Minggu, 15 Juli 2012

Renungan : Pertanyaan Terakhir Sang Malaikat

Aku mencabuti bulu satu per satu yang menyusun sayap di punggungku, meninggalkan urat-urat yang sebelumnya memeluk erat. Memalingkan wajah dari lembut binarnya surga, kupandang gejolak merah api neraka di depan sana. Aku terbang perlahan, sambil menekuri bagaimana dimensi surga dan neraka dipisahkan oleh kabut-kabut tipis membayang, mungkin takkan terlihat oleh mata telanjang, tapi aku bisa dengan jeli memetakannya. Neraka hanya tinggal beberapa jengkal di hadapanku. Panasnya menguar tanpa ampun.

Seakan menyaingi neraka itu, determinasi bergaung kencang di kepalaku. Memintaku cepat-cepat menceburkan diri ke dalam lidah-lidah api yang membara. Aku terhenti sejenak. Menimbang untuk yang terakhir kali, dan memanggil lagi alasanku.

Atas dasar apakah aku memutuskan hal ini?

Pertanyaan retoris. Detik berikutnya, kalbuku sendiri menyahut.

Kalian, para manusia, sudah terlalu banyak mempengaruhiku–yang selama ini bertengger di pundak kalian, berusaha membisikkan sisa-sisa kebaikan yang mungkin bisa memutar balik keadaan. Namun pada akhirnya kalian hanya akan mengacuhkanku, lalu menuruti hawa nafsu semata. Kalau kalian bisa berbuat seperti itu, maka aku juga bisa. Bukankah pada intinya aku dan kalian sama-sama makhluk? Seharusnya hak kita sama. Maka aku juga akan memilih neraka di atas surga. Mendobrak hakikat yang paling mendasar.

Kuayunkan tubuhku saat panas neraka mulai menjilat gaun satin yang kukenakan.

Tak usah menunggu sampai kalian berkedip membaca kata selanjutnya di catatan ini, maka diriku sudah jatuh ke dalamnya. Jangan berpikir untuk mengulurkan jemari dan menggapai tanganku. Diamlah. Saksikan perlahan, bagaimana ragaku melebur jadi satu bersama kumpulan tulang dan kenangan milik jiwa-jiwa terhina lainnya.

Sampai batas terakhir, bahkan seorang malaikat sepertiku memutuskan untuk menyatu dengan neraka, dan menorehkan sejarah atas namaku dengan tinta yang kelam. Jangan salahkan aku. Bukan aku yang terlalu lemah sampai melakukannya, tapi aku hanya ingin tahu.

Seberapa nikmatnyakah dosa hingga setiap hari kalian mencecapnya dengan senyum terulas sempurna?

sumber : kaskus.us
credits to : BantengMirc

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

1 SHARE DARI ANDA SANGAT BERHARGA BUAT BANYAK ORANG, SAMPAIKANLAH WALAU 1 AYAT, SEMOGA BERMANFAAT.

Jika anda merasa artikel diatas berguna dan bermanfaat bagi banyak orang, silahkan share / bagikan artikel diatas ke banyak orang lewat facebook / twitter anda.
Semoga anda mendapatkan pahala setelah membagikan artikel diatas, semoga setelah anda bagikan banyak bermanfaat buat semua orang, amin.

( Sampaikanlah walau satu ayat, untuk kebaikan kita semua )

Salah satu cara mencari pahala lewat internet adalah dengan menyebarluaskan artikel, situs/blog dan segala kebaikan yang diperoleh darinya kepada orang lain. Misalnya adalah kepada keluarga, sahabat, rekan kerja dan sebagainya.

Apa Pendapat Anda Tentang Artikel Diatas
Silahkan gunakan profile ( Anonymous ) jika anda tidak mempunyai Account untuk komentar

Jika anda ingin berpartisipasi ikut menulis dalam blog ini atau ingin mengirim hasil karya tulisan anda, membagikan informasi yang bermanfaat buat banyak orang lewat tulisan anda silahkan kirim tulisan anda ke email saya bagindaery@gmail.com
Tulisan anda akan dilihat dan dibaca oleh ribuan orang tiap harinya setelah anda mengirimkannya ke bagindaery@gmail.com