Sabtu, 29 Maret 2014

Berita Ical Golkar: Antara Teddy Bear, Si Komo dan Nasionalisme Ical

HeadlineINILAHCOM, Jakarta – Merebaknya evaluasi pencapresan Aburizal Bakrie di Partai Golkar tidak terkait video pelesirnya ke Maladewa. Ical dianggap layak dievaluasi karena sikapnya yang cenderung tidak nasionalis.
Sebagaimana ramai diberitakan media massa, Senin (24/3/2014) lalu Ketua Dewan Pembina Partai Golkar Akbar Tandjung, menilai evaluasi pencalonan Ical sebagai calon presiden dari partai sangat mungkin dilakukan. Alasan Akbar waktu itu terutama melihat fakta betapa tingkat keterpilihan alias elektabilitas ketua umum Partai Golkar itu di bursa pencapresan tetap saja memble.
Itu hasil berbagai riset sebelum euforia pencapresan Jokowi menyebar seolah virus di masyarakat. Jadi, apalagi saat ini, manakala publik sudah seolah menggigil rindu, ingin Jokowi cepat-cepat jadi presiden dan merombak negeri yang karut marut ini. Kalau merujuk idiom Basuki Srimulat sih, ‘hil yang mustahal’ elektabilitas Ical tiba-tiba meroket dan berubah kece.
“Jadi, ini (pencapresan) saudara Aburizal, dinamis,”kata Akbar kepada wartawan, saat itu. Selain lawan kata dari statis, dalam politik kata dinamis bisa pula berarti belum ‘fixed’ alias belum pasti. Artinya, bagi Golkar—paling tidak Akbar dan kawan-kawan, masih mungkin menawarkan opsi selain Ical.
Lalu wajar bila publik kontan mengaitkan bergesernya sikap Golkar yang bulan-bulan sebelumnya terkesan rigid soal pencapresan itu dengan beredarnya video pelesir Ical-Azis Syamsuddin bersama duo Jalianty ke Maladewa. Common sense setiap orang wajar berkata hal itu akan memengaruhi elektabilitas Ical.
Bila tidak, mana mungkin pucuk pimpinan Grup Bakrie itu repot-repot mengumpulkan anggota keluarga plus menantu, menghubungi para wartawan, membeli sekian banyak boneka Beruang Teddy, dan kompak memeluk boneka unyu-unyu itu saat konferensi pers?
Tetapi lain dari publik, Partai Golkar adalah partai dewasa untuk berpikir sedangkal itu. Benar dan sangat masuk akal ketika Ical sendiri menangkis pikiran cupet publik kepada pers, usai kampanye di Pondok Pesantren Darul Fikri Al-Andalusy, Bogor, Jumat (21/3/2014) lalu. “Ini bukan persoalan bangsa,” kata Ical. Tepat sekali, karena hanya mereka yang terlalu dengkilah yang akan berpikir pergi leyeh-leyeh ke Maladewa itu terkait masa depan bangsa Indonesia dan nasib 250 juta rakyatnya.
Mereka tahu, rakyat Indonesia tak akan menganggap pelesir itu bermasalah. Bukankah selama ini pun rakyat tak pernah mempermasalahkan moralitas wakilnya? Bukankah tak sedikit wakil rakyat yang ketahuan lancung dalam urusan syahwat itu terpilih kembali dan menerima amanah agung mewakili publik untuk meneriakkan amanat penderitaan mereka?
Lewat banyak buku—setidaknya saya hafal salah satunya, ‘Parlemen Undercover’, belang dan lancungnya wakil rakyat di urusan selangkangan itu terbuka. Toh publik pun rileks dan adem ayem saja. Mereka terbiasa menikmati tayangan perselingkuhan seperti itu di sinetron. Jadi kalau memang ada di dunia nyata, apa anehnya?
Yang dipermasalahkan Golkar tampaknya lebih pada sikap tidak nasionalis yang diperlihatkan Aburizal. Bagaimana mungkin Ical tega memeluk boneka Teddy Beruang, mengabadikannya dalam video yang di abad informasi ini dengan mudah diunggah menyebar via youtube serta membuka peluang besar untuk naik pamornya Beruang Teddy? Sebagai calon presiden, tidak sadarkah Ical bahwa Teddy Bear itu icon dan merek luar negeri, yang tak membawa keuntungan apapun kepada negara sehingga harus diberi iklan gratis oleh tokoh nasional seperti dirinya?
Mengapa, misalnya, ia tidak memeluk boneka Si Komo yang asli made in Indonesia dari ide, bahan baku, hingga keringat para pembuatnya? Bila itu dilakukan, anak-anak akan senang melihat boneka asli negeri sendiri itu terpampang di layar tivi, melanglang buana via Youtube dan mungkin saja mengundang minat para balita bule.
Negeri ini akan kebanjiran permintaan boneka Si Komo, yang membuat para janda dan ibu-ibu tua pembuatnya di bilangan Cijawura, Ciwaruga dan Majalaya sumringah akan gairah untuk terus bekerja mencari berkah. Keringat mereka sekejap berubah rupiah dan paling tidak bulan-bulan ke depan aman sejahtera(h).
Lalu sekian juta rakyat akan mengelu-elukan Ical sebagai pahlawan bangsa yang meroketkan pendapatan negara dan meraup devisa. Akhirnya, ia layak tak sekadar jadi calon, tapi presiden asli Indonesia.
Sayang bukan itu yang terjadi. Jadi wajar Golkar kecewa dan mengevaluasi. [dsy]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

1 SHARE DARI ANDA SANGAT BERHARGA BUAT BANYAK ORANG, SAMPAIKANLAH WALAU 1 AYAT, SEMOGA BERMANFAAT.

Jika anda merasa artikel diatas berguna dan bermanfaat bagi banyak orang, silahkan share / bagikan artikel diatas ke banyak orang lewat facebook / twitter anda.
Semoga anda mendapatkan pahala setelah membagikan artikel diatas, semoga setelah anda bagikan banyak bermanfaat buat semua orang, amin.

( Sampaikanlah walau satu ayat, untuk kebaikan kita semua )

Salah satu cara mencari pahala lewat internet adalah dengan menyebarluaskan artikel, situs/blog dan segala kebaikan yang diperoleh darinya kepada orang lain. Misalnya adalah kepada keluarga, sahabat, rekan kerja dan sebagainya.

Apa Pendapat Anda Tentang Artikel Diatas
Silahkan gunakan profile ( Anonymous ) jika anda tidak mempunyai Account untuk komentar

Jika anda ingin berpartisipasi ikut menulis dalam blog ini atau ingin mengirim hasil karya tulisan anda, membagikan informasi yang bermanfaat buat banyak orang lewat tulisan anda silahkan kirim tulisan anda ke email saya bagindaery@gmail.com
Tulisan anda akan dilihat dan dibaca oleh ribuan orang tiap harinya setelah anda mengirimkannya ke bagindaery@gmail.com