orang lain, banyak orang berjuang untuk kepingin sekali sekedar memiliki apa yang kita punya: nikmat sehat.
Di luar dokter salah diagnosa dan memvonis tidak ada jalan kesembuhan, masih ada dokter yang lebih pintar dan mengupayakan jalan lain .  Di luar dokter yang paling pintarpun masih ada yang Dia Yang Maha Pintar, yang kuasa memberikan kesembuhan. Apa yang menurut pengetahuan manusia saat ini mungkin tidak ada obatnya,  bisa jadi karena ilmu kita masih terlalu cetek untuk mengungkapkan ilmuNya,  Dia yang ilmu dan kekuasaanNya lebih luas dari segala dokter dan ilmuwan manapun.
https://marthianyblog.wordpress.com/2014/04/18/vonis-dokter-dan-kesempatan-kedua/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

1 SHARE DARI ANDA SANGAT BERHARGA BUAT BANYAK ORANG, SAMPAIKANLAH WALAU 1 AYAT, SEMOGA BERMANFAAT.

Jika anda merasa artikel diatas berguna dan bermanfaat bagi banyak orang, silahkan share / bagikan artikel diatas ke banyak orang lewat facebook / twitter anda.
Semoga anda mendapatkan pahala setelah membagikan artikel diatas, semoga setelah anda bagikan banyak bermanfaat buat semua orang, amin.

( Sampaikanlah walau satu ayat, untuk kebaikan kita semua )

Salah satu cara mencari pahala lewat internet adalah dengan menyebarluaskan artikel, situs/blog dan segala kebaikan yang diperoleh darinya kepada orang lain. Misalnya adalah kepada keluarga, sahabat, rekan kerja dan sebagainya.

Apa Pendapat Anda Tentang Artikel Diatas
Silahkan gunakan profile ( Anonymous ) jika anda tidak mempunyai Account untuk komentar

Jika anda ingin berpartisipasi ikut menulis dalam blog ini atau ingin mengirim hasil karya tulisan anda, membagikan informasi yang bermanfaat buat banyak orang lewat tulisan anda silahkan kirim tulisan anda ke email saya bagindaery@gmail.com
Tulisan anda akan dilihat dan dibaca oleh ribuan orang tiap harinya setelah anda mengirimkannya ke bagindaery@gmail.com