Selasa, 15 Juni 2010

Muhammadiyah vs NU : Siapa tradisional, siapa modern [?]

PRAKATA

Semacam Biografi Islam[ku]

Yang menulis postingan ini (Saya, Herianto) menjalani pendidikan dasar (SD) dan ibtidaiyah di sekolah berbasis NU. Pagi SD, siangnya ibtidaiyah di Lembaga Pendidikan berlabel Al-jami’atul Washliyah yang disebut berbasis NU tadi. Sebenarnya [mnurut saya sekarang, CMIIW] lembaga pendidikan ini tidak benar2 turunan/cabang dari NU, tapi keberpihakan terhadap mazhab Syafi’i dan kecendrungan membiarkan (tak meneruskan/menyempurnakan) bekas jejak (marhalah) dakwah “Wali Songo“, membuat saya tergoda untuk memasukkan Lembaga Pendidikan ini ke kelompok NU (NU like, sekali lagi CMIIW). Lalu pendidikan tingkat SLTP saya jalani di sekolah Muhammadiyah. Kalo ini saya yakin benar Muhammadiyah-nya, makanya tidak pake istilah “berbasis“ Muhammadiyah. Seperti yg kita ketahui, Muhammadiyah tidak menyandarkan diri ke salah-satu Mazhab Fikih yang ada, walaupun secara tersirat [menurut saya] kecondongan itu ada juga (ke Mazhab Maliki atau Hanafi ya? CMIIW). Lalu pendidikan selanjutnya (SLTA, Sarjana, Pascasarjana) saya ikuti di sekolah2 umum/sekuler (tidak berbasis agama).

Gejolak

Ada gejolak yang “tak nikmat“ yg saya rasakan di masa2 awal perkembangan pemahaman keagamaan (di sekitar usia 6 s/d 15 tahun). Ini berkaitan dengan perbedaan faham ke-“NU“-an Al-jami’atul Washliyah dan Muhammadiyah. Ada konflik, debat [kusir], saling sikut[-sikat], bahkan di tingkat grace root “grass root” terjadi aktivitas berantem alias tonjok2 an antar pendukung masing2. :-(

Kekaguman dan Kebencian

Sampe sekarang (alhamdulillah) saya masih mudah mengingat guru2 [agama] yg saya kagumi di masa-masa itu seperti berikut (sambil mengenang) : [Alm] Mu’allim Bajolli/Panusunan (pengajaran nahu-syaraf ustadz ini sampe sekarang masih mbekas, insya Allah), Mu’allim Husein (sekitar sebulan lalu di walimahan adik ktemu ustadz ini, sudah puluhan tahun tidak bertatap muka, subhanaLlah ustadz tidak lupa), Mua’llim/ustadz Yunus (Beliau ini dulunya termasuk ustadz muda, sekarang kabarnya sudah jadi Pengusaha sukses dan Politikus kawakan dari PPP di Sumut, masih dakwah kan ustadz ?), Mua’llim/ustadz Adek (Beliau ini juga di masa itu masuk kelompok ustadz muda, subhanaLlah ustadz ini bertahan/istiqamah di Sekolah lama saya itu sampe sekarang), dan [alm] bapak Yauman BY (Bapak ini guru sekaligus paman saya, “Ma’af maketek/keluarga, saya gak sempat menghadiri pemakaman itu, semoga Allah melapangkan peristirahatan dan menerima dengan ridha-NYA. saya sudah menerima jejak tulisan tangan langsung maketek tentang Islam dan Muhammadiyah yg belum sempat terpublikasikan itu). Dari yang tersebut di atas yaitu Mu’allim Panusunan, Mu’allim Husein, Mu’allim Yunus dan Mu’allim Adek adalah ustadz-ustadz dari pendidikan Al-jami’atul Washliyah (NU like), sedangkan bapak Yauman BY dari pendidikan Muhammadiyah. Kenapa lebih banyak mencantumkan (baca:mengagumi) ustadz-ustadz yang dari non Muhammadiyah, padahal pemikiran antum sekarang lebih dekat ke Muhammadiyah ? Jawab saya,“ Karena saya belajar di Pendidikan Al-jami’atul washliyah (NU like) tersebut secara formal bisa dikatakan terjalani selama 12 tahun (6 tahun paralel, SD+ibtidaiyah), sedangkan di Muhammadiyah hanya 3 tahun formal.

Tentu ada bahkan lebih banyak lagi mu’allim/ustadz/guru yang saya pantas kagumi di masa-masa itu. Tapi katakanlah, yang tersebut di atas adalah yang lebih membekas.

Di masa-masa ini terjadi kontradiksi antara kekaguman dan kebencian yang menimbulkan gejolak pribadi saya atas ’pemahaman’ tentang Islam. Saya (Herianto muda) seperti dipaksa (waktu itu) untuk memahami segala yang terjadi dengan arif. Tapi saya gagal. Fenomena gontok2 an antara 2 (dua) kelompok pemahaman itu (Alwashliyah vs Muhammadiyah) menoreh rasa kebencian khusus. Benci pada mereka2 yg bertikai “faham“.

Sayangnya kebencian itu tidak tersalurkan secara normal. Yang terjadi adalah saya jadi membenci apa pun formalitas bentuk implementasi Islam (katakanlah seperti jilbab, janggut, jidat istilah anak2 sekarang). Di tatapan mata saya semua itu seperti ”kemunafikan”. Apalagi setelah itu saya masuk ke SLTA sekuler (STM Negeri Pematangsiantar, Negeri Batak), dimana komunitas non muslim (di tempat itu) lebih berkuasa. Opini2 negatif tentang Islam yang digulirkan teman2 non muslim di sana, ditambah dengan kenangan ketidak-akuran antar kelompok Islam sendiri, cukuplah menjadi dalih bagi saya untuk menggemari pemahaman (buku2) sekuler yang sama sekali tidak meng-kaitkan pembahasan apa pun dengan masalah2 keagamaan. Untuk memenuhi kebutuhan pengetahuan tentang ‘moral’ dan pengembangan diri, saya hanya mau membaca (kebetulan hobinya membaca nih) buku-buku yg tidak mengkaitkan pembahasannya dengan agama. Bagi saya agama (waktu itu) adalah, BUSYET … Pencipta “konflik” [?]. Astaghfirullah…

PEMBAHASAN

Bukan Waktunya

Pesatnya perkembangan (penyebaran) pemahaman/pemikiran keagamaan (Islam) akhir-akhir ini sebenarnya [semestinya] menyiratkan satu kesimpulan, bahwa bukan saatnya lagi menghadapkan face to face antara : Muhammadiyah dan NU. Kenapa ? Karena [menurut saya, merujuk pada fiqul waqiyah] permasalahan nyata ummat [Islam] saat ini [kontemporer] yaitu tentang ketertinggalan ummat dalam banyak hal baik di pengamalan ajaran Islam itu sendiri maupun kancahnya di kehidupan ini, jauh lebih prioritas untuk dihadapi bersama, ktimbang ribut2 [misal semacam debat kusir apalagi debat kasar] yang tidak jelas manfaat dan penyelesaiannya.

Lalu Kenapa Judulnya ?

Ada satu hipotesa yang saya setujui yang menyatakan bahwa : pada suatu ketika setiap kelompok (pemikiran, jema’ah, gerakan) ummat yang ada saat ini akan mencapai satu titik kesimpulan (wasilah,manhaj) yg sama dari sejumlah perbedaan yang [masih] mereka miliki saat ini. Hipotesa ini [menurut saya] didukung oleh perkembangan Teknologi Informasi yang semakin pesat yang membuat ruang dialog (fasilitas saling pengaruh) semakin nyata, dekat dan meng-global.

Postingan ini hendak memperlihatkan bahwa batas-batas perbedaan antara Muhammadiyah dan NU (dalam hal gerakan pemikiran) semakin tak kentara, yang sekaligus dapat jadi rujukan dan/atau bagian fakta awal atas hipotesis di atas.

Muhammadiyah vs NU : Siapa modern, siapa yang kolot ?

Dahulu muhammadiyah dikenal sebagai organisasi (gerakan) Islam yang lebih modern ketimbang NU yang disebut2 organisasi Islam Tradisional. Ini sering dijadikan premis yang [kadangkala] dimanfaatkan oleh teman2 Muhammadiyah untuk memperlihatkan bahwa kelompoknya lebih baik (baca : lebih maju/modern). Kenapa ? Karena Muhammadiyah merasa lebih menggunakan pemahaman terbaru dalam hal pemikiran keagamaan [Islam] yang tidak condong ke mazhab tertentu (Entah kenapa sikap netral ini dahulu menjadi dianggap pilihan orang2 modern) dan lebih membuka pintu ijtihad (peran akal) di dalam fatwa2 keagamaannya. Lalu NU, kesan dominasi para Kiai (teokrat ?) dan optimalnya penggunaan kitab kuning (warisan ulama masa lalu) membuat kelompok ini wajar dimasukkan ke kelompok tradisional waktu itu.

Lalu apakah dikotomi seperti ini sekarang masih relavan ?

Ketika istilah Islam kontekstual diperkenalkan, dikotomi seperti ini mulai mencair. Fakta dan sejumlah kajian justru memperlihatkan bahwa Islam model NU jauh lebih kontekstual dibanding Islam model Muhammadiyah, yang justru bisa saja disebut lebih literal. Lalu ketika aliran kontekstual dikait2kan dengan suatu pemahaman yang modern dan literal dianggap sebagai pemahaman yang sifatnya ketertinggalan (kuno), maka dikotomi di atas menjadi berbalik. Muhammadiyah menjadi tradisional dan NU justru yang modern. Fenomena keterbalikan skor ini menjadi bertambah tajam ketika orang2 NU mengaku bahwa Islamnya adalah Islam substantif dan yang lain [kbanyakan] Islamnya masih Islam simbolik. Akibatnya bertambahlah “kecongkaan“ atas “pengakuan” ke-modern-an si NU. Ini wajar karena akibat dari julukan kekolotan (tradisional) sebelumnya membuat keterperanjatan mereka atas “titel baru“ modern itu membentuk sinyal “impuls“.

Selanjutnya ketika aliran dengan klasifikasi modern dianggap sebagai sesuatu yang lebih baik, maka sejumlah anak2 muda masa kini mulai mengalihkan perhatiannya ke Islam model NU. Istilah mereka Islam yang lebih meng-Indonesia dan tidak sok kearab-araban. Kelompok anak2 muda dari NU sendiri akhirnya membentuk grup (karena ternyata sebagian kiai NU merasa terusik dengan gebrakan mreka) yang [tentu saja] demi optimalnya gerakan pemahaman mereka lalu mempopulerkan istilah : Islam Liberal. Secara struktural, gerakan ini berlabel : JIL. Teman2 lain ada yang mem-plesetkan ini dengan kepanjangan : Jaringan Iblis Liberal. Ada benarnya sih, karena akibat dangkalnya kedalaman akal2 an sebagian dari mereka, iblis pun menjadi lebih mudah memainkan perannya. Yah…, dari sini jadi ketauan nih aliran pemikiran saya. Tapi kenapa ? Berikut alasannya.

Kontekstual vs Literal

Pada akhirnya pemilik postingan ini harus memperlihatkan pijakannya. Netral ternyata tak mesti dikaitkan dengan kebaikan apalagi pilihan modern. Bukankah prilaku “Bunglon” dan “Netral” seringkali memperlihatkan hasil yang sama, yaitu : fenomena “cari aman”.

Begini,

Ada dua kelompok ekstrim dalam hal ini. Ada yang ekstrim kontekstual dan ada yang ekstrim literal. Gerakan Islam Liberal adalah representasi dari ekstrim kontekstual, lalu teman2 yang menyebut dirinya dengan pengikut Salafy adalah representasi dari Islam literal. Biasanya para pendukung Islam liberal protes bahwa tidak semua mereka dominan (murni) di gerakan kontekstual, sebaliknya justru jarang sekali teman2 Salafy yang protes tentang tuduhan terhadap ke-literal-an mereka. Kenapa ? Karena pada umumnya mereka tidak mau tau dengan istilah literal tersebut, apalagi [mnurut mereka] tidak ada rujukannya dari ulama2 masa lalu (as-salaf) yang mereka “kultuskan”.

Mengacu ke hipotesis tersebut di atas, kedua kelompok ini pun [dihipotesa] suatu ketika akan “keluar” dari pemahaman ekstrimnya masing2, lalu mencapai satu titik “syar’i” bersama, yaitu terjadinya : konvergensi antara metoda kontekstual dan literal.

Manfaat Kebebasan (Liberal)

Kebebasan semestinya bermanfaat, tetapi ternyata kbanyakan dimanfaatkan. Hakekat kelompok liberal sesungguhnya bukan masalah kontekstual semata, ilham dari gerakan mereka tentu seperti dari rujukan namanya : liberal (bebas). Entah darimana asal-muasalnya, mereka2 yang ekstrim dari kelompok ini menjadi menafikan kepentingan amar ma’ruf nahi munkar. Istilah-istilah seperti : Kebenaran adalah milik Tuhan, sesama manusia jangan mem-vonis, Siapa yang tahu batas akal, dan sebagainya, dan sebagainya, sering dijadikan dalih bahkan larangan bagi orang lain untuk berdakwah (amar ma’ruf nahi munkar). Mulanya mereka2 ini sekedar melarang (menyebar opini negatif) dakwah dengan kekerasan, lama kelamaan mereka2 yg ekstrim dari kelompok ini juga mencemo’oh dakwah dialogis, terutama ktika ketersudutan “vonis-syar’i” tak mampu dilawannya dengan argumen akal yang mengaku tak tahu batasnya itu.

Perhatikan bahwa postingan ini berakhir dengan melupakan tema dikotomi : Muhammadiyah vs NU di atas.

Pengakhiran

[1] Muhammadiyah dan NU adalah 2 (dua) kelompok/organisasi Islam terbesar di negeri ini, kemudian belakangan muncul juga kelompok lain dalam bentuk jema’ah dan/atau gerakan. Citra positifnya adalah mereka bekerja, sedangkan citra negatifnya adalah : adanya fenomena saling serang/melemahkan.

Munculnya kelompok2 lain di luar Muhammadiyah dan NU di negeri ini semakin mengukuhkan (mempertajam) citra positif dan negatif di atas.

Kriteria kbaikan dalam hal ini [tentu] adalah seberapa banyak amal shaleh yang sempat dilakukan (fastabiqul khairat) dan seberapa mau kelompok2 itu bkerja sama.

Bersikap “Netral” bisa saja baik, tapi kalo tanpa amal [shaleh] dan sekedar mencari aman, tentu gugurlah kbaikan itu. Banyak fakta membuktikan, bahwa sulit sekali beramal-shaleh dengan optimal tanpa kerja-sama atau tanpa keberadaan kelompok struktural tersebut.

[2] Dominan berpikir semata (minim kerja) akan membuat keberadaan kita sia-sia, sebaliknya dominan bekerja semata (minim pikir) akan membuat kita kelihatan “dungu” di kerja-kerja itu. Yang pertama tersebut, sepertinya mirip dengan prilaku “ekstrim kontekstual”, sedangkan yang kedua terkesan merupakan prilaku “ekstrim literal”.

[3] Lupakan ketajaman perbedaan di dikotomi : Muhammadiyah vs NU. Ada permasalahan akbar yang lebih urgen dikedepankan. Apa itu? Kebodohan dan ketertinggalan ummat.

Dengarlah caci maki ini,”Ummat [Islam] kebanyakan luar biasa bodoh2 nya”. Puas…, puas ?!!!

:-)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

1 SHARE DARI ANDA SANGAT BERHARGA BUAT BANYAK ORANG, SAMPAIKANLAH WALAU 1 AYAT, SEMOGA BERMANFAAT.

Jika anda merasa artikel diatas berguna dan bermanfaat bagi banyak orang, silahkan share / bagikan artikel diatas ke banyak orang lewat facebook / twitter anda.
Semoga anda mendapatkan pahala setelah membagikan artikel diatas, semoga setelah anda bagikan banyak bermanfaat buat semua orang, amin.

( Sampaikanlah walau satu ayat, untuk kebaikan kita semua )

Salah satu cara mencari pahala lewat internet adalah dengan menyebarluaskan artikel, situs/blog dan segala kebaikan yang diperoleh darinya kepada orang lain. Misalnya adalah kepada keluarga, sahabat, rekan kerja dan sebagainya.

Apa Pendapat Anda Tentang Artikel Diatas
Silahkan gunakan profile ( Anonymous ) jika anda tidak mempunyai Account untuk komentar

Jika anda ingin berpartisipasi ikut menulis dalam blog ini atau ingin mengirim hasil karya tulisan anda, membagikan informasi yang bermanfaat buat banyak orang lewat tulisan anda silahkan kirim tulisan anda ke email saya bagindaery@gmail.com
Tulisan anda akan dilihat dan dibaca oleh ribuan orang tiap harinya setelah anda mengirimkannya ke bagindaery@gmail.com