Senin, 21 Oktober 2013

Demokrat Terancam Karam? ( Partai Demokrat didikan presiden RI saat ini Susilo Bambang Yudhoyono sepertinya akan terus mengalami goncangan peluru yang tidak henti-hentinya menghantam tembok pertahanannya )

by: http://politik.kompasiana.com/2013/10/21/demokrat-terancam-karam-602537.html
Partai Demokrat didikan presiden RI saat ini Susilo Bambang Yudhoyono sepertinya akan terus mengalami goncangan peluru yang tidak henti-hentinya menghantam tembok pertahanannya. Di penghujung masa jabatan Ketua Umum Partai sebagai presiden demokrat mengalami banyak tragedi. Belum lagi Ibu Negara yang beberapa kali “berulah” di media sosial dengan bahasanya membalas komentar follower tidak sopan.

Tahun-tahun dimana para partai politik mulai sebuk mencari sosok-sosok yang akan dimajukan sebagai bakal calon presiden, dimana partai-partai politik berlomba-lomba menarik simpati rakyat, di saat partai-partai berjuang menunjukkan komitmen sebagai partai yang mementingkan kepentingan bangsa. Demokrat justru linglung mencari sosok sekaliber SBY yang namanya cukup tenar ke seluruh penjuru negeri, Demokrat kini seolah mustahil mengulangi sukses pemilu 2004 karena miskinnya sosok yang bisa menarik hati rakyat.
13823446701005775276
Demokrat semakin mengalami degradasi kepercayaan dari publik dimulai dari kader-kadernya yang tidak berkomitmen hidup bersih dari korupsi, hal ini tentu berbanding terbalik dengan yel-yel partai “Katakan Tidak Pada Korupsi”. Bahkan iklan ini pun sempat ditayangkan di televisi Indonesia dengan bintang iklan Angelina Sondakh yang kini mendekam dsel KPK karena terlibat kasus korupsi Wisma Atlet serta Kementrian Pendidikan. Andi Alfian Malarangeng, mantan juru bicara presiden SBY dan mantan Menteri Pemuda dan Olah Raga, yang kini sedang menjalani pemeriksaan kasus Hambalang, kemudian mantan Ketua Umum Parta Demokrat Anas Urbaningrum yang kini masih berkeliaran membentuk ormas PPI dengan dgaan kasus yang sama. Nyatanya mereka hanya MENGATAKAN TIDAK yang tidak diikuti oleh tindakan.

Tidak hanya itu, beberapa kader Demokrat yang ada di luar Jakarta juga terlibat kasus korupsi Agusrin Najamudin, Gubernur Bengkulu, Sukawi Sutarip, Walikota Semarang, terlibat dugaan penyimpangan APBD 2004 di Semarang, pos dana komunikasi senilai Rp5 miliar. Djufri, Walikota Bukit Tinggi yang juga kader Demokrat terjerat kasus pengadaan tanah untuk pembangunan kantor DPRD dan pool kendaraan sub dinas kebersihan serta pertamanan kota Bukit Tinggi. Andrias Palino Popang, Wakil Bupati Tanah Toraja, kasus korupsi anggaran pendapatan dan belanja Tanah Toraja 2003-2004 senilai Rp1,9 miliar, As’ad Syam, Yusran Aspar, Sarjan Tahir serta beberapa kader demokrat lainnya. Terungkapnya kasus korupsi yang melibatkan orang-orang Demokrat tentu menjadi ancaman besar bagi partai penguasa selama dua periode ini.

Penderitaan kubu Demokrat tidak berhenti sampai di situ saja, semakin komplitlah masalah dalam tubuh partai karena kader-kadernya juga mengalami perpecahan, dalam masa kepemimpinan Anas Urbaningrum keretakan mulai terjadi hal ini terjadi karena krisis kepemimpinan sepeninggal SBY. Lalu tergelindingnya wacana yang disulut oleh mantan bendahara umum yang terlibat kasus korupsi M Nazaruddin yang mengatakan bahwa ketua umum partai juga terlibat dalam kasus Hambalang, menyebabkan masalah baru. Penetapan Anas sebagai tersangka oleh KPK diduga memiliki sangkut paut dengan “pengusirannya” dari tubuh sekaligus ketua umum partai.

Lengsernya Anas dari ketua umum partai membuatnya panas, tak hanya itu, kader Demokrat pun terpecah menjadi dua kubu, yakni kubu Anas dan kubu SBY yang kemudian kembali mengambil alih tampuk kepemimpinan. Akibat “orkes sakit hati” Anas bergerak bersama kader yang pro padanya mendirikan sebuah ormas Perhimpunan Pergerakan Indonesia. Mungkin sebagai salah satu langkah untuk mewujudkan janjinya pada masa dimana ia menyatakan mundur dari Demokrat. Kala itu ia berkata “ini baru permulaan. Ini baru awal dari langkah-langkah besar, ini baru halaman pertama. Masih banyak halaman berikutnya yang akan kita buka dan kita baca bersama untuk kebaikan kita bersama,”.

Mantan ketua Komisi III DPR Gede Pesek Suardika yang juga kader Demokrat (kubu Anas) mendapat imbas dari keterlibatannya dalam ormas bentukan Anas, PPI, efeknya ia dicopot dari kursi pimpinan Komisi III yang notabene jatah Demokrat. Ruhut sempat ditunjuk sebagai penggantinya namun dikeroyok anggota komisi, kehadirannya ditolak karena tidak dinilai tidak memiliki kapasitas memimpin Komisi III.

Selain itu, ketidakpuasan publik akan kepemimpinan SBY di periode kedua juga membuat Demokrat seolah-olah akan karam dari benak masyarakat. SBY dinilai gagal mensejahterakan rakyat, SBY dinilai lambat dalam menangani permasalahan yang dialami rakyat, kebijakan-kebijakan SBY dinilai tidak pro rakyat. Mendengar tentang Partai Demokrat adalah mendengar tentang SBY, artinya kegagalan SBY serta kabinetnya secara langsung mengarahkan pandangan rakyat ke arah tubuh partai.

Kapal Demokrat pun dinilai kian kehilangan arah terkhusus menjelang pemilu 2014, nihilnya sosok “andalan” menjadi semakin komplit dengan serangan bertubi-tubi dari kubu lawan terhadap SBY dan Partainya. Demi mencari sosok yang tepat sebagai pengganti SBY, konvensi pun dilakukan dengan peserta 11 orang yang berasal dari luar partai, hingga kini belum terlihat tokoh yang mencolok dan calon-calon diingini rakyat. Salah satunya Gita Wirjawan malah sempat menuai kritik karena iklannya yang dinilai kontroversi, alih-alih meningkatkan popularitas, Gita malah dikecam publik, salah satu yang paling norak adalah kehadirannya dalam salah satu acara televisi swasta.

Serangan-serangan yang bisa merusak citra SBY dan Demokrat juga mucul satu persatu,  SBY dibuat marah oleh Luthfi Hakim (PKS) karena tudingan kedekatan dengan Bunda Putri. Terbaru PPI menuding adanya aksi penculikan ‘penculikan’ pendiri Partai Demokrat Subur Budisusanto. Menurut kabar yang beredar, Subur sengaja diculik untuk menghalangi kehadirannya dalam acara diskusi Perhimpunan Pergerakan Indonesia (PPI) Jumat lalu.

Kian dekatnya pemilu 2014 memang membuat panas panggung perpolitikan Indonesia, setiap hal terkesan dipolitisasi, setiap kesalahan partai lawan menjadi kesempatan menjatuhkan dan mengambil “muka”. Hingga kini SBY beserta Demokrat menjadi langganan serangan-serangan lawan, selain masalah yang juga muncul dari internal partai.

Apakah SBY sebagai orang yang paling berpengaruh di Demokrat akan mampu mengayuh perahu agar tidak karam? Tentu perjuangan akan cukup berat baginya, waktu semakin singkat untuk berbenah diri demi pertarungan dalam pesta demokrasi. Akankah muncul tokoh yang benar-benar bisa “menjamin” suara rakyat memilih Demokrat (lagi) sebagai partai asal presiden? Atau Demokrat akan? kita tunggu saja. Good luck. Salam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

1 SHARE DARI ANDA SANGAT BERHARGA BUAT BANYAK ORANG, SAMPAIKANLAH WALAU 1 AYAT, SEMOGA BERMANFAAT.

Jika anda merasa artikel diatas berguna dan bermanfaat bagi banyak orang, silahkan share / bagikan artikel diatas ke banyak orang lewat facebook / twitter anda.
Semoga anda mendapatkan pahala setelah membagikan artikel diatas, semoga setelah anda bagikan banyak bermanfaat buat semua orang, amin.

( Sampaikanlah walau satu ayat, untuk kebaikan kita semua )

Salah satu cara mencari pahala lewat internet adalah dengan menyebarluaskan artikel, situs/blog dan segala kebaikan yang diperoleh darinya kepada orang lain. Misalnya adalah kepada keluarga, sahabat, rekan kerja dan sebagainya.

Apa Pendapat Anda Tentang Artikel Diatas
Silahkan gunakan profile ( Anonymous ) jika anda tidak mempunyai Account untuk komentar

Jika anda ingin berpartisipasi ikut menulis dalam blog ini atau ingin mengirim hasil karya tulisan anda, membagikan informasi yang bermanfaat buat banyak orang lewat tulisan anda silahkan kirim tulisan anda ke email saya bagindaery@gmail.com
Tulisan anda akan dilihat dan dibaca oleh ribuan orang tiap harinya setelah anda mengirimkannya ke bagindaery@gmail.com