Senin, 09 Mei 2011

Siapakah Dalang Tragedi 14 Mei 1998


Secara tak terduga ketika browsing Menemukan ini tolong disimak jika perlu di update terus dalam kasih info Baik yg Pro maupun Kontra
Saya harap fokus pada kejadian 14 mei 1998.
Walaupun kita sadari banyak sekali kekurangan pada Mantan Presiden RI ke II. tp jika hanya mahasiswa saja tanpa ada campur tangan provokator
Saya kira tdk bisa, apalagi seorang Sniper menembak tanpa izin komandan nya tdk bakalan mau, seperti kejadian Munir.
Apakah Presiden SBY yg memerintah melakukan ???
Saya kira jawaban nya tidak pasti ada kepentingan Elite Politik lain.
Pemilu akan datang hati2 pada pilihan nya, jangan sampai kita dikibuli seperti Mantan Presiden BJ Habibie.

Majalah Tokoh Indonesia
PROBO: Pada waktu itu Pak Harto ke Mesir. Sebelum tanggal 15 Mei sudah terjadi gerakan-gerakan anti Soeharto. Dia dituduh korupsi. Setiap hari ada orasi. Waktu mau berangkat ke Mesir saya sebenarnya sudah mengingatkannya. “Mas, jangan pergilah. Dirikanlah Dewan Reformasi, lakukan perbaikan atau reform untuk menjaga supaya jangan sampai reformasi berubah menjadi revolusi sebab apa yang kita bangun bisa rusak,” kata saya.

Namun saya mendapat jawaban bahwa ini bukanlah masalah pribadi, bukan mewakili Indonesia saja tapi juga mewakili ASEAN dan Gerakan Non Blok. Terus saya juga meminta kepada Ketua MPR Harmoko supaya mencegah Pak Harto agar jangan pergi. Maksud saya, bikinlah keputusan sidang yang bisa mencegah kepergian Pak Harto.

Tetapi Harmoko cuma datang kepada Pak Harto minta supaya jangan pergi dan memberitahu pula bahwa itu adalah atas usul saya. Lalu saya bilang Harmoko, “Kenapa dibilang Pak Probo, saya artinya apa, saya orang swasta dan tidak punya kedudukan.”

Demonstrasi terjadi terus-menerus tiada henti. Terjadi penembakan mahasiswa Universitas Trisakti. Puncaknya tanggal 14 Mei terjadi penjarahan di beberapa tempat. Kelihatannya sudah direncanakan sebelumnya karena tempatnya tertentu begitu saja. Malah ada perkosaan-perkosaan di rumah-rumah keturunan etnis Tionghoa.

Sampai-sampai Cristianto Wibisono, Direktur Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI) takut betul-betul sehingga koma dan tidak mau lagi tinggal di Indonesia. Ia keluar ke Amerika.
Pada tanggal 14 Mei penjarahan terjadi di mana-mana, keadaan kacau. Saya berusaha menghubungi Habibie sebagai Wakil Presiden tapi tidak berhasil. Sama Wiranto juga tidak berhasil. Tidak ada satu pun yang bertindak pada tanggal 14 itu. Lalu saya pulang dari kantor.

Kemudian, dari rumah pukul setengah lima subuh, saya keliling Jakarta, ternyata kota sudah morat-marit semuanya. Jakarta sepi tak ada satu pun mobil yang lewat kecuali saya.

MTI: Saat itu Pak Probo ada di Gedung Tedja Buana, berusaha mencari atau mengadakan hubungan kontak dengan Pak Habibie dan Pak Wiranto?


PROBO: Ya, tapi Habibie-nya tidak tahu di mana dan Wiranto-nya juga tidak bisa dihubungi. Belakangan baru tahu ikut rombongan ke Malang. Ada apa ini, dan acara apa itu?
Bagaimanapun yang merasa sudah puluhan tahun dibina supaya nanti bisa menggantikan meneruskan pembangunan, tahu-tahu sesudah ada kesempatan kok tega membikin dan mencari kedudukannya supaya kuat.


Kalau kita merenungkannya seperti begitu, kan tampak selama dia menjadi presiden gerakannya cuma mencari kedudukan supaya menjadi kuat, supaya mendapat kepercayaan. Sampai kepada anak-anak pun didekatinya seperti Josua, penyanyi anak-anak dari Surabaya pun sempat diterimanya di Istana. ?mti


=============================================

IMF dan Likuidasi 16 Bank

MTI: Posisi politik Pak Harto sampai tahun 1998 masih sangat kuat bahkan terpilih kembali menjadi Presiden. Ba-rangkali satu-satunya cara menurunkannya hanya lewat goncangan ekonomi yang menemukan momentum saat krisis mo-neter melanda Asia. Bagaimana sesunguh-nya penanganan krisis kala itu, sehingga Pak Harto, seorang pemimpin yang ber-pengalaman sampai tak kuasa menahan gejolak?

PROBO: Menjelang akhir masa jabatannya memang banyak pejabat yang selalu menjilat ke Pak Harto. Kasarnya begitu. Mengangkat-ngangkat dan memuji-muji Pak Harto dengan maksud supaya diangkat menjadi pejabat.

Ternyata mereka itu banyak yang hanya ngomong gede. Malah yang terakhir menjelang terjadinya reformasi, banyak pejabat yang me-nyusun buku yang namanya Manajemen Soeharto. Termasuk Tanri Abeng dan Abdul Gafur yang isi bukunya memuji-muji Pak Harto, supaya Pak Harto senang, lantas dia diangkat jadi menteri. Tapi ternyata mereka itu tidak becus.

Mula-mula Pak Harto dituduh bekerjasama dengan Liem Soe Liong. Padahal, tujuannya wak-tu itu Liem Soe Liong adalah orang yang bisa dikendalikan untuk membangun pabrik-pabrik yang sangat bermanfaat untuk kepentingan rakyat. Rupanya diam-diam banyak juga pejabat yang menjalin hubungan dengan pengusaha-pengusaha sehingga menjadi kaya.

Terus yang terakhir, terjadi krisis moneter yang tidak saja melanda Indonesia tetapi juga Korea Selatan, Thailand dan Filipina. Negara lain seperti Hongkong dan Cina tidak terkena karena cadangan devisanya banyak.

Indonesia cadangan devisanya pas-pasan. Itulah yang dipermainkan oleh George Soros. Akhirnya nilai rupiah jatuh kemudian terjadilah krisis moneter. Pak Harto sudah dijadikan sasaran di sini. Kemudian Pak Harto dipaksa supaya berhubungan dengan IMF. Menteri-menterinya pada waktu itu sudah mulai bertindak sendiri. Seperti Menteri Keuangan Mari’e Muhammad dan Gubernur BI J Soedradjat Djiwandono mengatur bank sendiri sampai ada 16 bank yang dilikuidasi.
Setelah ternyata tidak berhasil, Pak Harto memerintahkan agar jangan ada likuidasi lagi, karena tidak ada gunanya. Lebih baik kalau ada bank yang bermasalah dikasih bantuan kredit. Itulah kemudian keluar yang namanya BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia).

Waktu BLBI keluar, saya sudah bilang sama Prof Edi Swasono, lewat telepon. “Wah, ini BI akan bangkrut.”
“Kenapa Pak?” tanya Edi Swasono. “Itu, orang-orang bank tidak bisa dipercaya. Nanti akan dibikin nasabah fiktif. Yang pinjam fiktif, nasabahnya fiktif, nanti akan terjadi begitu sehingga BI disedot.”

Benar saja. Akhirnya dana BI mengalir terus sampai sekian ratus triliun rupiah. Karena keadaannya begitu, Pak Harto dituduh tidak mampu lagi mengendalikan sehingga terjadilah krisis kepercayaan.

Dalang Tragedi Mei

MTI: Siapa kira-kira dalang peristiwa Kerusuhan 14 Mei 1998?

PROBO: Itulah yang kita tidak tahu. Saya kira kelompok orang-orang yang ekstrim-ekstrim itu. Orang kiri itu, kelihatannya dari situ.

MTI: Mengapa pada waktu itu jenderal-jenderal tidak berada di Jakarta?

PROBO: Ya itulah juga yang sampai sekarang menjadi teka-teki. Wiranto itu mengapa pergi ke Malang sewaktu terjadi peristiwa tanggal 14 Mei. Semua jenderal-jenderal pergi ke Malang di sini kosong sehingga tidak ada komando pengamanan. Dan sesudah sore-sore peristiwa itu berhenti sendiri. Aneh, kan?

Waktu itu saya duduk di sini juga, lantai tiga gedung Tedja Buana Building, Menteng, Jakarta Pusat. Si Lis, sekretaris saya yang dulu sudah ketakutan sekali. “Bagaimana ini, pulang saja Pak,” katanya. ?mti

Sumber Berita
Majalah Tokoh Indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

1 SHARE DARI ANDA SANGAT BERHARGA BUAT BANYAK ORANG, SAMPAIKANLAH WALAU 1 AYAT, SEMOGA BERMANFAAT.

Jika anda merasa artikel diatas berguna dan bermanfaat bagi banyak orang, silahkan share / bagikan artikel diatas ke banyak orang lewat facebook / twitter anda.
Semoga anda mendapatkan pahala setelah membagikan artikel diatas, semoga setelah anda bagikan banyak bermanfaat buat semua orang, amin.

( Sampaikanlah walau satu ayat, untuk kebaikan kita semua )

Salah satu cara mencari pahala lewat internet adalah dengan menyebarluaskan artikel, situs/blog dan segala kebaikan yang diperoleh darinya kepada orang lain. Misalnya adalah kepada keluarga, sahabat, rekan kerja dan sebagainya.

Apa Pendapat Anda Tentang Artikel Diatas
Silahkan gunakan profile ( Anonymous ) jika anda tidak mempunyai Account untuk komentar

Jika anda ingin berpartisipasi ikut menulis dalam blog ini atau ingin mengirim hasil karya tulisan anda, membagikan informasi yang bermanfaat buat banyak orang lewat tulisan anda silahkan kirim tulisan anda ke email saya bagindaery@gmail.com
Tulisan anda akan dilihat dan dibaca oleh ribuan orang tiap harinya setelah anda mengirimkannya ke bagindaery@gmail.com