Senin, 14 Oktober 2013

Idul Adha Sebuah Momen Kemanusiaan

Umat muslim menggunakan perahu seusai mengikuti Salat Idul Adha 1433 H di Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta Utara, Jumat (26/10). Hari Raya Idul Adha 1433 H yang dirayakan seluruh umat Islam itu ditandai dengan pemotongan hewan kurban yang dibagikan kepada seluruh umat miskin. Foto: Investor Daily/DAVID GITA ROZA
Umat muslim menggunakan perahu seusai mengikuti Salat Idul Adha 1433 H di Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta Utara, Jumat (26/10). Hari Raya Idul Adha 1433 H yang dirayakan seluruh umat Islam itu ditandai dengan pemotongan hewan kurban yang dibagikan kepada seluruh umat miskin. Foto: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

by: http://www.investor.co.id/opini/idul-adha-momen-kemanusiaan/70647
Idul Adha kembali menyapa kita. Kali ini, seiring dengan kian gemerlapnya pembangunan, Idul Adha hadir masih jua dalam situasi keprihatinan bagi bangsa kita. Negeri kita tengah diuji dengan bertubi-tubinya persoalan sosial, politik, ekonomi dan juga keagamaan yang kerap membuat kita kelabakan.

Kini, kita perlu merenungi kembali perjalanan kita selama ini. Perjalanan berdimensi kemanusiaan yang menjadi rintihan batin kita. Ketika Tuhan mengganti putra Nabi Ibrahim dengan seekor anak domba, bukankah ini merupakan pesan yang hendak memaklumkan manusia agar tidak lagi menginjakinjak manusia lain dan harkat kemanusiaannya?

Masalah memang sudah terjadi dan akan terus terjadi. Tapi, di balik masalah itu, hal itu sesungguhnya makin menyadarkan kita betapa kepedulian antar sesama manusia merupakan ‘fitrah’ yang perlu diejawantahkan dalam tindakan, bukan sekadar wacana.

Melawan Egoisme Dalam setiap agama pasti terdapat ajaran tentang pengorbanan. Ajaran inilah yang semestinya justru menjadikan mereka yang beragama menjadi pioner dalam setiap kerja kemanusiaan. Idul Adha sendiri secara bahasa berarti perayaan berkurban. Suatu perayaan bagi umat Islam sebagai tekad untuk kembali pada semangat pengorbanan. Ini bermakna bahwa umat Islam harus mampu menjadikan pengorbanan sebagai lelaku dalam hidup kesehariannya.

Pengorbanan adalah ritual tua yang sudah ada jauh sebelum kedatangan Islam. Dulu pengorbanan biasa dalam bentuk penyembelihan hewan untuk dipersembahkan kepada kekuatan gaib. Agama-agama kuno seperti di India, Mesir atau Yunani sudah mengenal ritual kurban sebagai persembahan buat dewa yang mereka sembah. Bahkan pula, ada pengorbanan dalam bentuk manusia khususnya perempuan dan anak-anak.Kehadiran Islam tetap melestarikan ritual pengorbanan, tapi dengan cara memodifikasi.

Upacara kurban yang dijalankan secara berbeda-beda bentuknya, lalu oleh Islam diarahkan dengan menyembelih, bukan membakar atau menyiksa hewan atau manusia. Tujuannya pun diperluas, bukan lagi untuk persembahan buat kekuatan gaib, tapi untuk kebaikan umat manusia. Bahkan porsi terbanyak dari objek kurban adalah teruntuk manusia sendiri.

Daging hewan yang disembelih dimanfaatkan untuk manusia, tidak ada yang dibuang, dihanyutkan atau dibakar. Dalam Islam, ada perubahan orientasi pengorbanan, yaitu dari yang tadinya bersifat ‘melangit’ menjadi kegiatan yang bersifat ‘membumi’ dengan dimensi sosial yang mengedepan.

Unsur spiritualmetafisis tidaklah dikurangi atau dilenyapkan tanpa sisa, melainkan ajaran Islam memberdayakan ritual keagamaan menjadi aktivitas sosialkemanusiaan. Ibadah haji yang bersumber dari tradisi keagamaan Nabi Ibrahim berkait erat dengan ibadah kurban. Ibadah haji juga dikatakan oleh Nabi Muhammad sebagai salah satu bentuk jihad akbar. Nabi Muhammad berulangkali menyatakan bahwa ibadah haji adalah jihad, dan jihad adalah amal yang paling utama. Dalam sebuah Hadits disebutkan bahwa termasuk jihad adalah haji mabrur dan bekerja untuk keluarga.

Inilah jihad akbar, jihad melawan kemauan dan egoisme diri yang sering justru menguasai manusia baik individu maupun kelompok. Ketika egoisme menguasai manusia, maka akan mengantarkan pada perpecahan.

Kebahagiaan akan dimiliki oleh seseorang yang berjuang dengan melawan sifat dan nafsunya sendiri. Orang yang akalnya meninggalkan nafsunya melalui pengorbanan, penyerahan diri dan kerendahan hatinya demi berbakti kepada Allah, berarti ia telah memenangkan perang besar.

Nabi Muhammad sering melakukan shalat sampai kakinya bengkak. Beliau bersabda: ”Bagaimana mungkin aku bukan termasuk hamba yang tahu syukur?” Nabi sebetulnya ingin mendorong umatnya agar tidak lalai untuk berjuang, berkorban diri dan berdisiplin dalam situasi apa pun. Kemanusiaan Semesta Seperti halnya haji, yang dulunya biasa dilakukan oleh masyarakat pra-Islam dengan telanjang, kemudian Islam melakukan perubahan dengan mewajibkan jamaah haji memakai pakaian ihran, selembar kain putih untuk menutupi aurat mereka.

Ka’bah dan Arafah adalah dua simbol yang turut mengaitkan Islam dengan agama monoteis sebelumnya yang dibawa Nabi Ibrahim dan Nabi Adam. Ka’bah dibangun atas perintah Allah kepada Nabi Ibrahim yang merupakan nabi dari agama-agama monoteis (QS. 22;78). Sedangkan Arafah adalah simbol dari pertemuan kembali Adam dan Hawa, setelah mereka terlempar dari sorga karena tergoda oleh iblis. Wuquf di Arafah sekaligus merupakan simbolisasi dari penyatuan nenek moyang manusia dan keturunannya di bawah naungan bukit kasih sayang (jabal rahmah).

Dilihat dari simbolisasi ritualritual dalam ibadah haji, sungguh memprihatinkna jika anak cucu Adam dan Hawa atau para pengikut nabi Ibrahim berkelahi dan saling membunuh seperti yang kerap terjadi sekarang ini.. Konflik keagamaan justru memperlihatkan bahwa kesadaran kita tentang afinitas historis dan doktrinal keagamaan dalam sosok Nabi Ibrahim semakin mengendur. Ini artinya, masyarakat telah kehilangan kasih sayang, seperti dengan jelas disimbolisasikan dengan pertemuan Adam dan Hawa di Jabal Rahmah, Padang Arafah.

Bahkan, sebagian kita sudah melenceng dari semangat kasih sayang dan kemanusiaan universal yang dilambangkan dengan pakaian ihram yang serba putih dalam ibadah haji yang menjadi petanda mengatasi warna kulit, suku dan identitas kulturallainnya. Ibadah haji itu sendiri melibatkan proses perpindahan dari dataran kehidupan profan kepada kesucian (ihram). Proses penyucian ini tidak hanya mencakup penyucian fisik, ritual-ritual purifikasi, tapi juga penyucian diri dari tanda-tanda lahiriah yang menunjukkan diferesiasi sosial.

Seluruh ritual-ritual dalam haji hakikatnya bertujuan untuk menghilangkan perbedaan-perbedaan sehari-hari yang memisahkan satu sama lainnya, entah itu perbedaan jender, sosial, ekonomi, kebudayaan, etnisitas, posisi sosial dan sebagainya.

Mereka semua sama, sejajar di hadapan Tuhan dan bersama-sama menempuh pengalaman kebersatuan umat. Ibadah haji memberikan kesempatan yang unik, bagaimana umat Islam seharusnya egaliter, multi-etnis dan kultural serta mengabdikan kesatuan umat hanya untuk pengejawantahan nilai-nilai kemanusiaan dan agama sebagaimana terkandung dalam wahyu ilahi.

Akhirnya, saatnya kita untuk kembali ke pusat eksistensial, yaitu kembali kepada kesucian. Ini sekaligus menemukan kembali makna kemanusiaan yang universal. Kewajiban menjalankan ritua-ritual yang dititahkan harus pula terimplementasikan dalam kebaikan kepada sesama.

Inilah momen yang strategis guna meneguhkan bahwa manusia adalah bersaudara, penuh kasih sayang dan kerelaan berkorban, sejajar di depan Allah, apa pun perbedaannya.

Said Aqil Siradj, Ketua Umum
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

1 SHARE DARI ANDA SANGAT BERHARGA BUAT BANYAK ORANG, SAMPAIKANLAH WALAU 1 AYAT, SEMOGA BERMANFAAT.

Jika anda merasa artikel diatas berguna dan bermanfaat bagi banyak orang, silahkan share / bagikan artikel diatas ke banyak orang lewat facebook / twitter anda.
Semoga anda mendapatkan pahala setelah membagikan artikel diatas, semoga setelah anda bagikan banyak bermanfaat buat semua orang, amin.

( Sampaikanlah walau satu ayat, untuk kebaikan kita semua )

Salah satu cara mencari pahala lewat internet adalah dengan menyebarluaskan artikel, situs/blog dan segala kebaikan yang diperoleh darinya kepada orang lain. Misalnya adalah kepada keluarga, sahabat, rekan kerja dan sebagainya.

Apa Pendapat Anda Tentang Artikel Diatas
Silahkan gunakan profile ( Anonymous ) jika anda tidak mempunyai Account untuk komentar

Jika anda ingin berpartisipasi ikut menulis dalam blog ini atau ingin mengirim hasil karya tulisan anda, membagikan informasi yang bermanfaat buat banyak orang lewat tulisan anda silahkan kirim tulisan anda ke email saya bagindaery@gmail.com
Tulisan anda akan dilihat dan dibaca oleh ribuan orang tiap harinya setelah anda mengirimkannya ke bagindaery@gmail.com