Rabu, 03 November 2010

Apakah Semua Orang Baik Akan Masuk Surga?

Tulisan ini saya angkat dari perspektif saya sebagai seorang muslim.

Kawan-kawan mungkin mengenal bunda Theresa? Ia merupakan sosok wanita yang sepanjang usianya dibaktikan untuk umat miskin di India. Bukankah ia orang yang baik? Apakah ia akan masuk surga? Lalu kawan-kawan juga pasti mengenal Mahatma Gandi, ia adalah sosok orang yang cinta damai yang selalu menggunakan cara yang lembut dan sabar dalam membela kemerdekaan rakyat India. Bukankah ia juga seorang sosok yang baik? Lalu apakah ia juga akan masuk surga? Lalu, bagaimana dengan sebagian dari milyaran umat manusia non-muslim yang baik hati, apakah mereka harus masuk neraka dibandingkan dengan milyaran umat muslim yang buruk perilakunya?

Ada satu jawaban yang singkat, jelas, dan tegas untuk pertanyaan tersebut, yaitu “Kalau memang akhlak dijadikan patokan oleh Tuhan untuk menentukan pantas tidaknya seseorang masuk surga, maka agama tidak diperlukan lagi di muka bumi ini”.

Kalau memang akhlak kriteria utama menentukan masuk surga atau tidaknya seseorang, maka untuk apalagi agama, karena tanpa agama saja orang bisa berbuat baik. Tidak usah jauh-jauh, pasti kita sering menemukan diantara teman atau tetangga kita akhlaknya sangat baik, ia mengaku beragama tapi tidak pernah sholat atau pun pergi ke gereja, nyatanya akhlaknya lebih baik dari umat islam yang rajin beribadah.

Sifat baik adalah fitrah yang diberikan Allah sejak kita di dalam kandungan. Fitrah (sifat-sifat baik) adalah kecenderunga manusia untuk berbuat kebaikan, seperti halnya binatang buas diberi Allah kecenderungan untuk bersifat buas, mereka akan tetap buas walaupun manusia berusaha menjinakkannya. Hawa nafsu dan pilihan manusia sendiri yang membuat seorang manusia menjadi jahat dan berperilaku buruk.

Dalam sebuah hadits qudsi Allah Swt berfirman : “Sesungguhnya Aku menciptakan hamba-hambaKu dalam keadaan hanif (lurus) semuanya. Dan sesungguhnya mereka didatangi oleh setan yang menyebabkan mereka tersesat dari agama mereka.” (HR. Muslim)

Allah menganugerahi manusia kesempatan untuk memilih yang baik atau yang buruk sesuai dengan firman Allah yang artinya : “Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan.” (QS. Al-Balad 90 : 10). “Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.” (QS. Al-Insaan 76 : 3).

Kemudian setan berusaha mengaburkan jalan yang benar sehingga jalan yang baik oleh manusia dikira sesat, dan jalan yang sesat dikira benar. Allah Swt berfirman dalam Al-Quran surat Al-Baqarah 2 : 216 : “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

Namun bukan untuk menyatakan bahwa akhlak yang baik tidak penting, atau menjadi muslim yang berperilaku buruk lebih baik daripada non-muslim yang baik hati, tetapi agar kita menyadari bahwa Tuhan tidak menuntut dari manusia sekedar akhlak yang baik, ada hal lain yang lebih utama dibandingkan akhlak.

Saat Rasulullah SAW sedang thawaf, beliau bertemu dengan seorang pemuda yang pundaknya lecet-lecet. Setelah selesai thawaf, Rasul bertanya kepada anak muda itu : “Kenapa pundakmu itu?” Jawab anak muda itu : “Ya Rasul, saya dari Yaman, saya mempunyai seorang ibu yang sudah udzur, saya sangat mencintai dia dan saya tidak pernah melepaskan dia. Saya melepaskan ibu saya hanya ketika buang hajat, ketika sholat, atau ketika istirahat, selain itu sisanya saya selalu menggendongnya.” Lalu anak muda itu bertanya : “Ya Rasul, apakah saya sudah termasuk ke dalam golongan orang yang berbakti kepada orang tua?”. Nabi Saw sangat terharu mendengarnya, sambil memeluk anak muda itu, beliau berkata : “Sungguh ALlah ridho kepadamu, kamu anak yang shaleh, anak yang berbakti, tapi anakku ketahuilah, cinta orang tuamu tidak akan terbalaskan oleh pengorbanan dan kebaikanmu.”

Dari hadits tersebut, kita mendapat gambaran bahwa amal ibadah kita ternyata tidak cukup untuk membalas cinta dan kebaikan orang tua kita terhadp aaknya. Kita merasa sudah cukup, tapi dalam perhitungan Allah nilai jasa kedua orang tua pada anaknya jauh lebih besar nilainya dari yang dibayangkan manusia. Pasti ada sesuatu perbuatan lain yang harus kita lakukan untuk memperbanyak balas budi kita kepada kedua orang tua kita. Diantaranya adalah dengan cara menjadi anak yang shaleh dan selalu mendoakan kedua orang tua kita.

Untuk membalas budi kedua orang tua saja kita tidak akan pernah sanggup, apalagi membalas kebaikan Tuhan yang mengkaruniakan kita fitrah kasih sayang pada kedua orang tua kita, yang mengkaruniakan kita mata yang mampu melihat, telinga yang mampu mendengar, lidah yang mampu merasakan kelezatan makanan, yang telah mengkaruniakan kita udara secara gratis.

Ada perspektif yang sama antara hadits tersebut dengan hadits berikut ini : Rasulullah Saw pernah berkata : “Amal sholeh yang kalian lakukan tidak bisa memasukkan kalian ke surga.” Lalu para sahabat bertanya : “Bagaimana dengan engkau Ya Rasulullah?” Rasul menjawab : “Amal soleh saya pun juga tidak akan cukup”. Lalu para sahabat kembali bertaya : “Kalau begitu dengan apa kita masuk surga?” Nabi kembali menjawab : “Kita dapat masuk surga hanya karena rahmat dan kebaikan Allah semata”. Jadi sholat kita, puasa kita, taqarub kita kepada Allah sebenarnya bukan untuk surga tetapi untuk mendapatkan rahmat Allah. Dengan rahmat Allah itulah kita mendapatkan surga Allah. Amal soleh yang kita lakukan sepanjang hidup kita (walau setiap hari puasa dan sholat malam) tidaklah cukup untuk mendapatkan tiket masuk surga. Amal soleh sesempurna apapun yang kita lakukan seumur hidup kita tidaklah sebanding dengan nikmat surga yang dijanjikan Allah. Surga itu hanyalah sebagian kecil dari rahmat Allah, kita masuk surga bukan karena amal soleh kita, tetapi karena rahmat Allah.

Apa makna dari kedua hadits tersebut di atas? Yaitu bahwa perbuatan baik (akhlak) dan ibadah kita ternyata tidak mampu untuk mendapatkan tiket ke surga. Hanya karena rahmat-Nya lah kita bisa ke surga. Akhlak dan amal ibadah juga tidak cukup menjamin kita terbebas dari api neraka, hanya ampunanNya lah yang bisa membuat kita terbebas dari api neraka. Karena itu kita diminta banyak memohon rahmat dan ampunan Allah.

Pertanyaan berikutnya adalah apa syaratnya agar doa kita untuk memohon rahmat dan ampunan Allah bisa diterima? Tidak semua orang diberi rahmat surga, dan tidak semua orang diberi ampunan dari ancaman neraka. Karena itu Allah menentukan syarat utamanya adalah beriman kepada-Nya dan rasul-Nya (melalui syahadat). Ia harus memiliki aqidah yang benar, memahami siapa Tuhan yang disembahnya dengan benar, apa yang dimauiNya, bagaimana cara mencintaiNya. Inilah syarat utama agar permohonan rahmat dan ampunan kita bisa diterima.

Apakah benar anggapan bahwa sifat Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang akan membuat Allah tidak mungkin (tega) menghukum orang yang baik hati?

Di akhirat kelak orang yang tidak beriman kepada Allah akan membawa amal kebaikannya ke hadapan Allah, tapi kemudian Allah tidak menerimanya, seperti tersebut dalam Al-Quran surat Al-Furqan ayat 23, “Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.”

Agar doa, ampunan, amal dan ibadah kita bisa diterima Allah hendaknya kita mengenal Allah secara baik, melalui perenungan dan makrifatullah. Kita pun sebagai hamba Allah perlu mencari tahu apa sebenarnya syarat utama yang diinginkan Allah agar segala amal ibadah dan akhlak baik kita diterima Allah. Tidak susah mengenal Allah karena karya-Nya ada di sekeliling kita, yaitu alam semesta ini, bahkan ia telah memperkenalkan diri-Nya pada manusia melalui kitab-kitab suci dan ajaran nab-nabiNya. Dengan mengenal Allah secara baik kita akan tahu bahwa Allah sangatlah penyayang, demikian sabar dengan kelemahan manusia, terlalu banyak kesalahan kita yang dimaafkan-Nya, bahkan kita akan tahu bahwa terlalu berlebihan kalau keimanan, amal ibadah dan kebaikan kita dibalas dengan surga yang luar biasa nikmatnya. Dengan hati yang bersih dan ilmu yang cukup juga akan memudahkan kita memahami mengapa Allah mengancam orang-orang tidak beriman dan yang buruk akhlaknya dengan neraka.

Memahami Allah dengan menggunakan kemampuan akal manusia adalah sia-sia, karena hakikat sifat Allah tidak dicerna oleh akal manusia, tapi oleh hati manusia. Hati manusia akan membantu kita memahami Allah, karena di dalam hati bersemayam fitrah manusia yang salah satunya memiliki sifat-sifat cinta kepada Allah. Hati pun perlu dibersihkan terlebih dahulu dari kotoran (sifat sombong, dengki, kikir, dan sebagainya) agar fitrah manusia bisa diaktifkan untuk memahami sifat-sifat Allah dengan baik.

Melalui pengenalan yang baik terhadap Allah melalui cara-cara yang diatur dalam Al-Quran dan hadits, akan kita temukan bahwa Allah mensyaratkan aqidah Islam yang benar sebelum segala amal ibadahnya diterima.

Aqidah adalah hal yang pokok yang membedakan Islam dengan agama lainnya. Aqidah adalah pondasi bangunan seorang umat Muslim, sedang ibadah (syariah) adalah dinding bangunan seorang muslim, lalu akhlak adalah atapnya. Tanpa pondasi maka ia pun tidak bisa mendirikan bangunan diri seorang muslim, tanpa aqidah yang benar dan lurus ia pun tidak pantas disebut seorang muslim. Tanpa ibadah yang sesuai syariah Islam, ia pun bleum sempurna untuk dikatakan sebagai sebuah bangunan yang bernama muslim. Demikian pula, tanpa atap yang bernama akhlak, bangunan yang bernama muslim ini belum utuh dan akan mudah rusak oleh hujan dan panas. Muslim yang baik wajib memiliki ketiga syarat ini (aqidah, ibadah, dan akhlak) secara lengkap, tidak kurang satu pun dan harus sempurna. Bila aqidahnya salah, maka kekal lah ia di neraka, bila ibadah dan akhlak buruk maka ia “mungkin” masih berpeluang masuk surga setelah disiksa terlebih dahulu di dalam api neraka.

Semoga kita tidak termasuk sebagai orang yang disiksa terlebih dahulu, apalagi kekal, di neraka. Mumpung masih hidup di dunia, semoga kita diberi ilmu oleh Allah Swt mengenai kedahsyatan akhirat dan neraka, supaya kita tidak menggampangkan diri untuk menganggap bahwa disiksa di neraka adalah bukan masalah besar. Tidak untuk sedetikpun! Naudzubillahi min dzalik!

Wallahua’lam

(disarikan dari tulisan M. Rahmatullah).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

1 SHARE DARI ANDA SANGAT BERHARGA BUAT BANYAK ORANG, SAMPAIKANLAH WALAU 1 AYAT, SEMOGA BERMANFAAT.

Jika anda merasa artikel diatas berguna dan bermanfaat bagi banyak orang, silahkan share / bagikan artikel diatas ke banyak orang lewat facebook / twitter anda.
Semoga anda mendapatkan pahala setelah membagikan artikel diatas, semoga setelah anda bagikan banyak bermanfaat buat semua orang, amin.

( Sampaikanlah walau satu ayat, untuk kebaikan kita semua )

Salah satu cara mencari pahala lewat internet adalah dengan menyebarluaskan artikel, situs/blog dan segala kebaikan yang diperoleh darinya kepada orang lain. Misalnya adalah kepada keluarga, sahabat, rekan kerja dan sebagainya.

Apa Pendapat Anda Tentang Artikel Diatas
Silahkan gunakan profile ( Anonymous ) jika anda tidak mempunyai Account untuk komentar

Jika anda ingin berpartisipasi ikut menulis dalam blog ini atau ingin mengirim hasil karya tulisan anda, membagikan informasi yang bermanfaat buat banyak orang lewat tulisan anda silahkan kirim tulisan anda ke email saya bagindaery@gmail.com
Tulisan anda akan dilihat dan dibaca oleh ribuan orang tiap harinya setelah anda mengirimkannya ke bagindaery@gmail.com