Senin, 24 Februari 2014

( Do’a Sayyidul Istighfar ) Penjelasan Do’a Sayyidul Istighfar


شداد بن أوس ‏‏رضي الله عنه ‏عن النبي ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏‏سيد
 ‏‏الاستغفار أن تقول
{ اللهم أنت ربي لا إله إلا أنت خلقتني وأنا عبدك وأنا على عهدك ووعدك ما استطعت أعوذ بك من شر ما صنعت أبوء لك بنعمتك علي وأبوء لك بذنبي فاغفر لي فإنه لا يغفر الذنوب إلا أنت}
قال ومن قالها من النهار موقنا بها فمات من يومه قبل أن يمسي فهو من أهل الجنة ومن قالها من الليل وهو موقن بها فمات قبل أن يصبح فهو من أهل الجنة  .رواه البخاري
“Dari syaddad bin Aus  -semoga Allah meridhoi nya- dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sayyidul istighfar ialah engkau mengucapkan: ‘Ya Allah Engkau adalah Robb-ku, tiada ilah yang berhaq diibadahi dengan benar selain Engkau, Engkau lah yang menciptakanku, aku adalah hamba-Mu, aku akan setia pada perjanjianku, dengan semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang aku perbuat, aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku, oleh karena itu ampunilah aku. Sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa kecuali Engkau.’”[1]

Penjelasan Hadist

Di awal doa di katakan اللهم yang artinya adalah ‘Ya Allah’ dan ini sering kita temukan di beberapa doa yang tercantum dalam al-Quran dan juga sunnah Rosulullah, dan sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ibnu al-Qoyyim[2] makna dari  اللهم ialah: ‘Ya Allah’, maka tidak diperuntukan melainkan untuk meminta/memohon sesuatu, maka dari itu tidaklah kita mengatakan اللهم غفور رحيم (Ya Allah yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang), akan tapi kita kata kan اللهم اغفر لي وارحمني (Ya Allah ampunilah aku dan sayangilah aku).
Kemudian dilanjutkan dengan أنت ربي لا إله إلا أنت خلقتني وأنا عبدك  artinya: ‘Engkau adalah Robb-ku tiada Robb yang berhaq diibadahi selain-Mu, Kau-lah yang menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu.’
Ini adalah ungkapan yang mencakup di dalamnya dua macam tauhid, yang pertama ialah tauhid rububiyyah dan yang kedua ialah tauhid uluhiyyah.
1. Tauhid rububiyyah yang isinya ialah pengakuan akan kemampuan Allah atas segalanya, Maha Pencipta, Maha memberi rizqi, Maha Mengatur, dan lainnya yang menyatakan akan kemahakuasaan Allah atas seluruh makhluk-Nya, juga tauhid rububiyyah mengharuskan adanya tauhid al-asma’ wa as-shifaat.
2. Tauhid uluhiyyah yang mencakup agar seorang hamba memurnikan seluruh amalnya, dan mempersembahkannya untuk Allah semata tanpa mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.
Dalam doa ini pun di katakan خلقتني وأنا عبدك artinya: ‘Kau-lah yang menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu.’
Para ulama mengatakan bahwa tauhid rububiyyah mengharuskan seseorang untuk mewujudkan tauhid uluhiyyah, karena jika seseorang yang beriman bahwa tidak ada yang menciptakan selain Allah maka wajiblah atasnya untuk menyembah dan beribadah hanya kepada yang menciptakannya, dan ini pun ada di dalam al-Qur’an, Allah berfirman وأنا ربكم فاعبدون artinya: ‘dan Aku-lah Robb kalian, maka sembahlah Aku.’[3]
Sahabat yang mulia Ibnu Abbas  -rodhiyallahu ‘anhuma- menafsirkan ayat 21-23 dalam surat al- Baqoroh dengan mengatakan: ‘Janganlah kalian menjadikan bagi Allah sekutu dalam ibadah sedangkan kalian mengetahui bahwa tidak ada yang menciptakan kalian selain Allah.’
Kemudian selanjutnya وأنا علي عهدك ووعدك مااستطعت artinya: ‘dan aku setia di atas perjanjianku dengan Mu, semampuku.’
Ulama menjelaskan makna dari kalimat ini, diantara maknanya ialah bahwa Allah telah memerintahkan kita agar selalu berada di atas keimanan, maka kita pun menyatakan akan berada di atas perintah-Nya dan senantiasa untuk berpegang teguh dengan perintah-Nya.
Dan di dalamnya pun dikatakan sesuai dengan kemampuanku, yaitu seorang hamba melaksanakan perintah Allah sesuai dengan kemampuan yang dia sanggupi, dan inilah salah satu bentuk rahmat Allahkepada hamba-Nya, yaitu dengan tidak membebani di luar kemampuan hamba. Dan ketika seorang hamba mengucapkan ‘sesuai kemampuanku’ menunjukan akan lemah dan kurangnya daya dari seorang hamba, sehingga ia memohon agar Allah tidak menghukumnya karena tidak melaksanakan perintah dengan sempurna.
Dan inilah salah satu faidah yang disebutkan ulama ketika menjelaskan hadist yang diriwayatkan dari Abu Huroiroh -rodhiyallahu ‘anhu- bahwa Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إذا أمرتكم بأمر فأتو منه مااستطعتم،
“Jika aku memerintahkan sesuatu perkara maka lakukanlah semampu kalian.”[4]
Di sini dijelaskan bahwa perintah dilakukan sesuai kemampuan yang dimiliki, karena suatu perintah terkadang tidak bisa dilaksanakan atau bisa dilaksanakan akan tetapi tidak sempurna pelaksanaannya.
Dan perlu disadari juga bahwa seorang hamba tidak bisa melakukan seluruh kewajiban yang Allah tentukan, juga tidak bisa memenuhi semua ibadah dengan keadaan yang sempurna, sehingga seorang hamba hendaknya bersungguh-sungguh untuk selalu berusaha memperbaiki keimanannya dan mensyukuri nikmat-nikmat yang Allah berikan, karena Allah-lah yang maha mengetahui apa yang dilakukan seluruh hamba-hamba-Nya, baik yang nampak atau yang tersembunyi.
Kemudian dikatakan dalam doa ini أعوذ بك من شر ما صنعت artinya: ‘Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang kuperbuat.’
Di sini dijelaskan bahwa seorang hamba hendaknya berlindung kepada Allah dari kejelekan yang dilakukannya, sebagaimana seseorang yang lari dari musuh menuju benteng pertahanan yang akan menyelamatkannya dari gangguan musuh tersebut. Dan juga di sini dijelaskan bahwa perbuatan kejelekan seorang hamba disandarkan kepada hamba yang melakukannya, sebagaimana dalam hadist yang disabdakan Rosulullah:
 والشر ليس إليك
yang artinya: ‘dan tidaklah kejelekan itu disandarkan kepada-Mu.’
Ini menunjukan bahwa perbuatan keburukan ialah hasil perbuatan hamba, dan Allah-lah yang memiliki nama-nama yang indah dan sifat-sifat yang sempurna, dan seluruh perbuatan Allah mengandung hikmah dan maslahah (kebaikan).
Kemudian dilanjutkan doa ini dengan perkataan أبوء لك بنعمتك علي ،وأبوء بذنبي yang artinya: ‘Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku, dan aku mengakui dosaku.’
Dalam doa ini juga ada dua ungkapan, yaitu ungkapan akan kenikmatan Allah kepada hamba dan ungkapan pengakuan akan dosa seorang hamba, sehingga dengan ungkapan pengakuan nikmat Allah kepadanya mengharuskan hamba selalu bersyukur dan tidak kufur, juga dengan ungkapan pengakuan dosa yang mengharuskan seorang hamba selalu bertaubat akan dosa-dosanya.
Juga faidah yang disebutkan bahwa seorang hamba akan memulai taubat dari dosa ketika dia mengetahui dan mengakui dia berbuat kesalahan, karena itulah pelaku bid’ah jarang yang mengakui bahwa kebid’ahannya merupakan bentuk dosa kepada Allah, sehingga sedikit dari mereka yang diberi taufiq untuk bertaubat.
Kemudian di antara faidah dari doa ini juga bahwa seorang hamba ketika berada di pagi hari atau sorenya, tidaklah terlepas dari dua perkara ini yaitu nikmat yang Allah berikan atau dosa seorang hamba yang di lakukannya, sehingga sebagian salaf mengatakan:
(إني أصبح بين نعمة وذنب،فأريد أن أحدث للنعمة شكرا و للذنب استغفارا)
Artinya: “Aku berada di pagi hari di antara  nikmat dan dosa, maka aku ingin membalas nikmat dengan rasa syukur dan dosa dengan istighfar.”[5]
Kemudian doa ini ditutup dengan kalimat فاغفر لي فإنه لا يغفر الذنوب إلا أنت artinya: ‘Maka ampunilah aku karena tidak ada yang mampu mengampuni dosa selain engkau.’
Dalam kalimat penutup dalam doa ini di dalamnya terkumpul antara tauhid dan istighfar, sebagaimana di dalam al-Quran pun banyak disebutkan penggabungan antara tauhid dan istighfar, sebagaimana dalam QS Muhammad ayat 19 yang Allah berfirman:
فاعلم أنه لا إله إلا الله واستغفر لذنبك وللمؤمنين والمؤمنات.
“Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tiada tuhan yang berhaq disembah melainkan Allah dan mintalah ampunan atas dosamu dan untuk orang-orang beriman laki-laki dan wanita mu’minaat.”
Dari ayat di atas menunjukkan bahwa persaksian akan tiada tuhan yang berhaq disembah selain Allah dengan jujur dan keyakinan akan menghapuskan kesyirikan yang tersembunyi atau yang nampak, yang besar atau kecil, disengaja atau tidak, dan istighfar akan membersihkan sisa-sisa dari dosa lainnya, maka sebaik-baik pujian adalah ucapan tauhid, dan sebaik-baik doa adalah istighfar.
Maka selayaknya bagi setiap muslim untuk menghafal dan berdzikir dengan doa ini di pagi harinya dan di sore harinya, karena di dalam doa ini terkandung makna kemurnian peribadatan kepada Allah Ta’ala.
***
__________
1. Shohih Bukhori (no.6303)
2. Kitab Jala al-Afhaam (hal 143)
3.  QS al-Anbiya ayat 92
4. Shohih Bukhori hadist no 7288 dan Shohih Muslim hadist no 2380 dari sahabat Abu Hurairoh rodhiyallahu ‘anhu
5. Jaami ar-Rosail Ibnu Taimiyah (1/116) dan Thoriq al-Hijrotain Ibnu al-Qoyyim (hal 170)
Rujukan utama: Syarah Hadist Sayyidi al-Istighfar oleh fadhilatu as-Syaikh Abdu ar-Rozzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad hafidzohullah

http://yayasanalhanif.or.id/penjelasan-doa-sayyidul-istighfar/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

1 SHARE DARI ANDA SANGAT BERHARGA BUAT BANYAK ORANG, SAMPAIKANLAH WALAU 1 AYAT, SEMOGA BERMANFAAT.

Jika anda merasa artikel diatas berguna dan bermanfaat bagi banyak orang, silahkan share / bagikan artikel diatas ke banyak orang lewat facebook / twitter anda.
Semoga anda mendapatkan pahala setelah membagikan artikel diatas, semoga setelah anda bagikan banyak bermanfaat buat semua orang, amin.

( Sampaikanlah walau satu ayat, untuk kebaikan kita semua )

Salah satu cara mencari pahala lewat internet adalah dengan menyebarluaskan artikel, situs/blog dan segala kebaikan yang diperoleh darinya kepada orang lain. Misalnya adalah kepada keluarga, sahabat, rekan kerja dan sebagainya.

Apa Pendapat Anda Tentang Artikel Diatas
Silahkan gunakan profile ( Anonymous ) jika anda tidak mempunyai Account untuk komentar

Jika anda ingin berpartisipasi ikut menulis dalam blog ini atau ingin mengirim hasil karya tulisan anda, membagikan informasi yang bermanfaat buat banyak orang lewat tulisan anda silahkan kirim tulisan anda ke email saya bagindaery@gmail.com
Tulisan anda akan dilihat dan dibaca oleh ribuan orang tiap harinya setelah anda mengirimkannya ke bagindaery@gmail.com