Minggu, 25 Juli 2010

Misteri Kawah Putih (tempat berkumpulnya para roh)



From: "Siska christya Sari" siska.christya@nissandiesel.astra.co.id



Konon katanya kawasan ini merupakan tempat berkumpulnya para roh halus para Prajurit Prabu Siliwangi yang Amoksa. Selain udara yang dingin, bahkan di sore hari bisa mencapai 0 derajat, suasana sunyi dan hening sangat terasa ketika memasuki Kawah Putih ini. Ditambah dengan lebatnya hutan di kanan dan kiri jalan menuju puncak kawah, semakin menambah kesan angker tempat ini.

Cerita lain Kawah Putih adalah tentang burung yang mati ketika melintas disekitar daerah ini, juga menjadi legenda tersendiri oleh masyarakat sekitar. Misteri Kawah Putih baru terungkap pada tahun 1837 oleh seorang Belanda peranakan Jerman yang bernama DR. Franz Wilhelm Junghuhn ( 1809-1864 ) ketika mengadakan perjalanan ke Gunung Patuha. Junghuhn yang tidak pecaya begitu saja terhadap cerita tersebut, terus berjalan menembus hutan belantara, sampai akhirnya menemukan danau kawah yang indah.

Kawah Putih adalah sebuah dari kawah Gunung Patuha dengan ketinggian 2434 meter dpl ( di atas permukaan air laut ) yang berjarak 46 km dari Bandung ( kea rah selatan ). Selain Kawah Putih yang berada pada ketinggian 2194 meter dpl di Puncak Gunung Patuha, masih ada kawah lagi yaitu Kawah Saat yag terletak di puncak bagian barat. Kedua kawah tersebut terbentuk akibat letusan pada abad X dan XII. Nama Patuha sendiri konon berasal dari kata “Patua” oleh karenanya masyarakat setempat menyebutnya dengan “Gunung Sepuh” ( baca : tua ). Lebih dari seabad yang lalu puncak gunung Patuha oleh masyarakat setempat dianggap angker, sehingga tak seorang pun berani menginjaknya, oleh karena itu keberadaannya dan keindahannya pada saat tersebut tidak diketahui oleh orang sampai akhirnya ditemukan Junghuhn.

Kawah Putih merupakan salah satu tempat tujuan wisata yang sangat favorit di daerah Bandung Selatan. Letaknya yang relatif mudah dijangkau baik menggunakan kendaraan pribadi maupun umum, serta keindahannya semakin menambah pesona tempat ini. Setelah melewati daerah Soreang yang cukup macet, kalau tidak mau dikatakan ruwet, kita akan dengan lenggang menuju Kawah Putih, paling-paling hanya berpapasan dengan satu atau dua kendaraan. Sekitar 4 kilometer menjelang pintu masuk Kawah Putih, kebun strawberi banyak bertebaran di kanan kiri jalan, bahkan beberapa rumah langsung membuat tulisan, “bisa memetik sendiri”. Bagi yang mau menikmati segarnya strawberi bisa mampir sejenak, tuk memetik buah ini secara langsung. Apalagi kalau kita sedikit mau menawar, harganya bisa lebih murah dari harga di pasar.

Setelah sekitar satu jam melewati jalan yang hanya cukup dilewati dua mobil saja, sehingga kita harus ekstra hati-hati kalau tiba-tiba berpapasan dengan mobil dari lawan arah, barulah kita sampai di pintu masuk Kawah Putih. Dengan tiket yang cukup murah, hanya Rp 3500,- per orang, kita bisa menuju puncak kawah. Ternyata puncak kawah masih 5 km dari pintu masuk pembelian tiket. Jalan yang sempit dan naik tajam, bahkan di salah satu tanjakan tertulis “Gigi satu” membuat kita harus waspada dan mematuhi rambu-rambu yang ada. Ketika rombongan kami melintas, ada beberapa mobil yang tidak kuat naik karena tidak mematuhi rambu yang ada. Penunjuk jalan yang menyertai kami, Benny mengatakan,”sepanjang jalan terjal ini kalau sore terkadang ada macan tutul yang melintas,”. Serunya, katanya macan tersebut bisa benar-benar macan atau bisa jadi macan jadi-jadian.

Di shelter terakhir tersedia tempat parkir yang cukup luas, bisa menampung kurang lebih 100 mobil dengan beberapa warung di pinggir lapangan. Setelah memarkir mobil, perjalanan diteruskan dengan berjalan kaki, jalan menanjak yang tidak terlalu tajam dengan panjang kurang lebih 100 meter. Setelah lima menit berjalan kaki, lapangan luas dengan kon block sebagai alas lapangan akan nampak di hadapan kita. Lagi-lagi cerita mistis dari Benny si pemandu mengatakan ,” tempat ini merupakan tempat bermain para anak jin, dan di pinggirnya ada sebuah tugu yang merupakan tempat berkumpulnya anak-anak jin tersebut setelah bermain. Di luar cerita tersebut, nuansa asri, yang tenang, kemduian diselingi oleh petikan gitar dengan lagu sundanya Pak Ayik, kita bisa bersantai sejenak duduk di bangsal kecil yang disediakan oleh pengelola yang terletak di pinggir lapangan. Dari lapangan kecil tersebut kita berjalan turun, untuk menuju kawah.

Setelah cukup lelah menempuh perjalanan, kita akan disuguhi oleh pemandangan menakjubkan yang memancar dari permukaan kawah. Dari jauh kawah tersebut nampak kebiruan, berkilau ketika diterpa sinar matahari, namun sebetulnya kawah ini berwarna putih. Sebuah kawah yang luas, dengan mengepulkan asap tipis dari permukaan airnya, serta dilatarbelakangi oleh dinding kapur yang terjal, betul-betul pemandangan yang jarang kita temui. Cerita mistis yang berkembang, bagi orang-orang tertentu yang mempunyai “kelebihan” bahwa dinding-dinding tersebut seperti pintu masuk untuk menuju sebuah kerajaan. Bahkan dinding sebelah barat dkatakan juga, merupakan tempat penyiksaan bagi para kawula yang tidak patuh terhadap titah Sang Raja. Air kawah sendiri terasa hangat ketika kita pegang, dan kalau mau coba dirasakan terasa asin dan pekat karena kandungan belerangnya. Kedalaman kawah sendiri tidak ada yang memastikan, barangkali sampai jauh ke dalam dasar bumi.

Di sekitar lokasi kawah, kita bisa menikmati keajaiban alam dan bisa mengambil foto-foto di samping area kawah. Angin yang lumayan kencang dan hawa yang sejuk, membuat suasana terasa nyaman untuk menikmati suasana. Pada hari-hari biasa, pengunjung yang datang tidak terlalu banyak, namun pada liburan panjang atau liburan sekolah, suasana sekitar kawah ramai sekali seperti pasar. Apalagi ditambah dengan banyaknya penjual buah strawbery di sekitar lokasi, serta penjual makanan semakin menambah riuhnya suasana. Fasilitas umum seperti MCK di lokasi ini pun lumayan bersih, sehingga bagi para pengunjung tidak perlu khawatir tentang masalah ini.

Sebagaimana cerita-cerita mistis yang berkembang, kuburan para sesepuh yang dianggap keramat juga terdapat di sekitar kawah. Seperti yang ditemukan oleh Kuncen Abah Karna, bahwa di Kawah Putih terdapat beberapa makam leluhur diantaranya : Eyang Jaga Satru, Eyang Rangga Sadeng, Eyang Camat, Eyang Ngabai, Eyang Barakhbak, Eyang Baskom dan Eyang Jambrong. Di salah satu puncak Patuha yaitu “Puncak Kapuk” merupakan tempat rapat para leluhur yang dipimpin oleh Eyang Jaga Setru. Di tempat ini konon sekali-kali suka ada penampakan ( secara ghaib ) sekumpulan domba berbulu putih yang oleh masyarakat disebut “Domba Lukutan”. Cerita-cerita mistis itu tentunya boleh dipercaya atau tidak, namun setidaknya bisa menmbah ketertarikan orang untuk berkunjung ke Kawah Putih. ( By AMGD )


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

1 SHARE DARI ANDA SANGAT BERHARGA BUAT BANYAK ORANG, SAMPAIKANLAH WALAU 1 AYAT, SEMOGA BERMANFAAT.

Jika anda merasa artikel diatas berguna dan bermanfaat bagi banyak orang, silahkan share / bagikan artikel diatas ke banyak orang lewat facebook / twitter anda.
Semoga anda mendapatkan pahala setelah membagikan artikel diatas, semoga setelah anda bagikan banyak bermanfaat buat semua orang, amin.

( Sampaikanlah walau satu ayat, untuk kebaikan kita semua )

Salah satu cara mencari pahala lewat internet adalah dengan menyebarluaskan artikel, situs/blog dan segala kebaikan yang diperoleh darinya kepada orang lain. Misalnya adalah kepada keluarga, sahabat, rekan kerja dan sebagainya.

Apa Pendapat Anda Tentang Artikel Diatas
Silahkan gunakan profile ( Anonymous ) jika anda tidak mempunyai Account untuk komentar

Jika anda ingin berpartisipasi ikut menulis dalam blog ini atau ingin mengirim hasil karya tulisan anda, membagikan informasi yang bermanfaat buat banyak orang lewat tulisan anda silahkan kirim tulisan anda ke email saya bagindaery@gmail.com
Tulisan anda akan dilihat dan dibaca oleh ribuan orang tiap harinya setelah anda mengirimkannya ke bagindaery@gmail.com