Sabtu, 08 Februari 2014

Misteri Sinabung: Lereng Sinabung Bagai Kota Hantu

Ben Otto/The Wall Street Journal
 
Pengungsi Sinabung di mesjid Kabanjahe, 8 Januari 2014.
KABANJAHE—Abu vulkanis Gunung Sinabung menyelimuti rumah belasan ribu penduduk. Kini, desa-desa pada lereng-lerengnya menyerupai kota hantu.
Bagaimanapun, tak semuanya ditelantarkan.
Pada jeda erupsi, sejumlah warga pulang ke desa mereka. Rumah yang dituju berada dalam zona bahaya, pada radius lima hingga tujuh kilometer dari puncak Sinabung. Di sana, mereka mengikis tumpukan abu pada atap rumah yang terbuat dari seng.
Warga juga mempergunakan kepulangan untuk mencari barang berharga untuk nantinya dijual. Mereka memang perlu mencari pemasukan, karena lahan pertanian—yang menjadi pemasok utama kebutuhan sehari-hari—telah rusak akibat erupsi selama tiga bulan terakhir.
Lainnya pulang ke rumah semata-mata untuk melarikan diri dari pusat evakuasi yang sempit. Tempat penampungan sementara didirikan di dan sekitar Kabanjahe.
“[Pos penampungan] dingin dan kotor,” kata Tanda Stepo, petani di desa berjarak kurang dari empat kilometer dari puncak. Ia terpaksa mengungsi sejak November silam.
Baru-baru ini pada suatu sore, ia tidak melakukan apa-apa di desanya, sekadar bercengkerama dengan warga lain di sebuah warung. Pemiliknya tetap membuka warung, menjual barang kebutuhan sehari-hari, termasuk makanan bagi penduduk sekitar.
Saat Sinabung meletus—terjadi enam kali hari itu—ia memandang angin membawa abu di sana, sebelah barat desanya.
“Saya tidak takut,” katanya, sambil menatap lahan cabai dan kentang yang keabu-abuan. Lahan yang dipandangnya terkubur abu setebal lima sentimeter. “Ini desa saya, tempat saya dilahirkan. Jika erupsi Sinabung sampai ke sini, saya akan meninggal di sini.”
Seorang petugas kepolisian sempat mengunjungi desa kelahiran Tanda. Menurutnya, warga desa seperti Tanda diizinkan masuk zona bahaya, sesudah menandatangani surat pernyataan. Dalam surat, si penandatangan harus memikul risiko sendiri lantaran masuk zona bahaya.
Sejauh ini, aturan tersebut masih dipertahankan, meski 15 orang tewas Minggu silam.
Lima belas warga itu, yang sebagian adalah pelajar, merupakan korban pertama Sinabung sejak gunung api itu meletus tahun lalu. Petugas berwenang sudah memperketat akses ke zona bahaya. Kini, nyaris tiga kali lipat personel diturunkan di lereng-lereng Sinabung. Aparat yang bertugas berasal dari luar daerah, untuk mencegah patroli yang kurang tegas karena petugas sudah akrab dengan warga.


Mereka yang boleh memasuki zona bahaya adalah orang-orang yang mendapat izin dari petugas patroli, kata Jhonson Tarigan, Koordinator Media Center Penanggulangan Bencana Sinabung di Kabanjahe. Menurut Jhonson, kawasan paling berbahaya sepanjang erupsi Sinabung—termasuk lereng tenggara yang kerap dilanda awan panas—berada di bawah larangan masuk dalam kondisi apapun.
Agence France-Presse/Getty Images
Makan bersama pengungsi Sinabung, 2 Februari 2014.
Pekan lalu, nyaris 14 ribu dari sekitar 30 ribu pengungsi diberi tahu bahwa mereka bisa pulang ke rumah. Semua berasal dari desa di luar zona bahaya, tetapi terkena semburan abu vulkanis.
Bagaimanapun, tampaknya tidak banyak yang bersemangat untuk pulang. Senin kemarin, jumlah warga yang menginap di pusat evakuasi nyaris mencapai 32 ribu orang, menurut data pemerintah Kabupaten Karo. Banyak yang bermalam di lantai gereja ataupun masjid selama berbulan-bulan. Yang lain terpaksa bertahan di aula-aula terbuka, terpapar angin dan hujan.
Rina Sitepu, perempuan berusia 50-an tahun, terakhir kali tidur di rumahnya—sekitar tiga kilometer dair Sinabung—tiga bulan lalu. Pada sebuah pagi bulan November, menyusul getaran bumi sepanjang malam, truk tentara datang ke desanya. Tepat ketika Sinabung menyemburkan abu ribuan meter ke angkasa, Rina dan tetangga-tetangganya dievakuasi.
Mereka pun berangkat saat abu turun ke ladang cabai dan kubis. Dalam hitungan jam, kata Rina, desa berpenduduk 2.500 jiwa itu bagaikan kota hantu.
Saat ini, sebagian besar hanya bisa menanti erupsi berhenti. Pilihan lain adalah pindah secara permanen. Bersama suaminya, Rina sekarang menetap di masjid agung Kabanjahe. Sekitar 600 orang menginap di tempat ini dalam tiga bulan terakhir.
Rina dan saudara-saudara iparnya mengaku tidak pernah mengeluhkan upaya tanggap bencana dari pemerintah. Bagaimanapun, mereka hanya mandi setiap beberapa hari akibat jatah air yang terbatas. Para pengungsi pun tidur di bawah lampu yang selalu menyala, atas alasan keamanan. Mereka pun kehilangan berat badan, meski makan tiga kali sehari.
“[Makanannya] tidak terlalu bergizi,” papar Rina. “Saya pun tidak bisa tidur lelap.”

http://indo.wsj.com/posts/2014/02/04/lereng-sinabung-bagai-kota-hantu/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

1 SHARE DARI ANDA SANGAT BERHARGA BUAT BANYAK ORANG, SAMPAIKANLAH WALAU 1 AYAT, SEMOGA BERMANFAAT.

Jika anda merasa artikel diatas berguna dan bermanfaat bagi banyak orang, silahkan share / bagikan artikel diatas ke banyak orang lewat facebook / twitter anda.
Semoga anda mendapatkan pahala setelah membagikan artikel diatas, semoga setelah anda bagikan banyak bermanfaat buat semua orang, amin.

( Sampaikanlah walau satu ayat, untuk kebaikan kita semua )

Salah satu cara mencari pahala lewat internet adalah dengan menyebarluaskan artikel, situs/blog dan segala kebaikan yang diperoleh darinya kepada orang lain. Misalnya adalah kepada keluarga, sahabat, rekan kerja dan sebagainya.

Apa Pendapat Anda Tentang Artikel Diatas
Silahkan gunakan profile ( Anonymous ) jika anda tidak mempunyai Account untuk komentar

Jika anda ingin berpartisipasi ikut menulis dalam blog ini atau ingin mengirim hasil karya tulisan anda, membagikan informasi yang bermanfaat buat banyak orang lewat tulisan anda silahkan kirim tulisan anda ke email saya bagindaery@gmail.com
Tulisan anda akan dilihat dan dibaca oleh ribuan orang tiap harinya setelah anda mengirimkannya ke bagindaery@gmail.com