Jumat, 23 Agustus 2013

SEBUAH TULISAN MENARIK= Mengubah Energi Marah Menjadi Sesuatu yang Produktif

1377221240266505945
Foto Ilustrasi dari: http://www.facebook.com/pages/Beautiful-world-Nature-love-art
-
by: http://fiksi.kompasiana.com/novel/2013/08/23/mengubah-energi-marah-menjadi-sesuatu-yang-produktif-585759.html
Fuad Ahmad (FA), 48 tahun, profesi: aktivis lingkungan hidup. Akbar (A) yang mewawancarinya.
A: “Disamping bekerja di sebuah departemen pemerintah, Anda juga dikenal sebagai aktivis lingkungan hidup. Kenapa Anda mau repot-repot begitu?”
FA: “Demi memenuhi kebutuhan batin. Saya memiliki konsen yang cukup tinggi pada lingkungan hidup. Hutan di Indonesia adalah paru-paru dunia. Dada saya turut sesak mendapati kenyataan banyak hutan kita yang rusak. Dengan melibatkan diri sebagai aktivis lingkungan hidup, itu cukup mengurangi rasa sesak dalam dada. Walaupun yang saya lakukan mungkin tidak seberapa, tidak signifikan, efeknya tidak kelihatan secara langsung, setidaknya saya melakukan sesuatu. Tidak berpangku tangan saja.”
A: “Ada yang sinis pada aktivis, menyebut aktivis hanya mencari keuntungan, melobi donatur asing dengan mengatasnamakan kepentingan rakyat.”


FA: “Tidak apa-apa. Dalam hidup ada yang mensinisi kita itu biasa. Mungkin memang ada aktivis yang seperti itu, tapi apa iya semua aktivis begitu. Kalau mendengarkan semua omongan orang, kita tidak akan beranjak kemana-mana. Modal saya adalah 2N, Nekat dan Networking. Saya ajak orang-orang yang mau diajak untuk bergerak, bersih-bersih kali, menanam pohon mangrove, mengembalikan fungsi hutan bakau dan mencegah abrasi yang makin meluas. Bersama kawan-kawan satu visi, mengedukasi masyarakat dan mengajak masyarakat minimal menciptakan penghijauan di lingkungan masing-masing. Pentingnya lahan hijau di perkotaan harus terus didengungkan, untuk mengimbangi pembangunan fisik yang masif. Lihat saja Jakarta, dimana-mana mal, setiap hari muncul mal baru, overload, itu bukan kabar baik dilihat dari kacamata lingkungan hidup dalam jangka panjang. Bayangkan bila pembangunan mal itu tidak direm, Jakarta akan seperti apa sepuluh tahun yang akan datang, dua puluh tahun yang akan datang, lima puluh tahun yang akan datang, seratus tahun yang akan datang. Apa yang akan kita berikan untuk anak cucu kita nanti. Saya marah melihat itu semua. Energi marah itu saya jadikan sesuatu yang produktif, yakni dengan melibatkan diri sebagai aktivis lingkungan hidup.”


A:  “Pikiran Anda jauh ke depan ya?”
FA: “Iya dong. Kita hidup kan bukan untuk saat ini saja. Kalau kita menikmati lingkungan hidup yang baik saat ini, itu tidak terlepas dari kebaikan orang-orang yang hidup sebelum saat ini. Orang-orang dulu menjaga lingkungan hidup, sehingga kita yang hidup pada saat ini bisa merasakan keteduhan pohon-pohon yang berdiri tegak menjulang tinggi dengan akar yang kokoh mencengkeram bumi, dengan daun-daun yang rindang. Nah, sebagai orang yang hidup di saat ini, apa yang kita lakukan untuk menjaga lingkungan hidup? Apakah kita mau berpikir pragmatis saja, berpikir jangka pendek saja, memikirkan keuntungan pribadi saja? Membangun ini itu tanpa memikirkan efeknya ke depan akan seperti apa. Saya pikir ini harus menjadi perhatian bagi seluruh anak bangsa ini. Kita tidak cukup marah dan mencaci-maki saja. Sebuah ironi ya melihat hutan-hutan kebakaran di musim kemarau, dan banjir dimana-mana saat musim penghujan. Itu tidak akan terjadi atau sangat bisa diminimalisir kalau kita sungguh-sungguh menjaga lingkungan hidup, dan melakukan pembangunan sesuai aturan. Pada masyarakat harus ditumbuhkan kesadaran bahwa bumi ini satu, seluruh manusia adalah satu keluarga. Sehingga jika ada yang melakukan kerusakan di muka bumi ini, itu efeknya bukan ke dirinya saja, tapi meluas kemana-mana. Contoh mudah deh, dalam satu lingkungan, tidak semua orang membuang sampah di got, tapi ketika hujan deras datang, semua orang di satu lingkungan itu harus merasakan derita kebanjiran karena got tersumbat sampah yang menumpuk.”


A: “Program apa yang Anda sedang buat sekarang?”
FA: “Kerja di lingkungan hidup itu berkesinambungan, terus-menerus, tak ada putusnya. Saya dan kawan-kawan serta berbagai pihak pendukung, saat ini sedang mengkampanyekan gaya hidup hijau. Manusia harus menyadari bahwa dirinya adalah bagian dari alam, bagaimana hidup menyatu dengan alam. Ruang hijau harus menjadi perhatian ketika membangun rumah misalnya. Jangan rumah itu habis untuk bangunan, hingga taman ditiadakan. Yang seperti itu tidak seimbang. Taman harus ada, dan taman itu tidak selalu ditumbuhi bunga. Itu bisa dimanfaatkan dengan konsep taman bergizi, tumbuhan berupa sayur-sayuran itu juga tidak kalah indahnya dengan aneka tanaman bunga. Tanaman seperti bayam, sawi, cabe, itu lebih produktif. Bisa dipetik hasilnya dan dimasak untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarga. Bukannya melarang orang menanam bunga yang indah, bisa saja dikombinasi antara tanaman bunga yang bernilai estetika dan tumbuh-tumbuhan produktif. Atau dikombinasi dengan konsep taman sehat, menanam tumbuh-tumbuhan yang berkhasiat jamu. Intinya ruang hijau itu tidak boleh diabaikan.”
A: “Tapi tidak semua orang memiliki tanah yang cukup untuk mewujudkan konsep hijau itu. Banyak orang tinggal di perumahan padat penduduk. Jangankan memikirkan lahan hijau, memikirkan lahan untuk tidur sendiri saja sulit?”


FA: “Ya itulah, semua hal saling terkait. Mengapa orang desa berbondong-bondong pergi ke kota, rela hidup berdesak-desakan di perumahan padat penduduk, padahal di desa ia memiliki tanah luas. Itu contoh saja ya. Suatu keadaan kadang sudah seperti benang kusut. Itu bisa diurai satu persatu dan tidak cukup dipikirkan oleh satu orang saja. Kemarin saya bertemu seorang bapak. Dia seorang petani di desa. Ia menyekolahkan anaknya di kota untuk belajar ilmu pertanian. Bapak itu berharap anaknya kembali pulang ke desa untuk membangun pertanian di desanya. Tapi setelah selesai menuntut ilmu pertanian, anaknya itu memilih bekerja di kota. Tentu saja sang bapak itu tidak bisa memaksa anaknya pulang ke desa. Seperti yang saya lakukan. Saya melakukan apa yang saya bisa lakukan. Saya mengkampanyekan gaya hidup hijau pada masyarakat. Saya berharap semua orang menerapkan gaya hidup hijau. Apakah kemudian semua orang menerapkan gaya hidup hijau, belum tentu. Karena orang itu memang tidak bisa dipaksa-paksa. Kesadaran itu harus ditumbuhkan di dalam hati sendiri.”
A: “Kondisi seperti apa yang membuat Anda bahagia?”
FA: “Saya bahagia apabila saya pergi tanpa meninggalkan masalah. Dalam bahasa berbeda, saya bahagia apabila saya mati tanpa meninggalkan masalah. Yang saya lakukan sekarang ini adalah bagian dari usaha mewujudkan kebahagiaan itu. Seperti saya katakan di awal, walaupun yang saya lakukan ini hanya seujung jari, sangat kecil, tidak kelihatan. Walaupun hanya satu langkah kecil dan tertatih-tatih dan mungkin tidak akan sampai pada tujuan, tapi setidaknya saya memiliki niat baik dan telah bergerak.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

1 SHARE DARI ANDA SANGAT BERHARGA BUAT BANYAK ORANG, SAMPAIKANLAH WALAU 1 AYAT, SEMOGA BERMANFAAT.

Jika anda merasa artikel diatas berguna dan bermanfaat bagi banyak orang, silahkan share / bagikan artikel diatas ke banyak orang lewat facebook / twitter anda.
Semoga anda mendapatkan pahala setelah membagikan artikel diatas, semoga setelah anda bagikan banyak bermanfaat buat semua orang, amin.

( Sampaikanlah walau satu ayat, untuk kebaikan kita semua )

Salah satu cara mencari pahala lewat internet adalah dengan menyebarluaskan artikel, situs/blog dan segala kebaikan yang diperoleh darinya kepada orang lain. Misalnya adalah kepada keluarga, sahabat, rekan kerja dan sebagainya.

Apa Pendapat Anda Tentang Artikel Diatas
Silahkan gunakan profile ( Anonymous ) jika anda tidak mempunyai Account untuk komentar

Jika anda ingin berpartisipasi ikut menulis dalam blog ini atau ingin mengirim hasil karya tulisan anda, membagikan informasi yang bermanfaat buat banyak orang lewat tulisan anda silahkan kirim tulisan anda ke email saya bagindaery@gmail.com
Tulisan anda akan dilihat dan dibaca oleh ribuan orang tiap harinya setelah anda mengirimkannya ke bagindaery@gmail.com