Minggu, 26 Mei 2013

SEBUAH KISAH PANJANG TENTANG PEMUJAAN/ PESUGIHAN

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj5z4N2fzNwDY_PhoGjIqaGIBAp6E-koCn3CiKzE298FXnc93kRBUlNjDReHb-OMGh8y3_L7OCAL-T6OnBqAUB2sCgVjUolMiqF-34868QOQyvyi9nqO4DhmaSYhOF2yfTRTr9pQnIf-wvt/s1600/Batas+HItam.jpgSeperti biasa, saya akan memakai bahasa aku sebagai peran pelaku. Kisah ini bersumber dari kehidupan nyata saya yaitu, sahabat saya ditempat kerja, sebenarnya dia malu untuk bercerita karena ini menyangkut atas nama keluarga besarnya, namun entah karena apa tiba tiba dia telepon dan mengajak saya bertemu ditempat biasanya kita saling curhat, dia bercerita kisah perjalanan hidupnya yang sampai masih teringat di benaknya, sebenarnya kejadian ini sudah lama, namun apa salahnya saya ceritakan untuk dipostingkan di page Selayang Pandang in, biar bisa jadi pembelajaraan bahwa pemuja itu sesat.
Baiklah akan saya mulai awal kisah ini.

Aku merupakan anak perempuan paling bungsu diantara lima bersaudara, namun sampai cerita ini aku beberkan semua keluarga saya sudah tiada, hanya tinggal saya yang masih hidup dengan tante tante saya yang masih terbilang saudara jauh, sementara ayah, ibu dan saudara kandung saya telah meninggal dunia.

Aku seorang sarjana lulusan universitas bergengsi di Surabaya, dari hasil buka restoran itulah orang tuaku bisa membiayai kakak dan aku menjadi seorang sarjana, bahkan kehidupan kami dimasyarakat, terbilang kami orang kaya, dimana setiap Hari Raya Kurban, orang tuaku selalu berkurban lima ekor sapi dan lima ekor kambing, itu setiap tahunnya. Namun entah kenapa kalau disarankan menunaikan ibadah haji, ayah dan ibu selalu menolak, dan Naudzubillah orang tuaku jauh dari sholat dan puasa, hanya zakat fitrah dan kurban aja syariat islam yang dikerjakannya.

Dari restoran yang dipunyai orang tua itulah segala kemewahan aku nikmati, namun yang aku herankan dulu sewaktu kecil ada sebuah kamar tepatnya dibelakang sendiri yang tidak boleh dibuka, diusia yang masih kecil itulah semua saudaraku kakak dan termasuk aku mengacuhkan dan menuruti saja.

Dari waktu ke waktu usia kamipun beranjak dewasa, aku selalu tanya ke ibuku,

“ibu kenapa sih setiap kamis malam jumat legi ibu ama ayah selalu memakai pakaian hijau, dan aku lihat ibu aneh selalu beli dupa”? tanyaku pada ibu

“Sudah diam saja, ini sudah tradisi keturunan nenek moyang ayahmu yang harus menghormati leluhurnya,” itu saja alasan ibu.

Dan ibu selalu melarang anaknya untuk sholat, berhubung saudaraku laki semua, kakakku jadi bejat, diskotik dan obat obatan terlarang serta pelukan kupu kupu malam tiap harinya dinikmati. Entah kenapa denganku, setiap aku dikasih ibu uang buat foya foya, aku selalu meragu.

Waktu itu aku masih SMU aku sering curhat ke guru agamaku, dan secara sembunyi sembunyi aku selalu sholat, dengan mengunci terlebih dahulu kamarku, takut ketahuan ayah dan ibu, karena pernah aku dapat kado mukena dari kekasihku dibakar ama ayahku. Rupanya dengan sholatku itulah keadaan restoran ibu menurun dan sepi, entah dari mana asalnya, waktu itu kami semua dikumpulkan diruang keluarga, ayah dengan mata marah, menanyai anaknya satu persatu.

“ siapa yang sholat dalam rumah ini”?tanya ayahku dengan murkanya.

Aku terkejut, namun tetap bungkam, tapi aku berani bertanya.

“memang kenapa kalau sholat bukankah itu perintah agama sebagai seorang muslim,bukankah ibu dan ayah seorang muslim” jawabku ingin tau

“ Diammm..” bentak ayahku.

Aku semakin penasaran dan masih terus berusaha mencari tau kenapa ayah dan ibu tidak mau sholat, dan apa hubungannya sholatku dengan sepinya restoran orang tuaku?tepat jam satu dini hari, aku mencoba sholat tahajud sesuai petunjuk guru agamaku minta petunjuk pada Allah SWT, saat aku membaca Ayat Qursyi, tiba tiba ada jeritan memecah keheningan aku lupa kalau masih memakai mukena, aku langsung berlari kesumber suara tersebut, ternyata kakak sulungku meninggal dengan ada bekas menghitam dileher seperti cekikan, dan suara teriakan itu ternyata kakakku kedua setelah pulang dari diskotik, rupanya ayah murka tau aku memakai mukena, aku dikurung dan dilarang sekolah, bahkan sajadah dan buku buku agamaku dirampas ayah, aku memohon penuh hiba dengan tangis, namun ayah seperti orang yang sudah kesetanan, bahkan menuduhku aku biang atau sumber meninggalnya kakaku, dimana sesembahan ayah dan ibu marah.

Walaupun aku tidak bisa sholat karena mukena yang tidak ada, aku terus berusaha melantunkan ayat ayat yang sedikit demi sedikit telah aku pelajari dan aku hafal. Setelah kematian kakak yang aku curigai, namun dimata tetangga, orang tuaku mengatakan kakakku kena angin duduk karena sering pulang pagi, bahkan seorang ustad yang memandikan sebenarnya curiga, namun tetap diam saja sebagai tugasnya untuk merahasiakan apa yang terjadi pada mayat tersebut, itu yang saya ketahui sedikit dari agama, bahwa seorang pemandi jenazah harus bisa menympan rahasia keadaan mayat tersebut, biar tidak terjadi fitnah.

Setelah satu bulan kematian kakak sulungku, keluargaku tertimpa bencana lagi , ayah membelikan mobil pada kakak keduaku, namun saat mobil itu di rayen atau dicoba, naas kecelakann itu terjadi dan yang didalam adalah kakakku kedua dan ketiga, mereka mati ditempat dengan kepala pecah karena tabrakan dengan trailer.

Ayah dan ibu tetap seperti tidak ada beban dengan kematian ketiga putranya, mereka Cuma menjawab “itu sudah jalannya”, kini tinggal aku ama kakakku no empat, aku sering cerita tentang kecurigaan tingkah laku ayah dan ibu, namun kakakku ini sepertinya sudah buta mata dan telinga, mungkin karena jampa jampi yang sering diberikan ibu, dimana setiap kamis legi ayah dan ibu selalu membeli ayam dan disembelih sementara darahnya disiramkan kekepala ular yang sudah diawetkan kemudian darah itu disaring dibejana.

Ini yang aku ketahui secara tidak sengaja, setetes darah selalu diteteskan pada kopi kakakku, sementara aku tidak pernah dikasihnya, mungkin yang aku ketahui aku sebagai penerus pesugihan yang dianut keluarga ayah, belum sempat aku diwarisi, aku terlebih dahulu tau dan menentang, dan jika aku menolak maka kata ayah aku akan melajang seumur hidupku, bahkan lelaki yang ingin menyetubuhiku pun akan layu, jadi aku tetap perawan, karena aku pernah coba bercumbu dengan kekasihku, alhasil maaf kelamin kekasihku langsung loyo, itu dulu, karena sekarang aku sudah dirukyah dan dirajah seorang ustad yang kini jadi suamiku, alhamdulilah kini aku sudah mempunyai putra dua orang anak.

Aku sempat takut juga jika jadi perawan tua, namun aku percaya Allah selalu memberikan jalan buat hambanya yang sholeh, Aku menangis tatkala aku tahu kalau orang tuaku seorang pemuja pesugihan ular, apakah itu blorong aku tidak tau.

Dari sering curhat inilah, guruku mengenalkan pada aku seorang santri yang katanya bisa membantuku dalam menyelesaikan pelik keluargaku, dia lulusan pondokan terkenal di Jombang, meskipun aku sudah lulus SMU, aku masih terus sering main kerumah guru agamaku tersebut.

Berbagai bujukan dilontarkan ayah dan ibu agar aku mau mewarisi ilmu pesugihan tersebut dengan memberikan darah perawanku buat siluman yang dipuja, dugaanku salah ternyata orangtuaku bukan pemuja blorong karena setahuku blorong itu wanita, namun ini yang dipuja orang tuaku siluman ular laki laki.

Aku terus melawan orang tuaku tak lupa doa doa terus kuucap tatkala aku merasakan ada yang lain dikamarku, aku semakin memberanikan diri doa doa yang diberikan teman lelakiku itu terus aku baca, Masyaallah tepat jam 2 malam, aku usai sholat tahajut terdengar seperti ada ledakan rumahku terguncang, namun cuma beberrapa saat saja, bersamaan itu aku dengar teriakkan ibuku dan disusul ayahku, aku langsung lari kekamarnya, Ya Allah ayah dan ibuku dalam keadaan bugil dengan erangan kesakitan namun aku masih terdengar ucapan ibu, bahwa dia telah disetubuhi siluman itu dengan teramat kasar, hingga ibu kesakitan karena maaf vaginanya hancur, sementara ayah juga melayani siluman ular yang wanita hingga kelaminnnya luka dan berdarah, ternyata orang tuaku memuja sepasang siluman ular yang diwarisi dari leluhur ayah.

Jika anak perawan tidak mau maka ibunya yang harus melayaninya.
Kulihat ayahku sudah tak bernyawa dengan kelamin yang hampir putus darah dimana mana serta tiada setengah jam ibuku menyusul, aku histeris sekeras kerasnya, aku baca doa yang diberikan temanku itu dan aku baca doa nurbuwah yang terkenal keampuhannya, Alhamdulilah sepasang siluman itu sirna bersama asap yang mengepul didalam kamar, entah kemana siluman itu, aku menangisi kedua orang tuaku, aku telepon guru dan teman lelakiku itu, mereka membantuku menjaga rahasia ini sampai prosesi pemakaman, aku bilang ketetangga ibuku sakit jantung dan disusul ayah ikutan terserang jantung karena tidak menyangka ibu secepat itu meninggalkannya.

Kini semua kekayaan orang tuaku hancur lebur termakan berbagai bencana. Kakakku ke empat sekarang menjadi gila, saat dirawat di RSJ, kakakku bunuh diri dengan menyayat sendiri urat nadinya.

Ternyata setelah aku ketahui bahwa keperawananku yang ditunggu siluman ular yang selama ini dipuja nenek moyangku aku adalah keturunan ke tujuh yang kata tanteku, bisa menambahkan kekayaan hingga tujuh turunan lagi, dan restoran orang tuaku sebenarnya hanya kedok saja menutupi keganjilan kalau mereka pemuja iblis berwujud ular.

Maka itu setiap kamis malam legi ular yang diawetkan oleh leluhurku itu dimandikan air kembang dan bilasan air itu ditampung disebuah bejana kemudian airnya dibuat masak direstoran tersebut, ternyata inilah kayaan keluargaku, memuja pada siluman ular, meskipun tanpa buka restoranpun uang itu datang sendiri setelah ayah dan ibu melakukan persetubuhan dengan sesembahannya.

Kini mumi ular yang diawetkan itu berhasil dibakar oleh teman lelaki itu yang kini jadi suamiku. Disaat mumi ular itu dibakar, restoran serta rumah mewah keluargakupun hangus dilalap si jago merah karena korsleting. Jangan dikira ibu kota jauh dari mistik, ini jaman cari uang susah, tapi inilah kisah nyata yang aku alami, aku malu pada tetanggaku dan kini ikut suamiku berpindah ke kota Probolinggo.

Setelah kejadian itu semua, tidak membuatku tenang masih sering aku mendengar desis ular, bahkan dalam mimpipun aku sering dihantui teriakan ayah dan ibuku yang seakan menjadi budak di istana siluman ular, namun berkat kegigihan suamiku yang selalu membimbingku dengan memperbanyak doa dan istiqfar, agar dijauhkan dari segala marabahaya yang bersifat gaib. Sampai kinipun aku masih sering trauma jika melihat ada ular didepanku.

Ingatlah kekayaan dunia tidak abadi apalagi dengan cara memuja, jika pemuja meninggal alhasil kekayaan yang didapat hasil mujapun ikutan sirna.

Sekian kisah ini saya ceritakan nyata adanya, dan ini pernah saya kirimkan di harian memo disurabaya sebagai kisah misteri.
sumber: https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=367255766684531&id=361135397296568

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

1 SHARE DARI ANDA SANGAT BERHARGA BUAT BANYAK ORANG, SAMPAIKANLAH WALAU 1 AYAT, SEMOGA BERMANFAAT.

Jika anda merasa artikel diatas berguna dan bermanfaat bagi banyak orang, silahkan share / bagikan artikel diatas ke banyak orang lewat facebook / twitter anda.
Semoga anda mendapatkan pahala setelah membagikan artikel diatas, semoga setelah anda bagikan banyak bermanfaat buat semua orang, amin.

( Sampaikanlah walau satu ayat, untuk kebaikan kita semua )

Salah satu cara mencari pahala lewat internet adalah dengan menyebarluaskan artikel, situs/blog dan segala kebaikan yang diperoleh darinya kepada orang lain. Misalnya adalah kepada keluarga, sahabat, rekan kerja dan sebagainya.

Apa Pendapat Anda Tentang Artikel Diatas
Silahkan gunakan profile ( Anonymous ) jika anda tidak mempunyai Account untuk komentar

Jika anda ingin berpartisipasi ikut menulis dalam blog ini atau ingin mengirim hasil karya tulisan anda, membagikan informasi yang bermanfaat buat banyak orang lewat tulisan anda silahkan kirim tulisan anda ke email saya bagindaery@gmail.com
Tulisan anda akan dilihat dan dibaca oleh ribuan orang tiap harinya setelah anda mengirimkannya ke bagindaery@gmail.com