Kamis, 05 Desember 2013

UN, Tak Curang Maka Tak Nyaman! ( Kenapa? dan Mengapa? )

by: http://edukasi.kompasiana.com/2012/04/07/un-tak-curang-maka-tak-nyaman-453047.html
Ini pengalaman pribadi saya setahun yang lalu ketika mengikuti Ujian Nasional (UN) di salah satu sekolah menegah atas di sebuah kota kecil di Jawa Timur. Untuk mengantarkan siswanya memasuki gerbang UN dengan harapan lulus 100% pihak sekolah mengadakan bimbel untuk semua mata pelajaran yang diujikan. Setiap siswa wajib mengikuti bimbel tersebut, termasuk saya. Awalnya saya rutin ikut bimbel sebelum ada sesuatu hal yang janggal, kepala sekolah dan beberapa guru menyuruh kami bekerja sama dalam mengerjakan soal ujian kelak. Entah kenapa hatiku berontak. Lalu, untuk apa diadakan bimbel segala kalau ujung-ujungnya juga harus berbuat curang.
1333788633426498509
Saya benar-benar tak habis pikir dengan perintah kepala sekolah tersebut, dengan kata-kata yang seolah-olah menyemangati anak didiknya, beliau menyuruh kami berbuat curang secara sistematis ”Kalian semua ini kan teman seperjuangan, jadi kalau lulus satu juga harus lulus semuanya. Kalian harus saling bantu satu sama lain, apa kalian tidak kasihan kalau ada teman kalian yang tidak lulus?” Cuh ! apa yang dia katakan, bukankah dia sendiri juga tahu bahwa berbuat curang itu melanggar perintah agama juga negara? Bukankah dulu dia sendiri yang mengajari kami untuk berlaku jujur dalam segala hal meskipun itu pahit. Ah, waktu itu pikiranku benar-benar kacau, dan sejak saat itu -dua minggu sebelum UN- aku tak pernah lagi ikut bimbel.

Teman-temanku, secara langsung maupun tidak sepertinya sangat sependapat dengan perkataan guru kami beberapa waktu lalu baik, mereka sibuk membahas berbagai macam cara menyontek agar tidak ketahuan oleh pengawas, beberapa yang lain sudah mulai merayu-rayu siswa yang terkenal berotak encer di kelas agar mau berbagi kunci jawaban. Aku yang saat itu juga bisa dibilang salah satu siswa berprestasi di kelas-jangan percaya- juga tak luput dari rayuan teman-teman ”Fiq jangan pelit-pelit ya nanti waktu ngerjakan soal”. Selalu hanya senyum, reaksi yang bisa kuperlihatkan jika teman-teman mulai merayu. Aku selalu kesulitan mencari reaksi yang lain selain senyum meskipun sebenarnya hati ini berontak. Tuhan… untuk inikah aku sekolah, untuk diajari ketidakjujuran dan kecurangan. Tiga tahun yang kulewati dengan berbagai nasehat-nasehat mulia dari beliau-beliau yang terhormat itu kini ludes seketika dihantam air bah ketidakjujuran. Aku mencoba berbicara dengan teman-teman dari hati ke hati. Pelan-pelan. Perlahan. Bahwa ijazah yang nanti kita dapat dari perbuatan yang tidak jujur tidak akan ada manfaatnya. Namun mereka sudah terlanjur masuk dalam ketakutannya masing-masing. Dari sekian banyak teman hanya satu orang yang mau kuajak berlaku jujur ketika UN nanti.

Sehari sebelum UN berlangsung saya matur lewat sms kepada guru yang menyuruh kami untuk bekerjasama(berbuat curang)tersebut ”Pak, maaf saya tidak bisa menjalankan perintah bapak, dalam hal ini saya ingin menuruti hati nurani saya”. Tidak ada jawaban dari seberang. Dan aku semakin yakin dengan keputusanku. Sebenarnya aku juga tidak mau terlalu meyalahkan kepala sekolah dan guru, mereka mengalami ketakutan yang sama seperti teman-temanku, meskipun sedikit berbeda.

Akhirnya UN pun berlangsung, sebelum memasuki kelas untuk mengerjakan soal-soal yang gaplek alias pilihan ganda kami yang sebelumnya sudah diatur dan dibagi menjadi 4 ruang kelas diperintah untuk berbaris, lalu guru kami lagi-lagi berkata seolah-olah menyemangati kami ”Jangan takut pada pengawas, kalau ada pengawas yang macam-macam, cepat laporkan ke saya !” Duh, lakon apalagi ini, pengawas yang tugasnya mengawasi pun harus diperlakukan seperti itu demi hanya selembar kertas berholagram garuda. Belum berakhir sampai disitu, seorang teman dibelakangku tiba-tiba berbisik kepadaku, sambil menyodorkan kertas putih kecil berisi huruf-huruf kapital. Spontan saya bertanya ”Apa ini?” dan jawaban teman saya tersebut semakin menambah kacau pikiran saya ”Ini dari pak anu, kunci jawaban buat paket D !” Agak ragu-ragu saya terima kertas putih kecil tersebut, sekilas saya buka dan baca. Dalam hati saya berkata, sambil memasukkannya ke dalam saku celana depan ”Nasib kalian ada dalam kertas ini? Mustahil !”

Saya sudah lupa soal pelajaran apa pertama kali saya kerjakan, namun yang tidak dapat kulupakan, mungkin selamanya. Adalah setiap kali akan masuk kelas selama 4 hari UN berlangsung adegan seperti yang saya ceritakan tadi terus berulang. Dan sekalipun saya tidak pernah membuka kertas putih kecil itu lagi. Kau tahu, karena sejak di kelas sepuluh aku sudah tidak begitu cocok dengan guru matematika ku sehingga nilaiku untuk pelajaran yang sangat akrab dengan angka tersebut jeblok. dan aku juga tidak tahu kenapa sampai kelas duabelas selalu dia yang mengajar pelajaran matematika itu. Oleh karenanya, kau percaya atau tidak soal matematika UN selesai saya kerjakan kurang dari satu jam saja. Saya tidak mempunyai harapan yang besar untuk lulus nantinya. Saya sadar, selama di sekolah saya tidak benar-benar serius belajar, saya kira juga teman-teman saya. Mungkin karena hal itulah kepala sekolah kami dan juga beberapa guru mengkhawatirkan kemampuan kami dalam melewati UN. Bagiku setiap perbuatan mengandung resiko, kalau saya tidak serius belajar maka resikonya adalah gagal lulus UN tapi mereka -Kepala sekolah beserta beberapa guru, juga teman-temanku- tidak siap menerima resiko tersebut sehingga yang terjadi adalah praktek kecurangan yang terkoordinasi dengan sangat rapi. Saya kira tidak hanya sekolah kami saja yang berbuat seperti itu, terbukti dari sikap para pengawas yang seharusnya mengawasi jalannya ujian agar tidak terjadi penyimpangan-penyimpangan malah dengan begitu gampangnya berkata ”Kalau mau contekan jangan berisik, nanti ketahuan sama tim independen”. ”Jancukkkk !!!” Jangan salahkan kalau generasi maling di negeri ini tidak pernah berkurang bahkan terus bertambah sebab dari sekolahnya saja sudah diajari ”praktek-praktek” maling. Kalau sudah begini saya jadi ragu akan pentingnya penyelenggaraan UN.

Oh ya, saya nyaris tidak lulus UN, nilai saya tepat diatas standar nilai kelulusan serta satu bulan setelah UN kepala sekolah saya meninggal dunia karena penyakit komplikasi yang sudah lama beliau derita. Semoga Allah mengampuni kesalahannya. Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

1 SHARE DARI ANDA SANGAT BERHARGA BUAT BANYAK ORANG, SAMPAIKANLAH WALAU 1 AYAT, SEMOGA BERMANFAAT.

Jika anda merasa artikel diatas berguna dan bermanfaat bagi banyak orang, silahkan share / bagikan artikel diatas ke banyak orang lewat facebook / twitter anda.
Semoga anda mendapatkan pahala setelah membagikan artikel diatas, semoga setelah anda bagikan banyak bermanfaat buat semua orang, amin.

( Sampaikanlah walau satu ayat, untuk kebaikan kita semua )

Salah satu cara mencari pahala lewat internet adalah dengan menyebarluaskan artikel, situs/blog dan segala kebaikan yang diperoleh darinya kepada orang lain. Misalnya adalah kepada keluarga, sahabat, rekan kerja dan sebagainya.

Apa Pendapat Anda Tentang Artikel Diatas
Silahkan gunakan profile ( Anonymous ) jika anda tidak mempunyai Account untuk komentar

Jika anda ingin berpartisipasi ikut menulis dalam blog ini atau ingin mengirim hasil karya tulisan anda, membagikan informasi yang bermanfaat buat banyak orang lewat tulisan anda silahkan kirim tulisan anda ke email saya bagindaery@gmail.com
Tulisan anda akan dilihat dan dibaca oleh ribuan orang tiap harinya setelah anda mengirimkannya ke bagindaery@gmail.com