Minggu, 23 Februari 2014

Drama: Diary Jiwa Sepi

kesepian membalut jiwa yang lara ditengah hiruk pikuknya dunia
disandarkannya asa yang tersisa pada wajah sang lembayung
seribu tanya memenuhi pandangannya, akankah dia bisa bertahan?
sementara dia sudah tidak mempunyai lentera yang dapat menyinari hidupnya…….


itulah catatan terakhir yang pernah kutulis beberapa tahun silam. betapa kenyataan hidup menamparku dengan begitu keras. seolah ingin memberiku hukuman atas kesalahan yang tidak pernah aku perbuat.
lantas apakah salah jika kemudian aku mengeluh?
apakah dengan mengeluh aku sudah menjadi orang yang tidak tabah?
apa yang harus aku lakukan sekarang?
aku sudah tidak tahu lagi bagaimana aku bersikap, semua yang aku lakukan seolah tiada berguna.
aku hanya bisa berjalan bersama sang waktu walaupun terkadang dia enggan menoleh kearahku.
kembali jiwaku berbisik, “aku tidak bisa berhenti hanya sampai disini!”
telah kucoba untuk menjadi tegar, sabar, tabah, atau apalah kau menyebutnya. tapi semakin aku mencoba maka rasa lelah seakan memakuku lebih dalam lagi. kadangkala aku ingin menjerit hingga akan sanggup membuat orang-orang disekitarku menjadi tuli, tapi akankah itu semua dapat memberikan jalan keluar yang benar terhadapku?
aku berpikir untuk kesekian kalinya, bagaimana bisa aku bertahan dengan topeng yang melekat pada diriku, sampai kapan aku harus memakainya? bisakah aku menanggalkannya jika aku sudah mati kelak?
sebab kurasakan bahwa topeng ini lekat bak kulit diwajahku…..
aku harus menyelamatkan diriku mulai saat ini, detik ini karena tak akan ada satu orangpun yang sanggup menolongku selain diriku sendiri.
dalam sunyinya malam kembali kukenang masa-masa yang telah lalu. masa dimana jiwa-jiwa muda menghampiriku silih berganti. kulalui hari-hariku dengan langkah yang ringan, seringan aliran sungai yang mencari alurnya menuju muara. tak pernah sekejappun kupikirkan tentang esok karena aku hanya menjalani hari ini, pun tidak juga kusesali hari kemarin. ya…aku hanya menjalani hidupku saat ini. ku hanya berjalan beriringan dengan hidupku sendiri.
namun aku tidak mengerti kenapa hidup menghempaskan aku disini dengan begitu hebatnya. adakah aku telah mengkhianati hidupku sendiri? ketika semua tanya tak lagi terjawab, ketika airmata tak lagi mampu mengalir turun di pipi,,,jiwa kembali melayang diantara bayang-bayang sepi.
kulihat bayangan-bayangan liar yang menari disekelilingku, dan akupun terhanyut dalam irama tarian yang penuh bujuk rayu. kembali kujalani langkah ku namun kurasakan tak seringan sebelumnya. terasa beban memberati langkahku. tlah kucoba untuk mengangkat kaki ini sekuat ku bisa namun yang kudapati hanya langkah yang terseret.
http://fiksi.kompasiana.com/drama/2011/12/03/diary-jiwa-sepi-413712.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

1 SHARE DARI ANDA SANGAT BERHARGA BUAT BANYAK ORANG, SAMPAIKANLAH WALAU 1 AYAT, SEMOGA BERMANFAAT.

Jika anda merasa artikel diatas berguna dan bermanfaat bagi banyak orang, silahkan share / bagikan artikel diatas ke banyak orang lewat facebook / twitter anda.
Semoga anda mendapatkan pahala setelah membagikan artikel diatas, semoga setelah anda bagikan banyak bermanfaat buat semua orang, amin.

( Sampaikanlah walau satu ayat, untuk kebaikan kita semua )

Salah satu cara mencari pahala lewat internet adalah dengan menyebarluaskan artikel, situs/blog dan segala kebaikan yang diperoleh darinya kepada orang lain. Misalnya adalah kepada keluarga, sahabat, rekan kerja dan sebagainya.

Apa Pendapat Anda Tentang Artikel Diatas
Silahkan gunakan profile ( Anonymous ) jika anda tidak mempunyai Account untuk komentar

Jika anda ingin berpartisipasi ikut menulis dalam blog ini atau ingin mengirim hasil karya tulisan anda, membagikan informasi yang bermanfaat buat banyak orang lewat tulisan anda silahkan kirim tulisan anda ke email saya bagindaery@gmail.com
Tulisan anda akan dilihat dan dibaca oleh ribuan orang tiap harinya setelah anda mengirimkannya ke bagindaery@gmail.com